Minggu, 08 Februari 2015

Bokura Ga Ita - Part 8



Selamat ulang tahun, Nanami
Selamat ulang tahun, sayang ...

Kenangan kita selalu ada di sana
17 tahun, aku masih muda, rentan dan tak berdaya
Membuat kesalahan yang sama, lagi dan lagi
Dan kau masih tetap saja tegar

Tapi, di sanalah kenanganku berakhir
Di tempat itu, saat usia kita masih 17 tahun
Dan karena itu berakhir di sana, hidupku seperti terhenti


*** 


          Chizu berlari-lari keci menghampiri Nanami yang tengah melenggang menyusuri trotoar. “Selamat. Aku dengar kau dipanggil untuk wawancara kerja.” Ia menghambur ke arah perempuan tersebut lalu merangkul pundaknya. Nanami tersenyum.
“Iya. Dari 10 surat lamaran yang ku kirim ke beberapa perusahaan, ini yang pertama kalinya aku mendapat panggilan wawancara.” Jawabnya.
“Semoga diterima.”
“Terima kasih.” Jawabnya lagi.
“Di perusahaan apa?”
“Periklanan.”
Mereka melangkah beriringan menyusuri pinggir jalan sambil mengobrol lagi.
“Bagaimana persiapan pernikahanmu?”
Chizu tersenyum dengan mata berbinar. “Sudah hampir selesai.” Jawabnya. Bulan depan, ia akan melangsungkan pernikahan dengan Shota. Mereka sudah pacaran sejak SMA dan mereka sepakat untuk mengikat janji suci yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi. Nanami turut gembira dengan berita tersebut, sangat.
“Kau dari stasiun lagi?” Chizu menatap Nanami dengan penuh selidik. Perempuan itu hanya tersenyum kecut.
“Nanami, ini sudah 5 tahun, sejak Yano pergi. Sudah saatnya kau melupakannya. Ia menghilang begitu saja tanpa jejak, tanpa kabar, itu berarti ia sengaja tak ingin ditemukan. Jadi, lupakan dia Nanami. Kau harus mulai menata hatimu lagi.” Ucap Chizu lirih. Nanami tak menjawab. Ia kembali merenung.
          Ya, sudah 5 tahun berlalu sejak Yano berangkat ke Tokyo. Awal keberadaannya di sana, mereka masih berkomunikasi dengan baik. Yano rajin menelponnya, mengiriminya email, mengiriminya foto kegiatannya selama sekolah di Tokyo, memberitahunya segala hal yang berkaitan dengan kehidupannya di sana, semuanya. Mereka rajin berkirim kabar. Tapi aktivitas itu ternyata tak bertahan lama karena beberapa bulan setelahnya, Yano makin jarang menelponnya. Terkadang ia membalas pesan singkatnya 3 hari sekali, lalu berubah menjadi seminggu sekali. Dan setelah itu, Yano hanya menelponnya sebulan sekali. Nanami selalu bertanya ada apa dengannya, tapi Yano memastikan bahwa ia baik-baik saja. Ia hanya terlalu sibuk mengurusi tugas-tugas sekolah dan persiapan ujian.
Dan tepat beberapa minggu menjelang ujian akhir, Yano berhenti menghubunginya. Ia tak lagi menerima kabar dari pemuda itu, sama sekali, sampai detik ini.
Nanami gagal masuk ke Universitas Tokyo, tapi beberapa kali ia datang ke Tokyo untuk mencari tahu tentang Yano. Ia datang ke sekolahnya, ke alamat rumah terakhir yang pernah ia berikan, tapi ia tak menemukannya. Yano menghilang begitu saja, tanpa jejak, tanpa kabar berita. Dan Nanami selalu pulang dari Tokyo dengan tangan kosong, kecewa.
“Aku tahu kau selalu datang ke stasiun setiap 3 atau 4 hari sekali. Kau harus segera menghentikannya, Nanami. Usahamu sia-sia. Pencarianmu selama ini ke Tokyo tak pernah membuahkan hasil. Penantianmu di stasiun juga hanya buang-buang waktu. Relakan dia, Nanami. Yano tak akan kembali.” Ucap Chizu lagi.
Nanami mendesah pelan.
“Aku hanya ingin tahu keadaannya, Chizu. Bahkan jika dia mencampakkanku, menemukan orang lain yang ia cintai, aku akan  tetap lega jika telah memastikan bahwa dia baik-baik saja.” Jawabnya.
“Aku hanya tak habis pikir, kenapa dia pergi begitu saja.” Desisnya, parau. Chizu mengelus pundaknya dengan lembut, mencoba untuk senantiasa memberinya semangat. Mereka saling pandang, tersenyum getir, lalu terus melangkah menyusuri trotoar.
“Oh iya, nanti malam Takeuchi sudah menyiapkan pesta kejutan untuk ulang tahunmu, di kafe biasanya.” Ucap Chizu kemudian. Nanami tertawa dan mengangguk. “Itu bukan pesta kejutan lagi. Aku toh sudah tahu. Setiap tahun ‘kan dia selalu melakukan hal yang sama.” ujarnya. Chizu ikut tertawa.
“Take adalah pemuda yang baik, Nanami. Dan kami semua juga tahu kalau ia menyukaimu, sejak dulu. Jika ada orang yang bisa membahagiakanmu, dialah orangnya.” Nada suara Chizu terdengar serius. Nanami menatapnya, tak kalah serius.
“Kami hanya teman, Chizu. Dan aku tak bisa menganggapnya lebih.” Jawabnya.
Dan mereka terus melangkah, tanpa berkata-kata lagi.

***  

          Pesta ulang tahun Nanami, yang masih saja disebut sebagai pesta kejutan meskipun yang berulang tahun sudah mengetahuinya, berlangsung dengan seru dan meriah. Take menyewa sebuah ruang VIP di kafe langganan mereka yang dihadiri beberapa teman SMA Nanami dan juga beberapa teman Take dari kantor tempat ia bekerja. Take bekerja di sebuah kantor pemasaran tempat tinggal. Nanami sering mengunjungi tempat kerjanya sehingga ia juga mengenal hampir seluruh rekan-rekan kerjanya.
“Kau mendapat panggilan wawancara ‘kan?” Take menyuapi Nanami dengan sesendok kue tart. Nanami menerima suapan tersebut lalu mengangguk.
“Selamat ulang tahun dan semoga kau sukses di wawancara tersebut.” Ucapnya lagi. Nanami tersenyum dan kembali mengangguk.
“Setelah ini, jangan pulang dulu ya. Ikutlah denganku ke suatu tempat. Ada yang harus kita bicarakan.”
Nanami menatap Take bingung. Tapi akhirnya ia mengangguk. Dan semua orang kembali berpesta, berkaraoke, dan makan sepuasnya.

