Rabu, 06 Mei 2015

The Royal Couple - Part 2



Bab 2


          David hanya membelalak ketika menyaksikan Maya sudah berada di dalam kantornya tepat jam 7 pagi!
“Hai.” Ia menyapa duluan dengan nada biasa, tanpa rasa canggung sama sekali.
“Ngapain kamu di sini?” tanya David dengan datar.
“Mampir.” Jawab perempuan itu pendek.
“Bagaimana kamu tahu kantorku?” David melangkahkan kakinya dan segera duduk di kursinya. Tanpa menatap ke arah Maya yang duduk di hadapannya.
“Helloo, kita ini calon tunangan - itupun kalo jadi. Apa susahnya nyariin kamu. Aku toh sudah tahu, dari papaku,”
“Langsung aja. Kamu mau apa?”
“Nanti malam aku dan keluargaku akan makan malam di rumahmu. Papamu yang mengundang. Dan aku yakin kamu belum tahu rencana itu.”
David mengernyit. Ia mendongak dan menatap wajah perempuan cantik di hadapannya. Ia menggeleng.
“Iya, aku emang belum tahu.” Jawabnya.
Maya manggut-manggut.
“Sudah ku duga. Makanya aku ngasih  tahu kamu duluan biar kamu nggak kaget. Bentar lagi pasti kamu dapat kabar dari papamu.”
David mengangkat bahu. “Memangnya makan malam untuk apa?”
Maya terkekeh mengejek. “Kamu ini gimana sih? Tentu aja membahas pertunangan kita. Kamu pikir untuk apa?”
David melotot.
“Apa kamu lupa kalau aku menolak perjodohan kita?”
“Enggak-lah. Aku masih ingat kok. Makanya, makan malam nanti adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan kebenaran.” Ujar Maya.
David kembali melotot. “Kebenaran apa?”
Maya mendesah dan menatap David, kesal.
“Kebenaran bahwa kamu sudah punya pacar, sialan. Bilang ke mereka kalau kamu menolak menikah denganku karena kamu sudah mencintai cewek lain. Dan perjodohan akan batal. Gampang ‘kan?”
David kembali menatap perempuan di hadapannya dengan geram.
“Kamu menjadikanku umpan ‘kan?”
“Umpan apa?” Maya mengernyit.
“Kalo aku bilang aku menolak menikah denganmu karena aku sudah punya pacar, maka otomatis kesalahan akan di timpakan padaku. Dan sudah pasti, papaku akan membunuhku! Itu maksudmu?”
Maya mendesah. Ia bangkit.
“Terserah. Yang jelas, aku tidak akan bunuh diri dengan  menolak terlebih dulu perjodohan itu. Lagipula aku sedang nggak ada hubungan dengan lelaki manapun. Jadi, nggak ada beban sama sekali denganku. Tapi kamu, beda. Kamu punya pacar dan seharusnya kamu memperjuangkan cintamu. Tapi jika kamu terlalu pengecut untuk melakukan hal itu, kita menikah saja. Habis perkara,” Maya beranjak.
“Oh iya, aku lupa,” ia berhenti dan berbalik.
“Billy, pemilik restoran itu, temanmu ‘kan? Tolong bilang ke dia agar berhenti mengirimiku bunga. Well, aku berterima kasih karena dia mau bersikap romantis padaku. Tapi, tanpa mengurangi rasa hormatku, aku nggak suka bunga. Thanks,” ia kembali melangkah. Dan David hanya mampu menatapnya dengan bingung.
Dan apa yang dikatakan Maya memang betul karena beberapa jam kemudian, papanya menelpon dan mengatakan padanya untuk datang ke rumah jam 7 malam. Jamuan makan malam dengan keluarga Maya.

***

          Acara makan malam berlangsung biasa-biasa saja. Orang tua David  dan orang tua Maya mengobrol dengan akrab. Sesekali Maya dan David saling melempar senyum, dibuat-buat tentunya.
Sesekali David merasakan kaki Maya menendang kakinya dengan pelan. Ia menatap lelaki di hadapannya dengan tatapan serius. Mulutnya bergerak-gerak mengucapkan sesuatu.
“Bicaralah sekarang, idiot. Atau kamu akan menyesal seumur hidup,” perempuan itu berbisik dengan geram. David hanya mendesah lalu membuang pandangannya ke tempat lain. Dan itu makin membuat Maya kesal.
“Aku yakin kalian sudah saling bertemu dan mengenal satu sama lain. Jadi kami sepakat untuk langsung mencarikan tanggal yang bagus untuk pernikahan kalian,” ucap papa David. David membelalak. Maya juga.
“Pernikahan? Tidak bertunangan dulu?” Perempuan yang tampak cantik dengan gaun warna biru muda itu tampak bingung.
Yohanes Anthoni, Papa Maya tersenyum dan menggeleng.
“Enggak, sayang. Kami sepakat untuk segera menikahkan kalian saja, tanpa bertunangan terlebih dahulu. Kurasa itu lebih bagus,” ucapnya dengan bijak.
Maya mematung, David juga. Perempuan itu bangkit.
“Maaf, aku perlu waktu sebentar dengan David.” Ia melangkah mengitari meja makan dan beranjak ke arah tempat duduk David.
“Sayang, yuk. Kita perlu waktu sebentar untuk mengobrol di taman.” Maya meraih tangan David agar lelaki itu berdiri lalu segera mengajaknya meninggalkan ruang makan, menyusuri ruang tengah menuju taman dekat kolam renang. Sementara orang tua mereka hanya menatap mereka sambil tersenyum-senyum.
“Apa yang membuatmu begitu pengecut?” tanya Maya dongkol ketika mereka sudah berhadap-hadapan di dekat kolam.
David memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ia menatap ke arah kolam renang, lalu ke arah Maya.
“Well, aku pasti akan menolaknya. Tapi, nggak sekarang, May,” ucapannya terdengar tak yakin.
“Maya. Jangan panggil aku ‘May’.” Maya protes.
David mendengus. “May. Maya. Atau siapalah, jangan protes masalah nama panggilan. Kamu ‘kan juga selalu memanggilku ‘Dave’ seenak perutmu.”
“Tapi itu ‘kan beda. Dave lebih keren daripada David.” Kilah Maya.
“Oh, sama. Buatku, May lebih keren daripada Maya.” David tak mau kalah.
“Dave?”
“May?”
Keduanya bersitegang sesaat.
“Oke, kamu boleh manggil aku ‘Dave’, tapi biarin aku manggil kamu ‘May’. Jadi kita impas.” David mencoba mencari jalan tengah.
“Ah, whatever-lah. Aku nggak mau ribut soal nama panggilan. Kamu mau bilang sekarang atau enggak?” Maya setengah membentak. David kembali terdiam.  Plis, Dave. Bicaralah sekarang dengan mereka kalo kamu menolak pernikahan ini karena kamu sudah punya calon istri. Jika tidak, semuanya akan terlambat. Mengertilah, aku mencoba menolongmu dan juga pacarmu.” Maya terdengar memohon. David menatapnya dalam.
“Ini nggak mudah, May. Kamu nggak tahu papaku. Dia benar-benar akan membunuhku kalo aku bilang sekarang. Dan bisa saja ia mencari tahu identitas pacarku lalu mencelakainya. Dan aku nggak mau itu terjadi. Aku pasti akan bilang pada ayahku, tapi nggak sekarang. Beri aku waktu untuk bicara pelan-pelan dengannya.” David juga terdengar memohon. Maya terdiam sesaat. Tapi perlahan ia membenarkan perkataan David. Ini memang bukan sinetron, tapi kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi.
“Kamu emang nggak punya nyali.” Perempuan itu beranjak meninggalkan David dengan wajah bersungut-sungut kesal.

***

          David duduk tercenung di ruang kerjanya. Ia kembali memikirkan perkataan Maya semalam. Ya, sepertinya perempuan itu benar. Ia memang tak punya cukup keberanian untuk melawan papanya sendiri. Sebetulnya ia ingin. Papanya sudah terlalu banyak mengatur hidupnya, dan ia benar-benar ingin memberontaknya. Tapi, ia takut. Ia takut papanya akan terkena serangan jantung, ia takut akan melukai perasaan mamanya, dan ia takut perusahaannya akan hancur. Dan ribuan karyawannya, bagaimana nasibnya kelak. Ia tak menyukai Maya, tapi papanya benar bahwa hanya dengan menikahi perempuan itu, perusahaan dan juga ribuan karyawannya akan terselamatkan.
David menekan pangkal hidungnya dengan letih sampai ia tak menyadari ketika Billy memasuki ruangannya.
“Hai, bro. Kamu kenapa? Kayak orang yang habis kena bencana aja?” Billy menyapa. David mengongak.
“Tumben pagi-pagi sudah nyampek sini. Kamu nggak ke restoran?” David balik bertanya.
Billy menggeleng.
“Aku sedang menuju ke sana. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk mampir ke sini dulu,”
“Ada hal penting?”
Billy duduk di kursi yang berada di seberang meja kerja David.
“Beritahu aku caranya untuk bisa mendapatkannya, Vid,” ucapnya putus asa. Dahi David mengernyit.
“Dia siapa? Maya maksudmu?”
Billy mengangguk lemah. David terkekeh.
“Kamu ini aneh, Bill. Yang punya pengalaman terbanyak soal cewek ‘kan kamu. Terus, kenapa minta saranku.” Ujarnya.
Billy mendesah seraya memainkan pulpen di meja David.
“Dia beda, Vid,”
“Beda? Oh, aku juga tahu soal itu. Dia adalah cewek paling judes dan paling kasar yang pernah ku temui. Kamu tahu? Dia bahkan bisa membuat seorang pria yang besarnya dua kali lipat dari berat tubuhnya, roboh, hanya dengan sekali tendang. Aneh ‘kan?”
Kedua bola mata Billy mengerjap.
“Serius? Tahu darimana?”
“Aku melihatnya sendiri. Dia menendangnya, tepat di wajahnya. Dan lelaki gendut  itu tak berkutik,”
Billy melongo.
“Karena itu, hati-hatilah dengannya. Kalo kamu sampek berbuat sesuatu yang enggak dia suka, nasibmu pasti berakhir di rumah sakit. Dia cewek radikal.” David menambahkan. Billy menggeleng tak percaya. “Itu nggak mungkin, Vid,” gumamnya.
“Terserah. Tapi itu benar. Tanya aja Annisa kalo kamu nggak percaya. Dia juga tahu hal itu,”
Billy terkekeh.
“Wah, jika begitu dia benar-benar cewek yang menarik,” jawaban lelaki itu membuat dahi David kembali berkerut.
“Menarik apanya? Biang kerusuhan sih iya,” jawabnya. Billy tersenyum.
“Itulah kenapa aku bilang kalo dia itu beda. Berkali-kali aku berusaha mengajaknya keluar, entah untuk sekedar makan ataupun ke tempat hiburan. Tapi dia selalu menolak dengan alasan sibuk. Aku sering mengiriminya bunga dan beberapa hadiah, tapi dia selalu mengembalikannya. Dan sekarang, kamu sendiri bilang bahwa dia punya self defense yang bagus. Astaga, dia benar-benar perempuan yang menarik. Cantik, cerdas, dan apa adanya. Dia antara semua perempuan yang pernah ku rayu, dia yang paling sulit, Vid. Dan aku merasa frustasi karena itu.” Jelas Billy.
David terkekeh.
“Well, itulah hukum karma. Sekarang kamu tahu bahwa nggak semua perempuan mau bertekuk lutut dengan rayuanmu,” ucapnya.
Billy kembali mendesah.
“Bantu aku, Vid. Setidaknya, sekali saja buatlah dia agar mau bertemu secara pribadi denganku.” Ia memohon. David menggeleng.
“Maaf, Bill. Aku sudah terlampau pusing dengan perempuan itu. Dan aku nggak mau berurusan terlalu jauh dengannya,” David kembali menegaskan.
“Ayolah, Vid. Bantu aku kali ini aja ya,”
“Cari saja perempuan lain, Bill. Dia nggak cocok denganmu, aku pastikan itu,”
Bibir Billy manyun.
Obrolan mereka terhenti ketika tiba-tiba pintu terbuka dan papa David muncul dari balik pintu.
“Oh, kau di sini Billy. Kau tak ke tempat kerjamu?” lelaki itu menyapa ke arah Billy. Billy bangkit lalu menyalami lelaki yang juga sudah dikenalnya sejak kecil itu.
“Iya, Om. Ini juga mau kesana kok,”  jawabnya.
“Aku tak mengganggu obrolan kalian ‘kan?”
“Enggak, Om. Aku sudah berencana pergi. Tadi hanya mampir untuk ngobrol dengan David,” jawabnya lagi.
“Vid, aku pergi dulu ya. Ntar sore, mampirlah ke restoranku, oke,” Billy menatap penuh harap ke arah David. David tersenyum dan mengangguk. Sahabatnya itu kemudian beranjak meninggalkan David dan papanya sendirian.
“Ada apa, Pa? Pasti ada hal penting hingga papa ke sini?” David bertanya.
“Ini tentang Maya,”
David membuang nafas.
“Ada apa lagi dengannya? Apa hari ini semua orang akan menemuiku hanya untuk berkeluh kesah tentang perempuan itu?” ia setengah protes. Papanya menatapnya dengan tatapan serius.
“Apa yang kau lakukan padanya hingga ia menolak rencana pernikahan kalian?”
David terperanjat.
“Apa? Maya menolak menikah denganku?”
Papa David mengangguk.
“Pagi tadi papanya telpon. Sejak pulang dari makan malam tadi malam di rumah kita, Maya tampak kesal dan uring-uringan. Hingga akhirnya ia mengatakan bahwa ia menolak menikah denganmu,”
David nyaris tertawa girang.
“Aku nggak melakukan apa-apa, Pa. Sungguh. Kalo Maya menolak menikah denganku, berarti ‘kan dia memang nggak cinta sama aku. Penolakan itu datang dari dia dan papa nggak bisa memaksanya untuk mau menikah denganku,” David tampak membela diri.
“Ini nggak boleh terjadi, Vid. Secepatnya, temuilah wanita itu. Dan buatlah dia agar dia mau menarik kembali ucapannya,”
“Apa?”
“Kau harus menikah dengannya. Jika dia tak bisa mencintaimu, buatlah dia agar bisa mencintaimu. Jika dia tak mau menikah denganmu, buatlah agar dia mau menikah denganmu. Yang jelas, kalian harus menikah,”
“Kenapa papa harus memaksa?”
“Ini demi kebaikan kita semua, Vid. Nasib perusahaan kita ada di tanganmu,”
David kembali mendesah.
“Pa, jangan memaksaku atas nama perusahaan. Aku bisa kok mengatasi krisis di perusahaan tanpa harus menikah wanita itu,”
“Itu tidak akan cukup. Kamu akan tetap membuat banyak orang kehilangan pekerjaan,”
“Pa___”
“Papa mohon, Vid. Sebetulnya papa juga nggak mau melakukan hal ini padamu, tapi kami semua bergantung padamu. Hanya dengan menikahi Maya, kau bisa keluar dari krisis. Dan tentu saja perusahaan kita akan terselamatkan. Dan sudah pasti, perusahaan kita akan semakin berkembang. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Bisa kau bayangkan ‘kan, betapa banyak orang yang akan bersyukur karena mendapatkan pekerjaan di bawah kepemimpinanamu,”
David terdiam. Ia kembali tak berkutik. Papanya tahu kelemahannya. Atas nama perusahaan dan atas nama orang-orang yang membutuhkan pekerjaan. Ia benar-benar tak tega jika harus melihat orang-orang menganggur, tak punya pekerjaan.
David kembali merutuk dalam hati. Ia bingung.