***

          Nanami takjub luar biasa ketika ternyata Take mengajaknya mengunjungi mantan SMA-nya. Terlebih lagi ketika ternyata pemuda itu mengajaknya ke atap gedung. Memorinya segera flashback. Ia jadi teringat masa-masa SMA ketika ia suka merenung di sini, di atap ini, bersama Yano.
“Apa kau menyuap pak satpam agar mau membukakan pintu gerbang untuk kita?” tanya Nanami. Take hanya terkekeh.
Mereka berdiri bersebelahan di pagar balkon, menatap hamparan ruang kelas dan juga lapangan basket berikut lapangan bola voli.
“Bicaralah, Take. Ada yang ingin kau bicarakan ‘kan?” Nanami membuka suara setelah beberapa menit mereka larut dalam lamunan masing-masing. Terdengar Take menarik nafas panjang. Ia memutar tubuhnya menghadap Nanami. Perempuan itu juga melakukan hal yang sama.
Keduanya berpandangan.
“Nanami, tidakkah kau capek menunggu?” Take membuka suara.
Nanami mengernyit. “Hm?” ia terlihat bingung.
“Tidakkah kau capek menunggu Yano?” Take bertanya lagi. Yano?
Nanami mematung.
“Nanami, tinggallah bersamaku. Dia tidak akan muncul lagi di hadapanmu.” Ucapan Take membuat tubuh Nanami kaku.
“Apa ... maksudmu?” bibir perempuan itu bergetar. “Yano memang memang tak ada kabar, tapi aku yakin bahwa ia bukan tipe orang yang pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa. Kenyataan bahwa selama ini aku hilang kontak dengannya, bukan berarti bahwa ia sengaja tak ingin ditemukan. Aku percaya bahwa ....”
“Nanami, mempunyai keyakinan dan berpura-pura tidak melihat kenyataan adalah dua hal yang berbeda.” Potong Take. Pemuda itu meraih sesuatu dari dalam tasnya lalu menyodorkannya ke arah Nanami.
Nanami mengamati benda di tangan Take. Sebuah Arloji di dalam kotak tembus pandang.
Kaki perempuan itu gemetar. Ia ingat itu arloji siapa. Arloji itu ia yang beli, hadiah pertama kali yang dia beri untuk Yano!
“Apa maksudnya ini?” Ia menggumam lirih. Tangannya terulur dan meraih arloji tersebut. “Take ... apa maksudnya ini?” perempuan itu menatap Take.
“Ada sesuatu yang kusembunyikan darimu, Nanami.” Ucap Take dengan ragu.
“Apa?” Tanya Nanami penasaran.
Take tak segera menjawab.
“Sekitar empat tahun yang lalu, beberapa hari setelah ulang tahunmu yang ke-18, Yano menemuiku.” Ucapnya. Nanami menelan ludah.
“Dia takkan menemuimu lagi, Nanami. Dia sudah memutuskan untuk pergi, menempuh jalannya sendiri, meninggalkanmu.” Take melanjutkan.
Bibir Nanami bergetar. Kedua matanya berkaca-kaca.
“Kenapa? Apa ... yang terjadi ...?” Ia berucap lirih.
Take menggeleng.
“Dia memutuskan untuk meninggalkan semua kenangannya di kota ini, semua kenangannya tentangmu, tentang kita. Awalnya aku mengira, dia hanya butuh waktu untuk kembali ke sini. Tapi ternyata aku salah. Dia serius. Dia serius ingin pergi.”
Air mata Nanami menitik.
“Lupakan dia, Nanami. Dia takkan pulang ke sini lagi.” Take melanjutkan lagi.
Nanami limbung. Ia terisak.
“Apa salahku padanya, Take? Kenapa dia melakukan ini padaku?” ucapnya di sela isak tangisnya.
Take menghampirinya, meraih bahunya, lalu memeluk tubuhnya erat.  
“Mulai sekarang, kau bisa berbagi kesedihanmu denganku. Kau bisa berbagi keluh kesah denganku. Aku akan senantiasa di sisimu.” Ia berbisik di dekat telinga Nanami dengan pilu. Dan perempuan itu terus terisak di pelukannya.

***

5 tahun yang lalu ....

***

Nanami, setiap malam aku selalu bermimpi
Aku bermimpi pergi ke tempatmu
Akan ku taruh semua pakaianku di tas lalu aku pergi ke bandara
Penerbangannya memakan waktu satu setengah jam
Setelah tiba di bandara, aku naik bis menuju kota
Aku melewati lapangan hijau dalam 30 menit
Otanoshike, Tottori ...
Turun dari bis di depan Nisseki Juuji
Aku menyeberangi lampu pemberhentian, dan berlari melewati Kouseinenkin Hall
Berlari ke rumah Yanagimachi
Meninggalkan bawaanku di rumahnya lalu naik sepeda
Melewati taman
Aku terus melaju, lurus ...
Lurus
Ke tempatmu...
Lalu aku akan langsung menemuimu
Memelukmu, menangis di bahumu
Aku akan meminta maaf padamu
Lalu menceritakan segalanya padamu

Maaf karena aku tak bisa lagi menghubungimu
Maaf karena aku tak bisa lagi berkirim kabar padamu

Banyak hal telah terjadi
Beberapa bulan setelah sampai di Tokyo, ibu didiagnosa kanker
Ia dipecat dari pekerjaannya, kami tak punya uang lagi
Ibu keluar masuk rumah sakit
Aku terpaksa mengambil banyak pekerjaan
Tiga pekerjaan paruh waktu, sekaligus
Pulang sekolah aku bekerja paruh waktu di restoran
Malamnya aku bekerja di sebuah rumah makan cepat saji
Dan menjelang pagi, aku membantu mengantarkan susu dan koran
Aku sering tidak masuk sekolah, aku sering ikut ujian susulan
Nilaiku jelek

Maafkan aku, Nanami
Maafkan aku

***

          Yano! Yano!
          Yano tergagap. Seseorang mengguncang bahunya hingga ia terbangun dari tidurnya. Segera pemuda itu bangkit. Kepala pelayan di restoran tempat ia bekerja telah berdiri di sisinya.
“Bangunlah. Waktu istirahatmu sudah selesai. Kau harus segera kembali bekerja.” Ucapnya. Yano mengangguk. “Baik pak.”  Jawabnya seraya merapikan alat-alat tulisnya yang berserakan di meja yang berada di ruang istirahat.
          Waktu istirahat 30 menit, sebenarnya ia berniat memanfaatkannya untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolah, tapi apa boleh buat, ia malah ketiduran.
Setelah merapikan alat-alat tulisnya, cowok itu bergegas mencuci muka, lalu segera kembali bekerja melayani para tamu di restoran.

***

          Yano menatap nilai hasil ujian yang di pasang di papan pengumuman dengan muka kusut. Nilainya turun lagi.
“Kau tidak akan lulus kalau nilaimu seperti ini.” Aki, teman baiknya selama di Tokyo sekaligus teman satu kelasnya, berdiri di sisinya sambil menatap Yano dengan miris. Yano menarik nafas panjang. “Aku tahu.” Jawabnya singkat.
“Kau harus mengurangi kerja paruh waktumu agar kau punya cukup waktu untuk belajar. Lagipula, lihatlah, kau pucat. Dan kau makin kurus. Ingat, beberapa minggu yang lalu kau tiba-tiba pingsan di ruang kelas. Petugas UKS mengatakan kau kelelahan. Jadi, jangan terlalu memaksakan diri, Yano.” Ucap Aki lagi.
Yano menatap cewek di sampingnya lalu tersenyum.
“Terima kasih. Aku akan baik-baik saja.” Jawabnya. Tapi berhenti dari pekerjaanya adalah hal yang mustahil ia lakukan karena lusa ibunya harus pergi lagi ke rumah sakit, dan ia akan selalu berusaha sekuat tenaga untuk mencari biaya.
“Lusa ibuku harus kembali ke rumah sakit, jadi ....” kalimat Yano terhenti ketika tiba-tiba saja ia limbung lalu ambruk di lantai. Anak-anak berteriak lalu berhamburan mendekatinya.
Beberapa anak laki-laki dengan sigap mengangkat tubuhnya lalu segera melarikannya ke ruang UKS.

***

          Ketika Yano membuka mata, ia menemukan dirinya di ruang klinik dengan jarum infus tertancap di tangannya. Ia menemukan Aki dan beberapa temannya menungguinya.
Pemuda itu bangkit.
“Oh, kau sudah sadar?” Aki berseru. Beberapa temannya mendekatinya.
“Kau kelelahan dan dehidrasi. Jadi kau terpaksa di infus.” Mereka menjelaskan.
“Jam berapa sekarang?” Yano bertanya.
“5 sore.” Aki menjawab. Yano membelalak.
“Aku harus bekerja.” Jawabnya. Pemuda itu mencoba turun dari tempat tidur, tapi beberapa temannya menahannya.
“Ijin dulu untuk satu hari, kesehatanmu lebih penting.”
“Tapi ...”
“Aku sudah telpon ibumu kalau kau ada kegiatan mendadak di sekolah. Jadi tenanglah, ia takkan khawatir. Yang penting, kau harus pulih dulu. Oke?”
Yano menatap meraka satu persatu dengan tatapan protes.
“Jangan khawatir soal biaya. Kami mendapatkan bantuan dana dari sekolah.” Aki menjelaskan kembali. Dan Yano tak punya pilihan selain tinggal semalam di klinik dan menghabiskan beberapa botol infus.

***
         
          Ibu Yano sudah berangkat duluan ke rumah sakit dengan naik taksi ketika Yano sampai di rumah, sepulang kerja. Pemuda itu segera merapikan beberapa baju dan peralatan mandi untuk segera dimasukkan ke dalam tas ranselnya. Hari ini ibunya akan menjalani kemotherapy yang ke 3, total dari 9 kemo yang direncanakan. Dan sudah bisa dipastikan, ia akan tinggal di rumah sakit selama 2 atau 3 hari.
          Setelah acara berkemas-kemas beres, pemuda itu segera beranjak, bermaksud untuk segera menyusul ibunya ke rumah sakit. Tapi begitu membuka pintu rumahnya, tubuhnya mematung. Ia menyaksikan sesosok perempuan mungil berdiri di depannya.
“Yuri?” Ia memanggil lirih. Cewek itu tersenyum. Ia menyapa dengan ragu.
“Kenapa kau bisa di sini?” Yano langsung bertanya.
“Aku pindah ke Tokyo, sejak beberapa bulan yang lalu.” Jawabnya.
“Sekolahmu?”
“Aku berhenti sekolah. Sekarang aku bekerja, di sebuah toko roti. Ibuku juga ikut bersamaku.”
Yano mengernyit.
“Berhenti sekolah? Kenapa kau lakukan itu?” Ia bertanya kesal. Yuri terdiam sesaat.
“Aku melakukannya untukmu.” Jawabnya kemudian. Yano melongo.
“Aku sengaja ke Tokyo untuk mengikutimu. Dan hal yang tidak mungkin untukku untuk terus bersekolah. Kau tahu sendiri ‘kan? Biaya hidup di Tokyo mahal, sementara ibuku sakit-sakitan. Jadi aku memutuskan untuk bekerja saja.” Ia melanjutkan.
Yano menatap perempuan di hadapannya dengan jijik.
“Aku tak peduli apa alasanmu pindah ke sini. Tapi ku harap, jangan menemuiku lagi.” Yano membanting pintu lalu beranjak meninggalkan Yuri dengan langkah cepat.
“Yano?” Cewek itu memanggil.
Yano berbalik.
“Aku membencimu! Kau dengar? Jadi jangan menunjukkan mukamu lagi dihadapanku!” Ia kembali berteriak sebelum akhirnya kembali melangkah, menuju stasiun kereta.