***

          Sore itu, David berniat menemui Annisa di tempat kerjanya. Tapi, ia bahkan belum sempat bertemu cewek itu ketika tiba-tiba Billy menghambur ke arahnya lalu menyeretnya ke ruang kerjanya.
“Ada apa sih?” tanya David penasaran. Billy menatapnya dengan kalut.
“Dia kabur, Vid,” jawabnya tegang.
“Dia siapa?”
“Maya. Dia kabur dari rumah. Tadi malam,”
David mendelik.
“Tahu dari mana?”
“Aku punya orang kepercayaan yang bekerja di rumahnya. Dan dia menceritakan semuanya padaku,”
David melongo.
“Astaga, kamu memata-matainya?”
Billy mengangkat bahu.
“Enggak. Kebetulan aja aku punya orang kepercayaan yang bisa kumanfaatkan untuk mengorek informasi tentang cewek itu,” jawabnya enteng.
“Maksudmu, kabur gimana?”
“Dia bilang, Maya menolak menikah denganmu. Aku tak tahu apa alasannya. Lalu dia mulai bertengkar dengan papanya, dan beberapa jam kemudian para pelayan menyadari kalau ia sudah nggak ada di kamarnya lagi. Dia bilang, Maya hanya meninggalkan secarik kertas yang bertuliskan bahwa ia butuh waktu untuk menyendiri dan meminta keluarganya untuk tidak mencarinya,” raut muka Billy tegang. David hanya menatapnya biasa-biasa saja.
“Anak kabur dari rumah ‘kan bukan hal yang aneh, Bill. Lagipula, dia sudah besar. Bukan anak kecil lagi. Yakin deh, dia pasti baik-baik aja,” ucap David.
“Tapi, Vid. Kamu ‘kan tahu kalo Maya baru beberapa bulan tinggal di sini. Dan dia nggak punya banyak teman dekat untuk didatangi. Aku khawatir kalau dia akan___”
“Tidur di jalanan? Haha, nggak mungkin, Bill. Maya itu orang kaya. Dia bisa bepergian kemanapun yang ia suka. Dan dia juga bisa tinggal di hotel manapun yang ia suka,” David memotong. Billy terdiam. Sepertinya ia mulai mencerna perkataan David.
“Oh, iya juga ya, Vid. Dia ‘kan bisa tinggal di hotel,” ia menggumam. David tersenyum.
“Sudahlah, jangan terlalu mengkhawatirkannya. Dia pasti akan ditemukan,” ucapnya. Billy manggut-manggut.
“Iya sih, tapi tetap saja aku khawatir. Ia pasti mengalami masa-masa sulit. Dan aku nggak yakin ia punya teman dekat untuk di ajak berbagi ataupun bercerita tentang masalahnya. Oh, kasihan sekali dia,” raut muka Billy kembali terlihat galau. David menarik nafas panjang.
“Aku heran kenapa kamu jadi lebay kayak gini? Ah, sudahlah. aku ke sini untuk menjemput Annisa, bukan untuk mendengarkan keluh kesahmu tentang Maya,” David berbalik, meninggalkan Billy di ruangannya. Ia menemui Annisa yang baru saja selesai bekerja. Ia mengantarkannya pulang setelah terlebih dahulu mengajaknya jalan-jalan di sebuah taman kota. Hal yang biasa mereka lakukan sambil mengobrol tentang banyak hal.
David sampai kembali di apartemennya sekitar jam 11 malam setelah mengantarkan Annisa ke rumahnya. Tapi ia merasa kaget luar biasa ketika ia menemukan Maya berdiri termangu di depan pintu apartemennya!
“Maya!? Kamu ___ di sini?” ia menyapa duluan dengan pertanyaan. Maya mengangkat bahu.
“Jadi bener kamu tinggal di apartemen ini?”
“Ya,” David menjawab dengan rasa penasaran dengan keberadaan perempuan itu di depan apartemennya.
“Sendirian?”
“Kenapa kamu nanyain itu?”
“Kamu nggak tinggal bersama dengan pacarmu ‘kan?”
David tergelak mendengar pertanyaan Maya.
“May, ini Indonesia, bukan Amerika. Tinggal bersama dengan pacar bukanlah sesuatu yang lumrah di sini. Itu masih tabu,” jawabnya kesal.
“Aku ‘kan cuma nanya,”
“Kamu sendiri, ngapain kamu di sini malam-malam begini?”
“Aku kabur dari rumah,” jawabnya pendek seraya menunjuk sebuah koper besar yang berada di sampingnya dengan dagunya. David manggut-manggut.
“Ya, aku tahu. Terus?”
“Biarkan aku tinggal dulu di apartemenmu, sementara waktu,” jawab Maya enteng. David membelalak.
“Hah!?” ia berteriak.
“Aku nggak bisa tinggal di hotel. Orang-orang papaku bisa menemukanku dengan mudah kalo aku tinggal di sana. Lagipula, aku nggak punya uang sekarang. Semua kartu kreditku di blokir papaku. Aku juga nggak punya temen dekat yang bisa aku tuju untuk menginap. Jadi, tolong bantu aku,”
David tertawa mengejek mendengar semua penjelasan Maya.
“Itu urusanmu, bukan urusanku. Mau kamu tidur di mana kek, aku nggak peduli,” jawabnya ketus. Maya menatapnya dengan tajam.
“Kamu yang bikin aku berada di situasi kayak gini!? Jadi kamu juga harus bertanggung jawab dan membantuku!” Ia berteriak. David sempat kaget dengan teriakan perempuan tersebut.
“Jangan mengada-ada deh. Bagaimana mungkin aku bisa membuatmu dalam situasi kayak gini? Toh kamu kabur-kabur sendiri,” balas David.
Maya menatap lelaki di hadapannya dengan kesal. Ia melipat kedua tangannya di dada dan menatap David dengan angkuh.
“Karena kamu terlalu pengecut untuk bicara jujur pada papamu, maka aku-lah yang berkorban dengan menolak terlebih dahulu rencana pernikahan kita. Dan beginilah hasilnya, aku harus kabur dari rumah karena papaku murka! Kamu pikir aku melakukannya untuk siapa? Aku melakukannya untuk kamu dan pacarmu, agar kalian masih tetap bisa bersama-sama! Dasar idiot!” Ia kembali berteriak.
“Ssstt, pelankan suaramu. Kamu bisa mengganggu penghuni lain,” David membekap mulut Maya. Perempuan itu meronta dan menghalau tangan David.
“Karena itu cepat buka pintunya dan biarkan aku masuk. Kita akan bicara di dalam. Jika tidak, aku akan membuat keributan di sini,” ucap Maya tajam. David menghela nafas. Akhirnya, ia membuka pintu dan menyilahkan Maya masuk.
Maya menghempaskan tubuhnya ke sofa. David sempat meliriknya. Wanita itu memang terlihat lelah dan kesal. Tapi tetap saja ia tampak cantik luar biasa. Dan diam - diam David memujinya dalam hati. Memuji bahwa wanita itu memang cantik!
Lelaki itu berinisiatif membuatkannya teh hangat dan segera meletakkannya di depan Maya. Maya menyeruput teh hangat itu pelan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Oke, aku ingin mendengarnya lagi. Bicaralah apa yang terjadi, tapi jangan berteriak-teriak di depanku,” David membuka suara seraya duduk di kursi yang berada di seberang Maya.
“Kamu membuatku kesal, dan aku ingin sekali menendangmu,” jawab Maya. David tersenyum.
“Oke, oke, sori. Sekarang bicaralah pelan-pelan,” ucapnya lagi. Maya meletakkan kembali cangkir teh ke meja. Ia menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa. Ia sempat menarik nafas dan David melihat ada perasaan suntuk di sana.
“Seperti yang sudah ku ceritakan padamu. Aku bilang pada papa kalo aku menolak menikah denganmu. Beliau marah, kami bersitegang, dan inilah hasilnya. Aku kabur dari rumah karena aku sudah nggak tahan. Dan aku benar-benar nggak bisa tinggal di hotel. Percayalah, papaku bisa melacak keberadaanku di seluruh hotel yang ada di negeri ini hanya dalam waktu hitungan jam,”
David manggut-manggut. Ia tak meragukan cerita Maya. Dia benar. Papanya punya kekuatan penuh jika hanya memeriksa seluruh hotel yang ada di Indonesia, demi bisa menemukan Maya.
“Dan malangnya, papa juga memblokir semua rekening dan kartu kreditku. Aku nggak punya banyak uang sekarang,” Maya melanjutkan.
“Jadi, biarkan aku tinggal di sini. Ku mohon,”
“Kenapa harus di sini?” tanya David bingung.
“Karena tempat ini yang paling aman. Papaku pasti nggak nyangka kalo aku akan berada di sini,” jawab Maya.
David kembali manggut-manggut. Ya, Maya juga benar. Tempat paling berbahaya, bisa juga tempat yang paling aman.
“Aku akan tetap membayar sewa kamar apartemenmu. Nggak bisa sekaligus, tapi aku akan mencicilnya sedikit demi sedikit. Aku memang nggak punya banyak uang, tapi aku masih punya bisnis kecil-kecilan di Amerika. Aku punya sedikit karyawan dan aku menjalankannya dengan sistem on-line. Aku membangun bisnis itu tanpa sepengetahuan papaku. Jadi, ia takkan memblokirnya,”
David mendengar kalimat Maya begitu tulus.
“Percayalah, aku masih punya sedikit penghasilan. Dan aku masih bisa membayar sewa kamarmu,” perempuan itu kembali meyakinkan David.
David terdiam sesaat.
“Kenapa kamu melakukan hal kayak gini?” Ia bertanya.
“Aku sudah cerita ke kamu ‘kan?”
“Demi hubunganku dengan ___ pacarku?” David menahan tawa manakala mengucapkan kata ‘pacar’. Haha, pacar yang mana? Pacarnya siapa? Lelaki itu heran kenapa Maya menganggap Annisa adalah pacarnya hanya dengan memergokinya mereka jalan berduaan di taman hiburan? Ah, tapi ia tak peduli. Ia takkan mau repot-repot menjalankan tentang situasi itu padanya.
“Salah satunya,” Maya menjawab pelan.
“Kalo begitu, ceritakan yang lain lagi,”
Maya terdiam sesaat.
“May, aku tahu hubungan kita buruk. Tapi jika kamu pengen tinggal di sini, kita harus memperbaiki
hubungan itu. Kita harus jadi teman, nggak ada pilihan lain lagi. Jika kamu nggak cerita semuanya padaku dengan jujur, aku nggak bisa menerimamu di sini,” David terdengar serius dengan ucapannya.
Maya tak segera menjawab.
“Aku bosan terus menerus di atur papaku. Dan aku ingin memberikannya sedikit perlawanan,” ucapan Maya terdengar lunak. Dan David merasakan tubuhnya yang gerah serasa di siram air es.
“Melawan papamu sendiri? Pemberontakan?” Ia seakan meyakinkan telinganya sendiri. Maya mengangguk. Dan entah kenapa, David menyukainya. Mungkin karena ia juga mengalami hal yang sama. Ia bosan di atur terus menerus oleh papanya, hanya saja ia belum punya cukup nyali untuk mendebatnya. Dan sekarang, perempuan cantik di hadapannya ini melakukan hal yang selangkah lebih maju darinya? Ah,  David benar-benar takjub padanya. Dan, ia suka rencananya!
“Kamu tahu sendiri ‘kan, Dave. Aku anak tunggal. Papaku memanjakanku. Tapi dia juga over protektif padaku. Dia mengatur semua hal yang berurusan denganku. Semuanya. Mulai dari dengan siapa aku harus berteman, dimana aku harus sekolah, jurusan apa yang harus ku ambil ketika kuliah, bahkan dia juga menentukan di bidang apa aku harus bekerja. Dan sekarang, dia bahkan menentukan pernikahan tanpa persetujuanku,”
David merasakan bulu kuduknya bergidik mendengar serentetan kalimat yang meluncur dari bibir indah Maya. Persis! Semuanya persis seperti apa yang ia alami selama ini dengan papanya! Ia nyaris bersorak kegirangan karena seolah-oleh telah menemukan seorang teman lama - yang mungkin saja bisa ia ajak berbagi perasaan dan penderitaan!
“Kesabaranku sudah habis. Aku masih bisa terima ketika papa mengatur semua hal, tapi enggak soal pernikahan. Enggak, aku nggak bisa menurutinya,”
Keduanya berpandangan.
“Aku ingin sepertimu, Dave,” Maya kembali melanjutkan.
David mengernyitkan dahinya.
“Maksudmu?”
“Aku nggak bisa menikah tanpa cinta. Jadi, aku ingin ngalamin hal kayak kamu. Jatuh cinta, berpacaran, lalu menikah,”
David sempat tercengang mendengar ucapan Maya.
‘Kamu belum pernah jatuh cinta? Berpacaran?” ia bertanya dengan ragu-ragu. Maya menggeleng.
“Papaku nggak pernah ngasih ijin padaku untuk mengenal seseorang lebih jauh. Termasuk kamu. Tapi, tiba-tiba aja dia langsung main jodoh-jodohan segala. Papaku selalu beranggapan bahwa ia tahu lebih baik tentang lelaki mana saja yang cocok denganku. Ah, nggak tahu apa yang dia lihat dari kamu sehingga beranggapan bahwa kamu adalah lelaki paling tepat buatku,” Maya mengucapkan kalimat terakhir dengan sedikit gaya  mencibir hingga membuat David mendelik.
“Papamu benar bahwa aku lelaki yang baik. Hanya saja, kita nggak cocok,” balas David.
“Jadi, aku bisa tinggal sementara di sini ‘kan? Aku juga akan berusaha nyari kerjaan di tempat lain agar bisa membayar sewa kamarmu secepatnya,”
David terkekeh.
‘Kamu___ bekerja?”
Maya mengangguk.
“Kenapa? Aneh?”
“Ya, aneh. Kamu anak orang kaya dan manja, dan aku nggak yakin kamu bisa bekerja,”
Maya tersenyum meledek.
“Aku pernah kerja paruh waktu di restoran, ketika di Amerika. Tentunya tanpa sepengetahuan papaku,”
David melongo.
“Serius?”
Maya kembali mengangguk bangga.
“Aku juga pernah bekerja secara diam-diam di sebuah panti jompo,”
David kembali melongo, tak percaya.
“Nggak usah khawatir, aku mandiri dan terbiasa bekerja keras. Jika enggak, nggak mungkin aku bisa bikin bisnis kecil-kecilan. Percayalah, aku nggak sama dengan perempuan lain yang hanya mampu menikmati hasil kerja keras orang tuanya,”
David manggut-manggut.
“Jika kamu takut pacarmu akan salah paham padaku, aku bisa kok bicara langsung padanya dan menjelaskan tentang apa yang terjadi sebenarnya. Jadi, ia nggak akan salah paham kalo kelak dia tanpa sengaja memergoki aku berada di sini,”
David terhenyak.
“Enggak, kamu nggak perlu ngomong apa-apa pada pacarku. Dia bukan tipe pencemburu buta. Lagipula, dia nggak pernah datang kemari. Aku yang maen ke rumah dia,”
Maya tersenyum nakal.
“Wahh, kamu takut papamu akan mengetahui hubungan kalian hingga kamu nggak pernah membiarkannya datang kemari?”
“Mm, begitulah,”
“Kalian backstreet? Waah, kedengarannya seru sekali,”
“Mm, begitulah. Ah udah deh, jangan bahasa tentang dia lagi. Aku nggak suka ngomongin tentang hubunganku pada orang lain,”
Maya manggut-manggut.
“Mengenai keberadaanmu di sini, biar kita aja yang tahu kalo kamu tinggal bersamaku,” ucap David lagi.
“Rahasia kita berdua?”
David mengangguk. “Aku hanya nggak mau ribet dan dapat masalah,” ia menjawab. Maya mengangguk-angguk.
“Oke, percaya deh padaku. Aku pasti akan menjaga rahasia. Bahkan jika golok ditaruh di depan leherku, aku nggak akan cerita pada siapapun kalo kita tinggal bersama. Mm, maksudku, aku numpang di apartemenmu,”
“Oke, itu janjimu,”
David bangkit.
“Kamarmu ada di ujung. Bersebelahan dengan kamarku,” ucapnya. Senyum manis segera mengembang di bibir Maya. Perempuan langsing itu bangkit.
“Thanks,” ucapnya dengan mantap.