***

          Ibu Yano tengah berbaring di ranjang ketika sosok perempuan yang terlihat 10 tahun lebih tua darinya itu memasuki kamarnya.
“Apa kabar, Yoko?” Perempuan itu menyapa.
Yoko, ibu Yano menatapnya dengan tatapan terkejut.
“Untuk apa kau kemari?” Yoko bertanya sinis. Perempuan setengah baya di hadapannya itu tersenyum.
“Jadi kau masih ingat padaku?”
Yoko tertawa. “Michiko, tentu saja aku masih ingat padamu. Kenapa kau kemari? Ingin bersorak atas apa yang menimpaku?” sindirnya.
Perempuan yang dipanggil Michiko itu tersenyum lembut.
“Aku sudah tahu semua yang menimpamu, Yoko. Aku juga sudah tahu tentang penyakit kanker hati yang kau idap. Jadi, aku datang ke sini untuk memberimu maaf.” Jawabnya.
Yoko menatap perempuan itu dengan tatapan menusuk.
“Aku memaafkan semua perbuatanmu. Aku memaafkan perselingkuhanmu dengan suamiku. Kita sudah sama-sama tua, tak ada gunanya menyimpan dendam satu sama lain. Terlebih lagi karena Kazuya sudah meninggal sekitar 2 tahun yang lalu. Aku memaafkannya, dan juga memaafkanmu.” Ucapnya.
Yoko membelalak.
“Kazuya meninggal?” Ia bertanya. Michiko mengangguk.
“Karena sakit.” Jawabnya.
“Aku sengaja mencarimu, mencari keberadaan putera, putera Kazuya. Di mana aku bisa menemuinya? Yano Motoharu.” Ia melanjutkan.
“Kenapa kau ada perlu dengan puteraku?”
Michiko tak segera menjawab.
“Yoko, aku akan menanggung semua biaya pengobatanmu. Tapi, berikan Yano padaku.” Ujarnya kemudian. Yoko melotot.
“Apa maksudmu?”
“Aku dan Kazuya tidak memiliki keturunan. Jadi, aku membutuhkan Yano sebagai penerus keluarga kami. Aku ingin dia menyandang nama keluarga ayahnya. Dan yang terpenting lagi, ada beberapa perusahaan peninggalan Kazuya yang harus diambil alih oleh ahli warisnya yang syah.” Ucapnya lagi.
“Jadi ...”
“Tidak.” Yoko menjawab cepat.
“Bahkan jika kau menawarkan seluruh uangmu, harta kekayaanmu, aku tidak akan memberikan Yano padamu. Dia puteraku, hanya puteraku, dan satu-satunya keluarga yang kumiliki. Ia akan selalu menyandang nama keluargaku, bukan nama keluarga ayahnya. Jadi, jangan pernah terpikir untuk mengambilnya dariku.” Ia berucap dengan tegas dengan tatapan lurus ke arah Michiko.
“Pergilah, Michiko. Jangan datang kemari lagi.”
Michiko menarik nafas panjang.
“Semoga kau mau memikirkannya lagi. Hubungi aku jika kau berubah pikiran.” Michiko beranjak.
          Ia menutup pintu dari luar dengan perlahan. Langkahnya urung ketika ia menyaksikan sesosok pemuda jangkung berdiri bersandar di samping pintu. Mereka bertatapan.
“Yano Motoharu?” Michiko bertanya langsung. Yano mengangguk.
“Kau ... mendengar semua yang kami bicarakan tadi?”
Yano kembali mengangguk.
“Bisa kita bicara sebentar?” Michiko bertanya dan lagi-lagi Yano hanya mengangguk.
Mereka melangkah menuju kantin rumah sakit.
          “Kau seperti ayahmu. Tinggi, tampan dan sopan.” Michiko membuka suara.
Yano hanya mengangguk, berterima kasih.
“Seperti yang sudah kau dengar. Aku berniat membiayai pengobatan ibumu. Aku juga akan membiayai pendidikanmu, sampai perguruan tinggi. Kau boleh bersekolah dimanapun yang kau inginkan. Tapi, ikutlah bersamaku dan jadilah anakku. Bagaimana?” Michiko bertanya dengan sopan.
Yano tersenyum tipis.
“Terima kasih atas niat baik anda. Tapi seperti yang sudah anda dengar dari ibuku, nama belakangku adalah nama belakang ibuku. Jadi, saya adalah anak yatim. Saya tidak punya ayah. Saya mohon, jangan temui ibu saya lagi. Dia sedang tidak sehat. Saya tidak ingin kesehatannya makin terganggu. Mohon pengertiannya.” Yano membungkuk dengan hormat. Michiko menelan ludah. Kecewa. Tapi perlahan ia tersenyum.
“Jika kau butuh sesuatu, kau bisa datang padaku, kapanpun kau mau. Ya?” ia berucap lembut. Yano mengangguk lagi. “Terima kasih.” Ucapnya.

***

          Yano menatap tiket pesawat di tangannya dengan mata berbinar. Bibirnya tak berhenti tersenyum. Ia sudah menunggu saat ini selama berbulan-bulan. Ia juga sudah mati-matian menyisihkan gajinya demi bisa membeli tiket ini. Lusa, Nanami ulang tahun. Dan ia akan kesana, mengunjunginya, memberinya kejutan.
“Ibu, aku ingin ke Sapporo. Aku ingin mengunjungi Nanami, 2 hari saja. Lusa ia ulang tahun.” Ia meminta ijin pada ibunya ketika sore itu mereka makan bersama di meja makan.
Ibunya menatapnya tajam. Ia bangkit.
“Tidak. kau tak boleh ke sana.” Ia setengah berteriak. Yano bangkit.
“Kalau begitu, sehari saja bu. Aku akan ke sana, lalu menemuinya sebentar, kemudian segera kembali lagi ke sini. Ya?” Yano memohon.
Ibunya menggeleng.
“Tidak! Kau pasti ingin menemui Michiko ‘kan? Kau ingin pergi ke rumah ayahmu ‘kan?”
Yano menarik nafas panjang.
“Ibu, aku akan menemui Nanami. Bukan keluarga ayahku.” Jawabnya.
“Bohong! Kau pasti akan menemui mereka. Kau akan ikut mereka ‘kan? Kau akan meninggalkanku ‘kan? Tidak, aku tidak mengijinkanmu.” Ibu Yano berlari ke arah pintu, menarik beberapa kursi lalu mendorongnya ke arah pintu.
“Kau tidak boleh pergi! Kau tidak boleh bertemu ayahmu!” Ia berteriak, histeris. Yano mendekatinya.
“Aku tidak akan meninggalkanmu, ibu. Aku janji. Aku hanya akan menemui Nanami karena ia ulang tahun. Itu saja!” ia juga ikut berteriak.
“Bohong! Kau pasti ingin menelantarkanku seperti yang dilakukan ayahmu! Kau akan meninggalkanku sendirian demi uang yang ditawarkan Michiko padamu! Ya ‘kan?”
“Kenapa ibu tak percaya padaku! Aku satu-satunya anakmu, satu-satunya keluargamu, aku tidak akan menelantarkanmu!” Yano menarik kursi di belakang pintu lalu mengembalikannya ke tempatnya semua. Wajahnya merah padam karena marah.
“Aku tidak percaya padamu! Kau pasti seperti ayahmu yang menelantarkanku sendirian!”
“Sudah ku bilang aku tidak akan melakukannya! Kenapa sulit bagi ibu untuk mempercayaiku!” Yano menendang daun pintu dengan keras, lalu melangkahkan kakinya keluar apartemen dengan  amarah. Ia hanya melangkah, tak tentu arah.
Ia baru saja sampai di anak tangga yang terakhir ketika ia mendengar orang-orang yang tinggal di kawasan apartemennya mulai ribut.
“Ada seseroang jatuh! Panggilkan ambulan!” Mereka berteriak silih berganti.  
Yano mendongak, menatap kamarnya yang berada di lantai 3. Dan seketika kakinya lemas. Jendela kamarnya terbuka.
“Ya Tuhan, ibuuuuuu!!”

***

Upacara pemakaman ibu Yano berlangsung sepi. Hanya dihadiri beberapa petugas pemakaman dan beberapa teman Yano, termasuk Aki.
“Kami turut berbelasungkawa,Yano.” Ia memeluk Yano dengan erat sambil menepuk-nepuk punggungnya. Yano hanya mengangguk, tanpa mampu berkata-kata. Semalam, ia sudah menangis tanpa henti. Suaranya habis, begitu pula air matanya.
Setelah pemakaman selesai, pemuda itu segera kembali ke apartemennya dengan gontai. Kini, ruangan itu sepi.
Ia mengeluarkan sebuah lilin, meletakkannya di lantai, lalu menyalakannya.

Selamat ulang tahun, Nanami...
Selamat ulang tahun yang ke-18, sayang ...
Maaf, aku tak bisa menemuimu....

          Yano meniup lilin tersebut hingga padam. Air matanya menitik. Bersamaan dengan padamnya lilin tersebut, kehidupannya seperti terhenti.

***

Bersambung....

Rabu, 04 Februari 2015

Bokura Ga Ita - Part 7

          Nanami menatap bangku Yano yang kosong. Sudah 3 hari ini ia tak masuk sekolah. Berdasarkan surat ijin yang ia kirimkan, ia tak masuk karena sakit. Sebenarnya Nanami khawatir. Ia ingin segera berlari ke rumah Yano dan melihat keadaannya. Tapi begitu mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, ketika Yano membatalkan janji kencan dengannya hanya untuk menemani Yuri di rumah sakit, amarahnya kembali membuncah. Ia masih belum bisa terima. Mengingat apa yang pernah terjadi antara Yuri dan Yano di masa lalu, perasaan Nanami campur aduk. Cemburu, benci, marah, semuanya jadi satu. Hanya dengan mengingatnya saja, luka di hatinya seperti kembali ternganga.
“Kau tak ingin menjenguk Yano?” Mizuhara menanyakan hal yang sama seperti yang di tanyakan Chizu maupun Take sejak beberapa saat yang lalu.
Nanami menggeleng.
“Nanami?”
“Dia akan baik-baik saja. Yano akan baik-baik saja.” Potong Nanami. Ia bangkit, meninggalkan kedua rekannya yang menatapnya dengan tak mengerti.

***

          Sosok itu masuk ke kamar Yano dengan canggung meskipun ibu Yano sudah mempersilakannya dengan ramah. Yano hanya menatapnya sekilas lalu kembali membuang pandangannya ke luar jendela. Ia tak beranjak dari atas tempat tidur.
“Bagaimana keadaanmu? Sudah membaik?” Yuri bertanya dengan ragu.
Yano tak segera menjawab. “Baik.” Jawabnya kemudian tanpa melihat ke arah Yuri.
Yuri duduk dengan bimbang. Hening sesaat. Kemudian ia membuka tas nya dan mengeluarkan sebuah buku catatan.
“Aku sudah membuatkanmu rangkuman pelajaran selama kau tak masuk. Sebentar lagi ujian, aku tak ingin kau ketinggalan pelajaran.” Yuri meletakkan buku itu di atas meja. Yano tak menjawab.
“Aku juga membawakanmu soal-soal latihan untuk ujian nanti dan ...”
“Pergilah, Yuri.” Ucap Yano lirih.
Yuri menatap cowok itu dengan bingung. Cowok yang bicara tanpa melihat  ke arahnya.
“Pulanglah. Dan tolong, jangan datang kemari lagi.” Ucapnya lagi.
“Kenapa?” Yuri memberanikan diri untuk bertanya.
“Karena aku tak mau pacarku marah jika ia sampai melihatmu di sini.” Jawab Yano.
“Tapi ...”
“Pulanglah.”
          Yuri menggigit bibirnya dengan sedih. Cewek berkaca mata itu bangkit, meraih tasnya lalu segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar Yano tanpa mengatakan apapun. Yano tetap tak melihat ke arahnya.

***

          Nanami termangu di depan rumah Yano. Ia menatap ke arah kamar Yano yang jendelanya tertutup. Ia ingin menekan bel untuk bertamu, tapi ia ragu. Jujur ia khawatir dengan keadaan cowok itu, ia ingin tahu Yano sakit apa, ia ingin tahu keadaannya. Tapi, lagi-lagi ia belum bisa mengenyahkan kemarahannya. Ia masih marah karena cowok itu mengabaikannya. Mengabaikannya hanya untuk menemani Yuri di Rumah sakit!
Tapi, ia tak bisa berhenti mengkhawatir cowok itu. Tak pernah bisa.
          Nanami menarik nafas sesaat lalu mengulurkan tangannya untuk memencet bel. Tapi belum sempat jemarinya menekan, pintu rumah terbuka, dan ia melihat sosok cewek berkaca mata itu keluar dari sana. Yuri.
Nanami mundur beberapa langkah. Yuri menatapnya sekilas lalu kembali melangkahkan kakinya hingga mereka berpapasan.
“Untuk apa kau ke sini?” Tanya Nanami. Yuri menghentikan langkahnya lalu menatap Nanami dengan dingin.
“Menjenguk Yano.” Jawabnya singkat.
“Tinggalkan dia, Yuri. Jangan pernah menemui Yano lagi. Jangan pernah berdekatan lagi dengannya!” Nanami setengah berteriak. Tatapan Yuri tajam.
“Kenapa aku harus melakukannya?”
“Karena dia adalah pacarku. Dan aku tak suka kau selalu hadir di antara kami.” Jawab Nanami tegas.
Yuri tersenyum sinis.
“Kau bahkan belum ada setahun menjadi pacarnya, tapi lagakmu seolah kaulah yang paling pantas mendampinginya. Jika ada orang yang paling pantas bersamanya, orang itu adalah aku. Kenapa? Karena aku lebih mengenalnya daripada kau. Aku mengenalnya sejak kecil, aku bersamanya ketika dia jatuh, aku bersamanya ketika hatinya terluka. Aku bahkan bersamanya ketika kakakku mencampakannya, aku juga masih bersamanya ketika dia memikirkan cewek lain. Kau tahu kenapa kau mau melakukannya? Karena aku mencintainya apa adanya! Aku mencintainya, dengan semua masa lalunya!” Cewek itu berteriak.
Kaki Nanami terasa terpaku di tanah. Ia mematung.
Mencintainya apa adanya... Mencintainya dan juga masa lalunya...
“Bisakah kau melakukannya? Bisakah kau melakukan apa yang telah kulakukan padanya? Tidak ‘kan? Kau bahkan menjauh darinya ketika ia mengatakan semua masa lalunya. Kau bahkan meninggalkannya ketika hatinya hancur. Kau tak pantas mendapatkannya, Nanami! Kau tak pantas bersamanya!” Yuri kembali berteriak.
“Yuri, jangan berteriak seperti itu pada Nanami.”
Yuri dan Nanami menoleh. Take berdiri tak jauh pada mereka.
“Tidakkah kata-katamu itu keterlaluan?” Cowok itu mendekatinya. Yuri menatapnya dengan tajam lalu berbalik, melangkahkan kakinya meninggalkan mereka berdua.
Take menatap Nanami yang masih tampak syok. Kedua matanya berkaca-kaca.
“Nanami, jangan pedulikan kata-kata Yuri. Dia ...”
Kalimat Take terhenti ketika tiba-tiba ia mendengar jendela dari kamar Yano terbuka. Serta merta Nanami berjingkat, lalu menyembunyikan dirinya di balik pagar sehingga ia tak terlihat dari kamar Yano.
“Take? Untuk apa kau berdiri di situ?” Yano melongokkan kepalanya dan menatap langsung ke arah Take. Take hanya meringis. Ia melirih ke arah Nanami sesaat.
“Aku ingin menjengukmu.” Jawabnya. Yano tertawa lirih.
“Woa, kau manis sekali. Tapi pulanglah. Aku tak apa-apa. Hanya terkena flu saja. Tak perlu masuk ke sini. Kau bisa ketularan flu-ku.” Ucap Yano. Ia melihat sekelilingnya.
“Apa kau datang sendiri? Kau tak bersama Nanami?” Ia bertanya lagi tanpa ragu.
Take melirik ke arah Nanami, cewek itu menggeleng.
“E, tidak. Aku datang sendiri.” Jawab Take kemudian. Yano manggut-manggut.
“Ya sudahlah. Tak apa-apa. Pulanglah, Take.” Yano menutup jendela. Tapi  baru beberapa detik, jendela kamarnya kembali terbuka.
“Ada apa lagi? Tutuplah jendelanya. Nanti flu-mu makin parah.” Ucap Take. Yano menatapnya bingung.
“Take, aku benar-benar tak tahu caranya.” Ujarnya. Take mengernyit.
“Tak tahu caranya, apa?”
“Aku tak tahu bagaimana caranya untuk selalu bersama Nanami tanpa harus menyakitinya.” Jawab Yano.
Take terdiam. Ia melirik lagi ke arah Nanami, sesaat.
“Aku selalu saja salah mengambil keputusan. Alih-alih membuatnya bahagia, aku malah selalu menyakitinya.” Kali ini kalimat Yano terdengar lebih lirih. Tapi baik Take maupun Nanami yang terus bersembunyi di bawah pagar, tetap bisa mendengarnya dengan jelas.
“Kepercayaan diriku luntur, Take. Aku takut.” Lanjutnya.
Take terkekeh demi bisa mencairkan suasana.
“Kenapa tak percaya diri? Kenapa harus takut? Toh ini bukan yang pertama kalinya bagimu punya pacar. Ya ‘kan?” Ujarnya.
Yano terdiam.
“Kau benar, Take. Tapi ini untuk pertama kalinya ....” Ia menarik nafas panjang. “Ini untuk pertama kalinya aku takut. Aku takut tak bisa membuat Nanami bahagia.” Jawabnya.
Hening.
Nanami merasakan air matanya menitik. Ia meringkuk di bawah pagar sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Ah, sudahlah, Take. Pulanglah. Aku akan segera membaik. Sampaikan salamku pada Nanami kalau kau bertemu dengannya.” Yano menutup jendela.
Take menatap Nanami. Tampak cewek itu tengah menahan isak tangisnya.