***

          Menjerit. Itu reaksi pertama ketika keesokan paginya, David menemukan Maya keluar dari kamarnya dengan hanya mengenakan pants super pendek dan kaos ketat tanpa lengan hingga lelaki itu sempat menikmati bahu, lengan, dan kaki jenjangnya yang mulus dan menawan.
“Ada apa? Kenapa kamu teriak?” tanya Maya bingung.
“Apa yang kamu pakai?”
Maya menatap dirinya sendiri dengan bingung.
“Aku ___ memakai bajuku,”
David melotot. Lelaki itu beranjak kembali ke kamarnya, meraih selimut lalu melemparkannya ke arah Maya.
“Tutupi tubuhmu,” ucapnya. Maya menerima selimut itu dengan kebingungan.
“Tutupi __ apa maksudmu? Aku nggak telanjang,” jawabnya.
“Bajumu terlalu vulgar dan itu nggak sopan,”
Maya mengangkat alis. Sejurus kemudian cewek itu tergelak.
“Maksudmu, kamu nggak nyaman dengan bajuku karena terlalu pendek. Astaga, kamu hidup di jaman apa sih? Ini baju biasa. Jangan terlalu konservatif gitu dong. Aku selalu memakai baju kayak gini kalo di rumah, apa anehnya?”
“Masalahnya ini bukan rumahmu?”
“Ups, sori. Masalahnya, ya inilah yang aku pakai kalo aku lagi dirumahku, di apartemenku ataupun menginap di rumah temanku. Kamu kayak pertama kali aja lihat perempuan pake celana pendek dan kaos u can see,”
David mendesah.
“Iya, aku tahu. Tapi aku lelaki, May. Bagaimana mungkin kamu memakai baju kayak gini di __ depanku?”
“Biasa ajalah, Dave. Emang kamu nggak pernah lihat pacarmu pakai baju kayak gini?” Maya tertawa hingga membuat David salah tingkah.
“Ah sudahlah, suka suka kamu aja deh,” lelaki itu beranjak. Ia masuk ke kamarnya sesaat lalu keluar lagi, menuju dapur, mengambil air minum, tampak salah tingkah. Dan Maya menatapnya dengan bingung pula.
“Kenapa sih dia?” gumamnya, bingung.

*** 

Bersambung ....

Minggu, 03 Mei 2015

The Royal Couple - Part 1



Bab 1

          Annisa memekik. Mobil mewah yang dikendarai dengan kecepatan tinggi itu menyerempetnya hingga sepeda motor yang ia tumpangi oleng dan membuatnya jatuh terjerembab. Ia bahkan nyaris nyebur ke got beserta sepeda motornya jika saja ia tak pandai menjaga keseimbangan. Ia menggerutu dan menumpahkan kekesalannya entah pada siapa. Tapi sesaat kemudian ia dibuat heran ketika sedan mewah berwarna merah yang tadi menyerempetnya berhenti, lalu bergerak mundur mendekatinya. Dan, sekian detik kemudian, keluarlah seorang lelaki tampan berpakaian rapi. Posturnya jangkung, wajahnya tampan dengan hidung mancung, dan rambutnya yang hitam disisir dengan rapi. Ia masih muda. Jika Annisa tak salah menerka, umurnya mungkin sekitar 28 tahunan. Lebih tua sedikit dibanding dirinya.
“Maaf, kamu nggak apa-apa ‘kan?” Lelaki itu mendekatinya lalu menyapanya dengan nada cemas. Ia melihat ke arah sepeda motor Annisa yang tergeletak, lalu berganti ke arah sekujur tubuh perempuan tersebut hingga membuat perempuan manis itu jengah.
“Aku benar-benar minta maaf. Aku nggak bermaksud bersikap ceroboh di jalan raya hingga akhirnya menabrakmu. Hanya saja, aku tadi lagi buru-buru.” Lelaki itu beranjak lalu membantu Annisa mendirikan sepeda motornya kembali.
“Perlu ku antar ke rumah sakit?” Lelaki itu kembali bertanya dengan khawatir. Annisa yang sempat bengong selama sekian menit seakan kembali tersadar.
“Oh, nggak perlu. Aku nggak  luka kok, hanya sedikit syok aja,” jawabnya kemudian.
“Kamu yakin?”
Annisa mengangguk. Ia melihat ke arah sepeda motornya yang ternyata juga baik-baik saja.
“Kamu yakin nggak perlu ku antarkan ke dokter ataupun ke bengkel?” Lelaki itu kembali menegaskan dengan sopan. Annisa tersenyum.
“Sungguh, aku nggak apa-apa. Kamu bisa melanjutkan perjalananmu kembali. Dan terima kasih kamu mau mengkhawatirkan aku. Tadinya aku sempat berpikir bahwa aku akan menjadi korban tabrak lari,” Annisa terkekeh. Lelaki itu tersenyum dan menatapnya dengan lega.
“Syukurlah kalau begitu. Aku lega kamu nggak apa-apa,” ucapnya. Ia mengulurkan tangannya ke arah Annisa.
“Aku David Mahendra. Bisa tahu namamu?”
Annisa agak ragu. Tapi akhirnya ia menyambut uluran tangan tersebut.
“Annisa,” jawabnya. Setelah keduanya berjabat tangan, lelaki bernama David itu mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya, lalu mengulurkannya ke arah Annisa.
“Ini kartu namaku. Jika kamu mengalami sesuatu akibat tabrakan ini, mohon hubungi aku. Percayalah, aku nggak akan lari dari tanggung jawab. Jika kamu perlu ke dokter, aku akan mengantarkanmu. Dan jika ada kerusakan pada sepeda motormu dan kamu perlu ke bengkel, aku juga akan mengurusnya,” ucapnya.
“Aku harus pergi dulu karena aku ada urusan penting. Semoga kelak kita bertemu lagi,” David kembali menjabat tangan Annisa, sebelum pemuda itu melenggang masuk ke dalam mobilnya dan segera mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan raya ibu kota.
Sesaat, Annisa merasa terpesona. Seorang pemuda kaya, tampan, ramah, dan sangat sopan. Ah, ini jarang sekali. Biasanya orang macam dia, bisanya hanya marah-marah gak jelas jika terkena kejadian seperti ini. Apalagi, jika korbannya seperti dirinya. Orang biasa dari kelurga tak mampu, atau boleh dibilang, orang kecil. Tapi, pemuda bernama David itu benar-benar terlihat beda. Dan Annisa yakin bahwa sikapnya tidak dibuat-buat.
“Ya, semoga bisa bertemu lagi,” tanpa sadar Annisa bergumam sambil tersenyum. Lalu, ia kembali melanjutkan perjalannya ke tempa kerja dengan sepeda motor kesayangannya. Dan untunglah ia benar, sepeda motornyapun tak apa-apa.