***

          Ibu Yano mendekati Yano dan menyentuh keningnya dengan lembut. “Tuh ‘kan? Panasmu sepertinya naik lagi. Jangan membuka jendela lagi ya. Cuaca di luar sedang tidak bagus.” Perempuan itu mengomel sambil merapikan selimut Yano.
“Ibu, apa Nanami tidak datang kemari?” Yano bertanya.
Ibu Yano menggeleng.
“Ah, dia tega sekali ya. Aku ‘kan masih pacarnya. Harusnya sebagai pacar yang baik, dia menjengukku ‘kan?” Ia mengomel. Ibu Yano menarik nafas panjang. Perlahan ia bangkit, keluar dari kamar Yano, dan beberapa saat kemudian ia kembali membawa sekeranjang buah-buahan.
“Untukmu.” Ucapnya. Yano menatap ke arah keranjang di tangan ibunya.
“Bukan dari Yuri ‘kan?”
Ibunya menggeleng.
“Dari Take?”
Ibunya kembali menggeleng. “Dari Nanami.” Jawabnya kemudian. Yano bangkit seketika.
“Dia kemari?”
Ibunya mengangguk. “Iya, tadi. Berbarengan dengan Take.” Jawabnya.
Yano menyibakkan selimutnya, melonjakkan kakinya dari tempat tidur, lalu segera berlari dari kamarnya. Ia keluar dari rumah, menerjang hujan salju, dengan bertelanjang kaki.
“Yano, jangan seperti itu. Masuklah.” Ibunya berlari mengejarnya sambil membawakan jaket. Yano menatap ke arah ujung jalan secara bergantian. Berharap ia masih menemukan sosok Nanami.
“Ia sudah pergi sejak 15 menit yang lalu. Saat ini, pastilah ia sudah naik bis.” Ucap Ibu Yano sambil melingkarkan jaket yang dibawanya ke tubuh Yano.
“Masuklah. Flumu bisa tambah parah.”
“Tapi, bu ...”
“Masuklah. Ada yang harus kita bicarakan.” Ibunya berucap lagi hingga membuat Yano tak punya pilihan selain mengikuti ibunya kembali ke kamar.

***

          “Kita akan pindah ke Tokyo.”
Ucapan ibunya membuat Yano mematung di tempat tidurnya. “Pindah?” Ia mengulangi kata itu. Ibu Yano mengangguk.
“Pindah. Kau dan aku.” Ia memastikan.
“Kenapa? Sekolahku ‘kan tinggal satu tahun lagi.” Yano menatap ibunya dengan tak mengerti. Perempuan itu duduk di sisi tempat tidur Yano dan menatap putranya dengan dalam.
“Ibu di pecat. Ibu tak punya pekerjaan lagi, dan ibu juga tak punya tabungan. Kontrakan rumah ini akan berakhir bulan depan. Jadi, kita harus pergi.”
“Kenapa ke Tokyo?”
“Salah satu teman ibu di Tokyo membantu ibu mencarikan pekerjaan di sana. Dia juga akan membantu mencarikan rumah kontrakan yang murah. Jadi, kita tak punya pilihan selain ke sana.” Lanjutnya.
“Kenapa ibu tak mencari pekerjaan di sini saja?”
“Ibu sudah mencarinya sejak beberapa minggu yang lalu. Tapi, kota ini kota kecil. Mencari pekerjaan bukan hal yang mudah.” Jawabnya.
Yano terdiam. Tak tahu harus menjawab apa.

***

          Salju turun dengan lebat. Tapi itu tak menyurutkan niat Yano untuk datang ke rumah Take. Sahabatnya sejak kecil itu tampak kaget mendapati dirinya di depan rumahnya.
“Apa keadaanmu sudah membaik? Masuklah. Cuaca sedang tidak bagus.” Take mengajaknya masuk dengan nada cemas. Setelah Yano duduk di sofa hangat yang berada di kamarnya, ia segera membuatkannya teh hangat.
“Ada sesuatu ‘kan?” Take segera bisa menebak. Yano tak menjawab.
“Bicaralah. Aku akan mendengarmu.” Ucap Take lagi.
Yano menyeruput teh hangatnya lalu meremas-remas tangannya sendiri.
“Aku tak tahu harus bercerita kepada siapa lagi. Biasanya aku akan segera ke rumah Nanami. Tapi kau sendiri tahu ‘kan? Ia masih marah padaku.”
Take mengangguk. “Bicaralah.”
“Ibuku di pecat. Rumah kontrakan kami akan segera berakhir bulan depan. Jadi dia mengajakku pindah ke Tokyo.”
Take ternganga.
“Pindah ke Tokyo? Selamanya?”
“Bisa jadi.” Jawab Yano.
“Tapi sekolahmu ‘kan tinggal satu tahun lagi?”
Yano manggut-manggut. “Aku sedang berencana untuk menolak ajakan ibuku. Dia bisa ke Tokyo, dan aku tetap ingin di sini. Toh aku punya pekerjaan paruh waktu ‘kan? Aku bisa mencari semacam dining kitchen room* yang murah. Hidup sendiri memang bukan hal yang mudah. Tapi, aku pasti bisa. Ya ‘kan? Selain itu ... ” Yano menghentikan kalimatnya sesaat. “Aku tak bisa berjauhan dengan Nanami.”
Yano kembali menarik nafas berat. Terlihat sedang memikirkan sesuatu yang berat baginya.
“Tapi, jika aku tetap tinggal di sini. Maka ibuku akan sendirian di Tokyo. Ya ‘kan? Ia tak punya siapa-siapa selain aku. Karena itu, aku tak tahu harus bagaimana Take?” Ia  menatap sahabatnya dengan tatapan putus asa. Take menyandarkan punggunggnya di kursi dengan lemas. Ia juga bingung ingin menjawab apa.
“Tolong jangan ceritakan dulu ini pada Nanami ya?” pintanya. Take tak menjawab karena ia tahu bahwa ia memang tak bisa menjanjikan untuk tidak menceritakan hal itu pada Nanami. Karena sesaat setelah Yano pulang dari rumahnya, cowok itu menyambar jaketnya lalu ia menerjang hujan salju, menuju rumah Nanami.
Ia memang mencintai Nanami. Tapi ia takkan mendapatkan cintanya dengan cara seperti ini. Tidak!

***

          Nanami menatap Take dengan heran ketika cowok itu ada di depan pintu rumahnya dengan nafas terengah-engah. Terlihat ia baru saja menerjang lebatnya hujan salju.
“Take, ada apa? Masuklah. Di luar dingin sekali.” Ia segera mengajak cowok itu masuk namun ia menolaknya.
“Kau harus bicara dengan Yano, Nanami. Ini tak adil. Ini tak adil untuk kalian berdua.” Ucapnya dengan nafas  tersengal. Nanami mengernyitkan dahinya. “Ada apa?” Ia bertanya heran.
“Yano, akan ke Tokyo. Ibunya mengajaknya pindah ke sana. Kondisi keuangan keluarganya sedang tidak bagus. Jadi ...” Take menelan ludah. “Bicaralah dengannya Nanami. Ku mohon.” Lanjutnya.
Nanami mematung. Yano, pindah ke Tokyo?

          Sudah 2 hari ini Yano masuk sekolah seperti biasanya. Tapi ia tak banyak bicara. Yang ia lakukan di kelas hanyalah diam atau sekedar mencoret-coret bukunya. Dan ketika waktu istirahat tiba, ia menghilang entah kemana. Cowok itu seperti sengaja menghindarinya. Menghindarinya? Tidak.
Bukan Yano yang menghindari Nanami, tapi, Nanamilah yang masih menjaga jarak dengannya. Nanami ingin mengajaknya bicara, tapi ia tak tahu bagaimana caranya. Ia tak tahu.
Egonya masih tinggi, begitu pula harga dirinya. Yano bersalah padanya. Bukankah dia yang harus menemuinya terlebih dahulu? Bukankah dia yang seharusnya mengajak bicara terlebih dahulu? Bukankah dia yang seharusnya meminta maaf lagi, ratusan kali, mengingat apa yang telah ia lakukan padanya selama ini? Bukankah ...
Nanami bersikeras bahwa ia takkan bicara dengan Yano sebelum cowok itu bicara terlebih dulu dengannya. Tapi mengingat kata-kata Take bahwa ia akan pindah ke Tokyo, pertahanannya runtuh. Ia menyerah.
          Dan sekarang ...
Di sinilah ia akhirnya.
Di rumah Yano.

***

Yano terlihat kaget luar biasa ketika ia pulang dari kerja paruh waktunya, ia mendapati Nanami sudah ada di rumahnya. Sedang mengobrol dengan ibunya di ruang tamu.
Cewek itu tersenyum melihat kepulangannya. Ia tersenyum lepas seolah-olah di antara mereka sedang tak terjadi apa-apa. Yano tampak bengong hingga lupa mengucapkan salam ‘pulang’.
Okaeri*.” Nanami menyapa duluan. Yano tergagap. “Tadaimaa*.” Jawabnya.
“Nanami sudah di sini sejak tadi sore. Kami mengobrol tentang banyak hal. Sekarang kalian mengobrollah.” Ibu Yano mengucapkan kalimat tersebut sambil melihat ke arah Yano dan Nanami secara bergantian. Kemudian ia bangkit.  Meninggalkan mereka berdua.
“Mau ke kamarku?” Yano bertanya dengan ragu. Nanami mengangguk. Mereka melangkah menaiki tangga menuju kamar di lantai dua.
“Maaf, aku tak mengira kau akan ke sini.” Ucap Yano.
“Dan maaf karena aku lancang ke sini ketika kau tak ada. Aku ingin mengobrol terlebih dulu dengan ibumu.” Jawab Nanami. Mereka duduk dengan canggung.
Hening sesaat.
“Aku ...”
“Aku ...”
Mereka membuka suara hampir bersamaan. “Kau dulu.” Yano mengalah. Nanami menatap cowok di hadapannya.
“Aku sudah dengar dari Take. Tentang rencana kepindahanmu ke Tokyo dengan ibumu.” Ucap Nanami. Yano tampak tertegun. Tapi ia tak menyanggah. Perlahan ia mengangguk.
“Maafkan aku, Nanami.” Desisnya lirih. “Ibuku membutuhkanku. Satu-satunya keluarga yang ia punya adalah aku. Jadi ...”
“Aku mengerti.” Nanami memotong. Ia menelan ludah.
“Aku sudah bicara dengan ibumu. Jika dia memang membutuhkanmu, pergilah.” Hati Nanami hancur ketika mengucapkan itu. Tapi ia tak punya pilihan. Egonya tak ingin menghalangi kepergian Yano dengan ibunya. Ibunya sendirian. Ia membutuhkan Yano, putra satu-satunya, dan juga satu-satunya keluarga yang ia punya.
“Maafkan aku Nanami. Aku benar-benar ...”
“Aku tak mau putus denganmu.”
Yano menatap Nanami dengan lekat. Cewek itu juga melakukan hal yang sama.
“Meskipun kau pergi ke Tokyo dengan ibumu, kau tak berencana putus denganku ‘kan?” Kedua mata Nanami tampak berkaca-kaca. Yano menatapnya sendu. Ia beringsut, menghampiri Nanami, lalu memeluknya erat. Ia menggeleng tegas.
“Tidak, Nanami. Aku tak berencana putus denganmu. Bahkan jika aku ke Tokyo, aku tetap akan berhubungan denganmu. Lewat telpon, sms, email, semuanya.” Suara Yano tampak bergetar.
“Janji?”
“Janji.” Jawab Yano.
Nanami mencoba tak menangis. Tapi air matanya menitik begitu saja.
“Kau harus sering menelponku.” Ucapnya. Yano mengangguk.
“Jika kau sudah mendapat sekolah baru, kau harus menceritakan padaku tentang semuanya. Tentang sekolahmu, teman-teman barumu, kegiatanmu. Semuanya.”
Yano kembali mengangguk.
“Jangan lupa, kirimi juga fotomu selama di sana. oke?”
Lagi-lagi Yano hanya mengangguk. Ia hanya tak sanggup berbicara lagi karena air matanya juga telah menitik.
“Aku akan belajar dengan tekun. Agar nilaiku bagus, dan aku bisa masuk universitas Tokyo.”
Nanami merasakan Yano mengangguk.
“Tunggu aku di sana, Yano. Tunggu aku satu tahun lagi. Aku pasti akan menyusulmu ke sana. Oke?” Nanami terisak.
Yano mempererat pelukannya, dan lagi-lagi ia hanya mampu mengangguk. Bibirnya bergetar, dan ia terisak.