          Annisa sempat berpikir mungkin ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan pemuda bernama David Mahendra tersebut. Tapi ternyata, takdir berkata lain. Malam itu mereka bertemu lagi, di tempat kerja Annisa, di sebuah tempat hiburan malam. Semua itu bermula ketika ada seorang pelanggan mabok yang resek yang berusaha menggoda Annisa dan mengajaknya menemaninya. Tentu saja Annisa menolak karena dia hanya seorang waitress. Tapi pelanggan itu marah dan terjadilah keributan. Tanpa ia duga, ternyata David juga berada di sana bersama teman-temannya dan dialah yang berinisiatif untuk turun tangan membantu Annisa. Hingga akhirnya, terjadilah perkelahian antara dirinya dan pelanggan tersebut. Sayangnya, perkelahian itu menyebabkan beberapa barang di tempat hiburan tersebut rusak hingga David dan tamu yang mabuk itu harus mengganti kerugian. Dan sialnya lagi, Annisa harus berhenti dari pekerjaannya lantaran dituduh sebagai penyebab perkelahian tersebut.
“Aku benar-benar minta maaf. Aku nggak menyangka sama sekali kalau tindakanku tadi akan membuatmu kehilangan pekerjaan,” ucap David menyesal setelah mereka berada di luar tempat hiburan tersebut. Annisa menggeleng lembut.
“Nggak apa-apa kok. Lagian, tadinya aku juga udah berniat berhenti dari pekerjaan ini. Trims ya dah mau nolongin,” ucapnya.
David mendesah, merasa menyesal. “Tetep aja kamu kehilangan pekerjaan.” Ujarnya. .
“Oh iya, di mana rumahmu? Aku akan mengantarkanmu pulang,” ujar David lagi.
Annisa mengernyit. “Tapi ...”
Kenyataannya, Annisa benar-benar tak bisa menolak bantuan dari David. Hingga akhirnya, malam itu David-lah yang mengantarkannya pulang ke rumah kontrakannya yang  sederhana di pinggir kota.
Dan mulai sejak itu, mereka menjadi dekat dan menjadi sahabat. David bahkan membantu Annisa mendapatkan pekerjaan lagi yang lebih layak. Kebetulan ia punya sahabat yang punya usaha kafe dan restoran,  dan kebetulan pula ada lowongan sebagai waitress hingga Annisa bisa bekerja di sana.
Bagi David, ia sangat senang bisa bersahabat dengan Annisa. Gadis itu memang dari keluarga sederhana. Tapi ia cantik, pintar dan menyenangkan. Ia sangat baik pada siapa saja dan senantiasa berpembawaan kalem dan tenang. Namun  begitu, ia selalu penuh semangat manakala melakukan pekerjaannya. Itulah mengapa, banyak orang yang suka padanya.
Sedangkan bagi Annisa, ia juga senang bisa bersahabat dengan David karena  baginya, David adalah manusia yang sangat berbeda. Ia tampan, kaya, dan sukses berbisnis. Namun begitu, ia tak sombong sama sekali. Pembawaannya selalu ramah dan penuh perhatian. Dan yang pasti, ia tak pernah membedakan seseorang dari status sosialnya. Tentu hal ini menjadi langka karena selama ini banyak orang kaya yang hanya mau berhubungan dengan mereka-mereka yang dirasa punya status kekayaan yang sama.

***

          “Hari ini kamu selesai kerja jam berapa?” sapa David ketika sore itu ia kembali mengunjungi Annisa ke tempat kerjanya.
“Sekitar setengah jam lagi aku selesai. Kenapa?”
“Aku ingin mengajakmu ke sebuah boutique. Besok mamaku ulang tahun dan aku bingung harus memberinya kado apa. Sepertinya, aku benar-benar butuh bantuanmu untuk memilihkan kado yang cocok untuknya,”
Annisa tersenyum.
“Oke, tapi sepertinya kau harus menunggu dulu setengah jam,”
“Tak masalah. Aku bisa menunggumu sambil menikmati kopi di sini,” jawa David. Ketika ia berbalik, ia bertemu dengan Billy. Teman sekaligus pemilik kafe tempat Annisa bekerja.
“Hai, bro? Ada apa lagi ke sini?”
“Menurutmu?” David tersenyum dan balik bertanya. Billy tergelak. Mereka berjalan berdampingan menuju meja paling ujung dekat jendela.
“Tentu saja kepentinganmu cuma dengan Annisa. Dulu waktu dia belum kerja di sini, kau nyaris tak pernah makan di kafe-ku. Mungkin hanya sekitar 3 kali dalam sebulan. Nah, sekarang, sejak dia di sini, kau hampir tiap hari ke kafe-ku,”
“Setiap hari? Jangan berlebihan. Paling sekitar 3 atau 4 hari sekali,” jawab David cuek.
“Tuh kan? Bener ‘kan? Apa temanku yang terkenal sibuk dan tak pernah mengenal cinta ini sekarang sudah tumbuh dewasa?”
David meninju pundak Billy dengan kesal.
“Kami hanya berteman,” ujar David lagi.
“Iya, sekarang memang teman,  besok siapa yang tahu? Jadi pacar, jadi istri, mungkin aja ‘kan?” Kilah Billy. David tergelak. “Urusi saja cewek-cewekmu yang seabrek itu. Dasar playboy,” ucapnya. Billy tertawa.
“Siapa yang playboy? Cewek-cewek itu yang jatuh bangun menarik perhatianku, bukan aku yang ngejar-ngejar mereka,” Billy membela diri. David kembali tertawa.
“Ya,ya, berarti apa aku harus menyalahkan cewek-cewek itu maksudmu?”
“Ya, maksudku sih nggak gitu,”
Keduanya mengobrol kesana-kemari sambil menunggu Annisa selesai bekerja.

***

          Ulang tahun mama David berlangsung khidmat. Acara yang berlangsung sederhana itu dihadiri oleh seluruh keluarga dekat. Tampak pula Voni, kakak perempuan David beserta Edo suaminya dan juga puteri kecil mereka, Angel, yang baru berusia 2 tahun. Bahkan Rendy, kakak laki-laki David yang biasanya menghabiskan waktunya berkelana dari satu Negara ke Negara lainnya untuk memuaskan jiwa petualangnya, malam itu juga tampak hadir mengenakan baju resmi. Jauh dari penampilannya sehari-hari yang terbiasa dengan baju-baju kasual.
David memberi kado mamanya sebuah baju tunik berwarna hijau tua di padu dengan hiasan-hiasan bernuansa emas. Baju itu Annisa yang memilihkan dan ternyata mamanya sangat menyukainya.
“Sebenarnya papa mengundang seorang tamu istimewa hari ini. Sayangnya dia berhalangan hadir.” ucap pak Hadi, papa David, di sela-sela makan malam tersebut.
“Siapa Pa?” Rendy bertanya antusias.
“Ini kejutan dariku dan mamamu, untuk David,”
David yang mendengar namanya disebut mengernyitkan dahinya.
“Untukku?” tanyanya.
Pak Hadi manggut-manggut.
“Kita akan bicarakan ini di ruang kerjaku setelah makan malam ini selesai, ok?”
David menatap papanya tanpa bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Tapi ia tetap mengiyakan ucapan papanya. Setelah makan malam itu selesai, ia menemui papanya di ruang kerjanya.
“Ada apa, Pa?”
Pak Hadi tak segera menjawab.
“Papa dan mamamu telah sepakat mencarikan seorang istri untukmu,”
David tersentak. “Apa?!”
“Dia putri tunggal teman bisnis papa yang sukses membangun kerajaan bisnisnya di Eropa dan Amerika. Dan kami sepakat untuk menjodohkan kalian. Jangan khawatir, dia sangat cantik dan pintar. Kau pasti menyukainya,”
“Enggak, Pa. aku menolak perjodohan ini,”
Pak Hadi melotot, tak menyangka dengan penolakan David yang begitu cepat.
“Apa maksudmu kamu menolaknya? Bukankah sekarang ini kamu sedang enggak punya pacar?”
“Ini bukan masalah aku punya pacar atau enggak, Pa. Tapi aku nggak suka papa mencampuri urusanku dalam mencari pendamping hidup. Kenapa bukan kak Rendy saja yang papa jodohkan dengannya?”
“Kamu ‘kan sudah hafal dengan kebiasaan kakakmu. Dia jarang di rumah, dia bahkan tidak berniat mengambil alih perusahaan. Yang bisa dia lakukan hanyalah bersenang-senang,”
David mendesah kesal. “Pa, selama ini aku selalu patuh denganmu ‘kan? Aku bahkan mengambil alih perusahaan padahal papa tahu aku nggak menginginkannya. Tapi untuk kali ini aja, Pa. Hanya untuk kali ini, tolong jangan mencampuri urusanku dalam hal mencari istri.”
“David?”
“Kumohon, Pa. Untuk kali ini aja, ku benar-benar ingin melakukannya dengan caraku sendiri,”
“Tapi kamu satu-satunya harapan papa,”
David menggeleng jengkel.
“Jika kau tidak ingin melakukan ini untukku, lakukanlah ini untuk perusahaan kita, anakku,”
David mengernyitkan dahinya.
“Apa maksud papa?”
“Kamu sendiri tahu ‘kan keadaan perusahaan kita. Perusahaan kita sedang tidak begitu bagus. Kita bahkan harus mengurangi ratusan pekerja. Jika kamu mau melakukan pernikahan ini, kita bisa kembali bangkit dan mengembangkan usaha kita tidak hanya di Asia tapi juga di Eropa dan  Amerika. Bayangkan ratusan ribu pekerja yang menggantungkan hidupnya dari perusahaan kita, anakku.”
David ternganga.“Jadi, maksud papa pernikahan ini hanya berlatar bisnis semata?”
Pak Hadi menarik nafas berat. “Papa tidak bermaksud begitu. Tapi, pikirkanlah karyawanmu, mereka punya keluarga, dan mereka butuh tempat tinggal dan makan dengan layak,”
David bangkit dengan segera. “Aku benar-benar kecewa pada papa,” ucapnya seraya beranjak meninggalkan ruangan tersebut.