***

          “Aku memutuskan untuk ikut ibuku ke Tokyo.” Ucap Yano. Take membuang tatapannya ke arah pantai yang membentang di hadapannya. Sore itu, Yano yang berinisiatif untuk mengajak Take jalan-jalan. Dia bilang, ia ingin bicara dengannya secara laki-laki.
“Kau yakin?” Take bertanya.
“Kau pikir aku punya pilihan yang lebih baik?” Cowok itu balik bertanya. Take manggut-manggut.
“Kau sudah bicara dengan Nanami?”
Yano mengangguk.
“Dia bilang apa?” Take ganti bertanya.
“Dia juga tak punya pilihan lain.” Jawab Yano. Keduanya menarik nafas berat. Seraya terus menatap laut lepas.
“Take, aku ingin kau menjaga Nanami. Tapi berjanjilah satu hal padaku.”
“Apa?”
“Jangan menikamku dari belakang.” Ucap Yano seraya menoleh dan menatap sahabat baiknya tersebut. Take terkekeh seraya balik menatapnya.
“Aku takkan selicik itu. Aku takkan pernah mengambil pacar sahabat sendiri. Kecuali ...”
“Kecuali apa?” Yano bertanya penasaran.
“Kecuali jika kau mengabaikannya, jika kau tak rajin mengirim kabar kepadanya, atau jika kau menghilang begitu saja, maka akan ku ambil dia darimu hanya dalam sedetak jantung.” Jawab Take.
Yano tertawa miris.
“Aku takkan melakukannya.” Jawabnya.
“Oke, ku pegang kata-katamu.”
Mereka beradu kepalan tangan. Lalu tertawa.
“Janji lelaki sejati.” Ucap mereka hampir bersamaan.

***

          Platform itu tampak ramai. Tidak hanya Nanami, Take, Chizu dan Mizuhara yang mengantarkan keberangkatan Yano di stasiun kereta. Hampir semua anggota club futsal juga hadir di sana.
“Kau harus ikut klub futsal di sekolahmu yang baru.” Saran Akira. Yano mengangguk.
“Tidak hanya futsal. Aku juga berencana ikut semua kegiatan olah raga di sana. Kalian ‘kan tahu, aku punya banyak bakat di bidang olah raga.” Yano terkekeh. Akira meninju lengannya dengan pelan. Mereka tertawa.
          Beberapa menit sebelum kereta berangkat, Yano menghampiri Nanami. Teman-teman mereka sengaja menjauh demi memberi privasi pada mereka untuk berpamitan.
Kedua mata Nanami tampak sembab. Ia tak bisa berhenti menangis sejak semalam.
“Jaga dirimu baik-baik, Nanami.” Kalimat Yano parau. Nanami mengangguk.
“Kau juga.” Jawabnya. Bibirnya bergetar, dan air matanya kembali menitik.
“Maaf aku cengeng. Aku tak bermaksud mengantarkan keberangkatanmu dengan air mata. Tapi entahlah, aku tak bisa membendungnya.” Ujar Nanami. Yano menatapnya pilu. Ia meraih tubuh Nanami ke dekapannya lalu mencium puncak kepalanya dengan lembut.
“Yano, jangan pernah merasa sendiri. Apapun yang terjadi, kau tidak sendirian. Ada aku di sini, yang setia memikirkanmu, yang setia mencintaimu, yang setia menantimu. Ya?” Bisik Nanami.
Yano mengangguk.
“Sepertinya, aku hidup untuk bertemu denganmu, Nanami. Jika kau tak bisa menyusulku ke Tokyo, maka, tunggulah. Aku yang akan kembali ke sini, menemuimu. Oke?”
Nanami mengangguk.
          Dengan berat hati Yano melepaskan pelukannya lalu beranjak memasuki kereta. Pintu tertutup, dan mereka hanya bisa saling memandang dengan tatapan sedih. Perlahan kereta berjalan. Dan secara reflek saja, Nanami berlari. Menyusuri platform, mengejar kereta yang semakin cepat berjalan. Ia terisak, meneriakkan nama Yano. Langkah kakinya baru terhenti ketika kereta semakin menjauh, membawa Yano pergi dari hadapannya, dan membawa seluruh hatinya.

Kamisama ...
Lindungi dia dimanapun dia berada
Jaga hatinya untukku
Pertemukan dia dengan orang-orang yang baik
Tak peduli berapa banyak ia menangis dan roboh, buatlah agar dia bisa bangkit lagi

Itulah doaku...

***

          Yano menatapnya.  Menatap tubuh mungil Nanami belari-lari kecil mengejar kereta. Menatap wajah manisnya yang basah oleh air mata. Hatinya sesak. Sekarang ia sadar, ia mencintai Nanami, dengan sepenuh hati.

Kamisama ...
Lindungi Nanami dimanapun dia berada
Jaga hatinya untukku
Pertemukan dia dengan orang-orang yang baik
Tak peduli berapa banyak ia menangis dan roboh, buatlah agar dia bisa bangkit lagi

Itulah doaku...

Dan air mata Yano kembali menitik.



***

         
          Hari mulai senja. Cahayanya yang jingga keemasan menyeruak di ufuk barat  dan menampilkan landscape bangunan di sepanjang rel kereta dengan menakjubkan.
Nanami mematung. Tatapannya menerawang di sepanjang rel kereta yang membentang di hadapannya. Hampir setiap hari ia menghabiskan waktunya di sini. Di stasiun ini.
Menunggu. Menunggu seseorang yang sekarang entah berada di mana.
          5 tahun yang lalu ia mengantarkan Yano di sini. Mengantarkan keberangkatannya ke Tokyo. Saat di mana ia bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya. Karena setelah itu, ia hilang kontak dengannya.
          Pemuda itu menghilang entah kemana.
          Tanpa kabar.

***

Bersambung...




Dining kitchen room : ruangan tempat tinggal yang hanya terdiri dari 1 ruang tamu, 1 ruang makan, 1 ruang dapur + kamar mandi. Biasanya sewanya lebih murah.
Tadaimaa             : Aku pulang
Okaeri (nasai)       : Selamat datang kembali (di rumah)
Dalam budaya orang Jepang, ketika seseorang pulang ke rumah (darimanapun dia datang), dia wajib mengucapkan salam ‘tadaimaa’. Dan orang yang ada di rumah, juga wajib menjawab dengan ‘okaeri(nasai)’.
Kamisama             : Dewa (Tuhan)