***

David melirik arloji di tangannya dengan jengkel. Papanya bilang, wanita itu bersedia menemuinya di sini, di restoran ini, tepat pukul 7 malam. Ini memang baru pukul 7.10. Tapi David seraya tak sabar untuk menemuinya. Bukan karena ia menyetujui perjodohan itu, tapi karena ia benar-benar ingin menegaskan bahwa ia menolak rencana tersebut. Ia yakin bahwa ia punya kemampuan untuk terus mengembangkan bisnisnya. Dan ia yakin, tanpa mengikuti perjodohan ini, ia pasti mampu menyelamatkan perusahaannya dan juga seluruh karyawannya.
Dan sesaat kemudian, tatapan matanya menangkap sesosok makhluk cantik yang melenggang memasuki ruangan.  Sosoknya ramping dengan tubuh tinggi semampai, ia bahkan tidak menggunakan sepatu bertumit tinggi. Rambutnya yang lurus sebahu dia biarkan terurai dan bergerak bebas. Wajahnya cantik meski tanpa sentuhan make up berlebih. Ia mengenakan baju mini dress warna hijau toscha yang terlihat melekat sempurna di tubuhnya. Bagian bawah baju itu berada sekitar 10 cm di atas lututnya hingga kakinya yang jenjang dan tampak mulus leluasa terekspos. Dan ini cukup untuk membuat tamu-tamu pria di tempat tersebut terpana selama beberapa saat. David ingin mengabaikan wanita cantik yang bergerak ke arah mejanya. Tapi naluri lelakinya tetap saja tak bisa menyembunyikan rasa kagum pada wanita tersebut. Ia ... terpesona.
“Hai.” perempuan itu menyapa dan langsung duduk di kursi yang berada di seberang David tanpa menunggu dipersilahkan. “David Mahendra ‘kan?” Ia kembali menyapa. Kedua matanya yang bulat indah bergerak-gerak dengan indah. David seperti di bangunkan dari mimpinya. Ia terbata. “Y-Yaaa ... dan ... kamu pasti ___”
“Maya. Maya Angela.” Perempuan itu menjawab cepat.
David manggut-manggut. “Aku sudah tahu identitasmu dari papaku,” jawabnya..
Perempuan bernama Maya itu juga manggut-manggut. Ia menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangan di dada lalu menatap David dengan tatapan angkuh. “Ok, Dave__”
“David.” David meralat cepat.
“Ok, David. Aku ingin membicarakan tentang rencana perjodohan kita. Langsung aja, tanpa basa-basi. Jadi___”
“Aku menolaknya.” David memotong.
Bibir Maya mengerut.
“Kamu menolaknya?”
“Apa kamu ingin menerimanya?” David balik bertanya.
“Aku juga ingin menolaknya.” Tukas Maya, ketus.
“Baguslah kalo begitu. Bilang aja pada orang tuamu kalo kamu menolak perjodohan ini. Dan kita bisa segera mengakhiri apa yang belum kita mulai.” David juga menjawab dengan ketus.
No, kamu aja yang bilang ke orang tuamu bahwa kamu yang menolak perjodohan ini.” Jawab Maya.
David mengernyit. Sesaat ia melakukan hal yang sama, seperti yang Maya lakukan. Ia menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap ke arah Maya dengan angkuh. “Well, kenapa harus aku?”
“Dan kenapa kamu berani menyuruhku?” suara Maya terdengar arogan.
David menatapnya sebal.
“Papaku bisa saja membunuhku jika aku berani menolak perintahnya,” Maya kembali melanjutkan.
“Itu bukan urusanku,” jawab David.
“Tentu saja ini menjadi urusan kita berdua karena orang yang akan dijodohkan denganku adalah kamu!” Maya membentak. David tercengang. Ia tak menyangka bahwa makhluk cantik di depannya ternyata ... judes!
David terdiam sesaat.
“Kita nggak bisa menyelesaikan hal ini dengan cepat. Kita akan selesaikan perihal perjodohan ini perlahan-lahan. Yang jelas, aku sudah memberitahumu sikapku tentang hal ini.” Jawabnya kemudian.
“Oke, aku juga bisa memahamimu, Dave,”
“David, bukan Dave.” David mendelik.
“Oke, David. Bukan Dave.” Jawab Maya cuek tanpa mempedulikan David yang menatapnya dengan kesal.
“Aku harus pergi dulu. Semoga kita bertemu lagi.” Lelaki itu bangkit.
“Oke, Dave.” Maya ikut bangkit. David melotot ke arahnya. Dan perempuan itu hanya meringis hingga memperlihatkan giginya yang rapi dan bersih.
“Ya, Dave? David? Atau siapalah, whatever,” jawab Maya seraya beranjak lalu mendahului langkah David meninggalkan tempat tersebut.

***

          Suasana night club hari itu ramai seperti biasanya. Billy melangkahkan kakinya menuju ruang VIP dan tampak David sudah berada di sana sendirian. Minumannya tampak utuh tak tersentuh.
”Tumben ke sini?” Billy menghempaskan tubuhnya di samping David.
“Ada masalah?” tanya Billy lagi ketika ia melihat raut muka David yang tampak kusut.
“Enggak, aku cuma suntuk aja,” jawab David.
“Apa karena rencana perjodohan itu?”
David mengernyit heran. Ia menatap Billy. “Darimana kamu tahu tentang perjodohan itu? Apa sudah dimuat di surat kabar?”
“Kak Rendy yang memberitahuku.” Billy menjawab enteng.
David mendesah kesal. “Orang itu memang nggak pernah bisa menjaga mulutnya,” gerutunya.
“Apa dia cantik?” tanya Billy antusias.
“Siapa?”
“Itu, yang mau dijodohkan sama kamu,”
“Kalau kamu tertarik, cari tahu sendiri aja,oke?”
“Kamu nggak menyesal karena telah menolaknya ‘kan?”
David melotot. “Dasar  playboy. Yang ada di kepalamu pastilah soal cewek  melulu.”
Billy hanya menyeringai.
“Apa kamu menolak perjodohan itu karena Annisa?”
David menatap kembali ke arah Billy. “Kenapa dengan Annisa?”
“Yaa, siapa tahu aja, kamu jatuh cinta pada cewek sederhana itu sehingga kamu menolak di jodohkan dengan perempuan lain.” Billy sekedar menerka.
David tak segera menjawab. “Entahlah, Bill. Tapi intinya adalah, aku nggak suka di atur-atur oleh papaku. Aku bukan anak kecil lagi.” Desisnya.
Billy mengangkat bahu.
“Well, aku nggak tahu seburuk apa hubunganmu dengan papamu. Tapi sebagai sahabat aku akan tetap menyarankan agar kamu menyelesaikan masalahmu dengan bijaksana. Nggak ada salahnya ‘kan kamu bicara lagi dengan papamu. Jika kamu nggak suka perempuan yang di jodohkan itu, bilang aja kamu udah punya pacar.”
David terdiam sesaat. “Tau deh,” jawabnya kemudian. Ia bangkit.
“Mau kemana?”
“Pulang.”
“Kamu menyetir sendiri?”
David mengangguk.
“Kamu yakin baik-baik aja?” pertanyaaan Billy terdengar khawatir. David tersenyum.
“Tenang aja. Aku nggak mabuk. Aku bahkan belum menyentuh minuman beralkohol sedikitpun,” jawaban David yang meyakinkan membuat Billy lega hingga membiarkan temannya itu pulang dengan menyetir sendiri.

***

          David segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur ketika sampai di apertemennya. Kedua mata tajamnya menerawang ke langit-langit kamarnya. Dan ia kembali teringat akan papanya dan juga rencana perjodohannya dengan Maya.
Dan kebenciannya pada lelaki itu itupun kian bertambah. Entah apa yang membuat lelaki setengah baya itu memperlakukan ia dengan cara yang berbeda. Cara yang sama sekali berbeda dengan kedua kakaknya. Papanya membiarkan kedua kakaknya menentukan jalan hidup mereka sendiri. Apapun itu, papanya pasti setuju. Mereka di beri kebebasan penuh. Mereka sekolah dimana mereka ingin sekolah. Mereka melakukan hobi yang mereka inginkan. Papa bahkan memperbolehkan kak Voni berhenti kuliah demi bisa segera menikah dengan seorang lelaki yang bahkan belum punya pekerjaan tetap. Ia juga memperbolehkan ketika kak Rendy  tak ingin terlibat dalam perusahann dan lebih memilih untuk berkelana ke berbagai negara demi hasrat petualangannya bersama rekan-rekan backpacker-nya!
Lantas, bagaimana dengannya? Ia bahkan tidak pernah mengenyam kebebasan sejak ia kecil. Selama ini papa yang senantiasa mengatur nyaris seluruh hidupnya. Mulai dimana dia harus sekolah, kuliah, bahkan jurusan apa yang harus ia ambil. Ia juga menentukan dengan siapa ia harus berteman. Dan karena papanya-lah ia harus memegang tampuk kekuasaan di perusahaannya dalam usia yang sangat muda. Dan jujur, bukan itu yang ia inginkan dalam hidup.
Dan sekarang, urusan mencari pendamping hidup pun ia juga ikut campur!
David menggerutu. Ia gamang. Selama ini ia memang tak berdaya melawan papanya. Tapi, akankah kali ini ia berani melawannya? Ia tak tahu. Ia sungguh tak tahu.

***

          Maya menghentikan mobil yang ia kendarai di sebuah kafe ketika menyadari ini sudah waktunya jam makan siang. Selain itu, ia merasa cukup kelelahan setelah berputar-putar tak tentu arah menyusuri setiap sudut kota demi memuaskan rasa ingin tahunya tentang kota yang baru ia datangi sekitar beberapa bulan yang lalu.
Setelah memarkir mobilnya, perempuan itu segera beranjak masuk ke kafe tersebut. Ia menemukan sebuah tempat yang nyaman di dekat jendela, di lantai dua. Sambil membolak-balik buku menu, seorang pelayan menghampirinya.
“Silahkan, mbak. Mau pesan apa?” Ia menyapa ramah. Maya tersenyum.
“Aku tahu dari internet kalau tempat ini terkenal dengan stik-nya yang super lezat. Aku ingin pesan yang itu,” jawabnya. Pelayan itu tersenyum.
“Iya, mbak. Banyak pelanggan kami yang merasa puas dengan stik yang kami punya. Tak jarang mereka akhirnya menjadi pelanggan tetap kami,” ia menjawab.
Maya manggut-manggut.
“Minumnya?”
“Jus jeruk,” jawab Maya cepat. Itu adalah minuman favoritnya, meskipun ia punya tunggakan maag.
“Oke, akan segera kami siapkan.” Pelayan cantik tersebut mohon diri dengan sopan. Dan tak butuh waktu baginya untuk kembali membawa pesanan Maya. Namun, sebuah insiden kecil terjadi ketika pelayan itu berniat meletakkan segelas jus jeruk di depan Maya. Tiba-tiba saja, gelas itu meleset dan tumpah. Tumpahan jus jeruk menyiram baju dan rok Maya sementara gelasnya sendiri meluncur ke lantai dan pecah berkeping-keping. Maya sempat menjerit sesaat karena kaget. Sontak ia berdiri, mengambil tisu lalu segera mengelap bajunya yang basah dengan tisu tersebut. Pelayan restoran yang menumpahkan minuman tersebut tampak pucat.
“Ya ampun mbak. Maafkan saya. Saya benar-benar nggak sengaja.” Ia memohon maaf berkali-kali dengan raut menyesal. Maya tak menjawab karena terlalu sibuk mengelap bajunya. Hingga akhirnya, pemilik restoran mengetahui kejadian itu dan ia segera mendatangi mereka dan mencari tahu apa yang terjadi.
“Apa yang terjadi Annisa?” Billy melangkah ke arah kedua perempuan tersebut dengan penasaran. Ia mengecilkan volume suaranya karena beberapa tamu tampak memperhatikan mereka.
“Saya benar-benar nggak sengaja, pak. Saya menumpahkan jus jeruk itu ke baju mbak ini.” Annisa menjawab dengan panik. Maya mendongak ke arah Annisa lalu ke arah Billy, bergantian.
It’s okey. Ini hanya kecelakaan kecil, biasa terjadi pada siapa saja. Tapi semoga kau tak ceroboh lagi ya.” Ia mengucapkan kalimat terakhir seraya menatap Annisa yang tampak ketakutan lalu kembali mengelap bajunya.
Billy terhenyak. Bujang tampan itu segera terpana menyaksikan seorang perempuan cantik luar biasa berada di hadapannya.
“Maya Angela?” Ia mengguman tanpa sadar dan tetap menatap perempuan didepannya yang masih sibuk mengelap baju, dengan takjub.
Maya mendongak, kembali menatap Billy.
“Kamu tahu aku?” Ia bertanya langsung.
“Tentu aja.” Jawab Billy dengan senyum sumringah. Ia berganti menatap Annisa.
“Annisa, tolong suruh orang untuk membersihkan tempat ini dan antarkan pesanan yang baru untuk mbak ini. Aku akan mengajaknya ke ruang VIP, sebagai permintaan maaf. Jadi, antarkan aja pesanannya ke sana.” Ia memberi perintah sopan.
“Oh, nggak perlu repot. Aku masih bisa melanjutkan makan siangku di sini kok,” suara Maya tak kalah sopan.
“Baik pak.” Annisa menjawab cepat. Ia baru saja ingin beranjak ketika sebuah suara menghentikan niatnya.
“Untuk apa kamu di sini?”
Annisa, Billy dan juga Maya menoleh hampir bersamaan ke arah suara tersebut. Tampak David sudah berdiri tak jauh dari mereka dengan santai dan kedua tangan berada dalam saku celananya. Ia melangkah perlahan ke arah mereka – tetap dengan kedua tangan di dalam saku – dan pandangan matanya tertuju langsung kepada Maya.
“Untuk apa kamu di sini?” Ia mengulangi pertanyaannya dengan nada ketus. Maya menelengkan kepalanya, membalas tatapan lelaki itu dengan kesal.
“Apa kamu mengikutiku?”
Pertanyaan David membuat Maya membuang nafas. Ia melemparkan tisunya ke atas meja lalu menatap lelaki itu dengan angkuh.
“Dengar ya mister sok tahu. Aku ke sini untuk makan, bukan untuk mengikutimu. Astaga, apa yang membuatmu begitu percaya diri sehingga aku harus repot-repot mengikutimu ke sini? Aku bahkan nggak peduli sama sekali dengan urusanmu.” Nada suaranya meninggi sehingga sempat membuat beberapa tamu mempedulikan mereka, dan Maya tak peduli.
Perempuan itu meraih tasnya. Lalu menatap Billy tanpa rasa canggung sama sekali.
“Oh, terima kasih atas pelayanannya. Jujur aku tak puas dengan pelayanan di sini, tapi sepertinya aku masih bisa datang lagi, kapan-kapan. Dan, terima kasih atas niat baikmu tadi. Mungkin lain kali aku akan menerimanya.” Ia beranjak. Tanpa menghiraukan panggilan dan bujuk rayu Billy, meskipun lelaki itu sempat mengejarnya selama beberapa meter.
“Astaga, dia perempuan yang judes,” David sempat menggumam. Tapi ekor matanya masih sempat mengikuti sosok tinggi semampai itu melenggang meninggalkan rumah makan, dengan mobilnya.
“Oh, dia ramah kok. Tadi aku menumpahkan jus jeruk ke rok-nya dan dia nggak marah padaku. Aku beruntung. Jika tamu lain, riwayatku pasti tamat. Ngomong-ngomong, kalian saling mengenal?” tanya Annisa.
David tak segera menajwab. Ia menggaruk-garuk kepalanya seperti orang kehabisan akal.
“Dia ....”
Kalimatnya terhenti ketika Billy menghampirinya.
“Annisa, segera bereskan tempat ini. Dan kau, bung. Ikut denganku, kita harus bicara,” Billy merangkul pundak David dan segera mengajaknya melenggang ke ruangannya. Annisa hanya mampu menatap kepergian dua lelaki jangkung itu dengan heran.

***

          Billy membelalak. Mulutnya bahkan sempat terbuka untuk waktu yang lama karena saking kagetnya. “Jadi, perempuan yang akan dijodohkan denganmu itu adalah ___ dia!? Maya Angela!?” Ia berteriak. David hanya mengangguk malas.
“Dan kamu berniat menolaknya!?” Ia kembali berteriak dan David pun kembali mengangguk, tetap dengan rasa malas. Billy meletakkan kedua tangannya di kepalanya dan sempat mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Kamu pasti gila.” Ia mendesis. David menatapnya heran.
“Kamu tahu siapa dia?” Ia bertanya.
“Iyalah. Maya Angela, puteri tunggal Yohanes Anthon. Pewaris tunggal semua kerajaan bisnisnya. Boleh di bilang, dia-lah Paris Hilton-nya Indonesia. Apa kamu nggak tahu itu?”
David mengangkat bahu.
“Aku tahu ayahnya. Hanya sekedar mendengar namanya. Tapi urusan puterinya, aku nggak tahu. Aku minim informasi,” jawabnya jujur.
Billy kembali mendesah.
“Aku nggak heran kamu nggak tahu banyak tentang dia. Ia memang menghabiskan masa kecil dan masa kuliahnya di luar negeri. Aku bahkan dengar kalau dia juga mulai merintis bisnis di Amerika, mengikuti jejak ayahnya. Ia pernah beberapa kali masuk media karena sepak terjangnya sebagai calon pewaris kekayaan ayahnya. Selain itu ia juga aktif di beberapa kegiatan amal dan sosial, baik di Indonesia dan di luar negeri. Astaga, kamu beneran nggak tahu tentang ini ya?”
David terkekeh.
“Apa kamu nggak salah? Perempuan judes seperti dia aktif di kegiatan amal dan sosial? Ya ampun, aku bener-bener nggak percaya, seratus persen!” Lelaki itu tertawa.
Billy menatapnya dengan putus kesal. “Kamu akan membuat banyak lelaki di negara ini bahagia, jika kamu bener-bener menolak perjodohan ini.” Ia mengguman. Davit mengernyitkan dahinya.
“Emangnya kenapa?”
“Karena itu berarti, kami semua masih punya banyak kesempatan yang sama untuk bisa mendapatkan cewek itu.”
“Cewek itu siapa? Maya Angela maksudmu?”
Billy mengangguk.
“Ya ampun, Bill. Serius? Kamu ingin ... mendapatkannya?”
“Tentu aja, aku akan mengerahkan semua kekuatanku demi cewek itu. Aku bener-bener nggak nyangka bahwa aku akan bisa bertemu dengannya dan punya kesempatan mendekatinya. Oh, thanks banyak ya, Vid, karena kamu menolak perjodohan ini. Kamu mungkin gila karena berani menolak cewek macam Maya, tapi bagaimanapun juga, aku bersyukur kamu melakukannya.” Kedua mata Billy berbinar. David mencibir. “Playboy tetap aja playboy,” gumamnya.
Billy hanya nyengir seraya beranjak ke arah David lalu memeluknya erat.
“Hellooo, aku bukan homo, Bill. Lepasin!”David berteriak-teriak. Billy ngakak seraya melepaskan pelukannya.
“Thanks karena kamu sudah menolaknya. Sekarang aku mantap untuk ngejar-ngejar dia,” ucapnya lagi seraya melangkahkan kakinya keluar dari kantornya. Dan David hanya menatapnya dengan heran. Tapi ia tak peduli dengan apa yang akan dilakukan cowok tersebut.

***

 “Jadi, perempuan yang nggak sengaja ku siram jus jeruk tadi adalah perempuan yang mau dijodohin sama kamu?” Tanya Annisa dalam perjalanan pulang. David yang mengantarkannya, lagi.
Lelaki itu terlihat terkejut. “Apa aku sudah menceritakan tentang perjodohan itu padamu?”
Annisa tersenyum, perlahan cewek manis itu menggeleng.
“Belum, pak Billy yang menceritakan padaku,” jawabnya ragu.
“Dan dia juga memberitahumu bahwa cewek yang tadi adalah orangnya,”
Annisa kembali mengangguk ragu.
“Dia memang nggak bisa menjaga mulutnya,” ucap David geram. Annisa tertawa lirih.
“Dia cantik,” ucapnya kemudian. Ada nada tak wajar dalam kalimatnya tapi David tak menyadarinya.
“Tapi judes,” balas David.
“Cewek judes itu biasanya menarik,”
“Nggak mesti. Buktinya, kamu nggak judes tapi menarik ‘kan?”
Annisa kembali tertawa.
“Ya, ‘kan tadi aku bilang biasanya,” ucapnya.
Terdengar desahan nafas David.
“Aku berniat menolak perjodohan itu,” ia berucap lirih.
“Kenapa?”
“Ayolah, Annisa. Ini jaman apa? Perjodohan bullshit kayak gini sudah nggak jaman lagi. Papaku saja yang sok suka ngatur-ngatur,”
“Maksudmu, kamu menolak perjodohan karena papamu? Bukan karena perempuan itu?”
Pertanyaan Annisa yang tiba-tiba itu membuat David terdiam. Ia berpikir keras. Tapi otaknya serasa buntu.
“Tadinya aku sempat berpikir untuk memintamu berpura-pura menjadi pacarku agar papaku membatalkan rencana perjodohan itu. Tapi___”
“Memintaku berpura-pura jadi pacarmu? Vid, ini bukan sinetron. Cerita macam itu terlalu klise. Pura-pura pacaran, habis itu, cinta beneran. Oh, enggak deh, aku pasti menolaknya kalau kamu meminta,” Annisa memotong. Cewek itu tertawa membayangkan dirinya menjadi pacar pura-pura David.
David manyun. “Ya, kupikir juga gitu. Cara kayak gitu nggak akan mempan. Ah, sudahlah. Jangan dibahas lagi. Besok kamu ada waktu? Jalan-jalan yuk, aku ingin mengajakmu ke taman hiburan. Aku butuh pelampiasan,”
Annisa terdiam sesaat. Mengingat-ingat jadwal kerjanya.
“Boleh. Aku pulang jam 3 sore,” jawabnya kemudian.
David tersenyum. “Oke, ku jemput jam 3, di restoran,” ucapnya seraya terus menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya.

***

David dan Annisa menikmati sore yang cerah itu dengan gembira. Mereka naik rollercoaster, bianglala, kereta gantung, dan sekarang mereka berakhir di sebuah taman sambil menikmati es krim.
“Oke, setelah ini apa?”
“Mm, apa ya? Aku butuh yang nyantai,” jawab Annisa. David terdiam sesaat.
“Perahu dayung di danau?” Ia menyarankan. Cewek berambut panjang itu tersenyum.
“Oke.” Ia menjawab mantap sambil terus menikmati es krim coklatnya. Keduanya bergerak untuk membeli tiket. Tapi ketika mereka hendak antri, mereka melihat orang-orang berkerumun. Dan terdengar suara ribut-ribut.
“Ada apa nih?” David menggumam, entah bertanya pada siapa.
“Orang berantem? Lihat yuk.” Annisa menarik lengan tangan David, mereka bergerak dan menyeruak di antara orang-orang yang berkerumun. Dan Annisa benar. Ada keributan kecil di sana. Seorang laki-laki bertubuh gemuk dan berjenggot tebal tampak berteriak marah-marah. Sementara di hadapannya, seorang perempuan ramping berambut sebahu dengan baju kasual dan sepatu kets juga tampak marah-marah. Sementara di belakang perempuan ramping itu, berdiri perempuan lain dengan wajah pucat dan tampak ketakutan. Annisa menyipitkan matanya menatap perempuan berambut sebahu itu. Hal yang sama ternyata juga di alami David.
“Vid, bukankah dia___?”
“Maya Angela,” cowok itu menjawab cepat.

“Minta maaf nggak?! Ayo cepat minta maaf!” Maya berteriak kembali.
Lelaki gendut itu menatapnya dengan tajam.
“Mbak tuli ya!? Aku nggak melakukan apa-apa pada perempuan itu! Mbak salah lihat!” Ia membela diri. Maya menatapnya dengan jengkel. “Kamu pikir aku buta? Aku melihatnya sendiri apa yang kamu lakukan padanya! Kau menyentuh bokongnya dan itu artinya sama dengan pelecehan seksual!” Ia kembali berteriak dengan lantang. Orang-orang yang mendengarnya mulai ribut dan kaget. Perempuan di belakang Maya tampak mengangguk-angguk dengan takut.
Lelaki itu kembali tertawa mengejek.
“Yang lihat siapa? Cuma mbak sendiri ‘kan? Orang-orang nggak ada yang lihat tuh. Jangan terlalu paranoid dong mbak. Nggak usah sok kecantikan gitu dong. Asal tahu aja, aku bisa kok dapat cewek yang lebih dari itu. Ngapain aku harus susah-susah hanya untuk pegang bokongnya doang?” ia terkekeh.
Maya menatapnya dengan tatapan berkilat penuh amarah.
“Dasar lelaki mesum!” Ia kembali berteriak. Dan tiba-tiba, tanpa di duga, Maya bergerak, berputar dengan gesit, dan dengan hanya satu gerakan, kakinya menghantam wajah lelaki tersebut hingga ia roboh ke tanah. Terdengar orang-orang bersorak sorai. Annisa melongo, David juga.
“Astaga, apa yang baru saja ia lakukan? Menendangnya?” Tanpa sadar ia kembali menggumam lirih.
Maya kembali bergerak. Kali ini ia naik ke atas tubuh lelaki itu, membalikkan tubuhnya hingga ia tengkurap lalu menarik kedua lengannya ke belakang dan menariknya erat-erat hingga ia kembali mengaduh kesakitan.
“Kamu pikir perempuan bisa di pegang-pegan seenak jidatnya, hah?! Tadinya aku hanya ingin kamu minta maaf, tapi sekarang pikiranku berubah. Kamu harus ke kantor polisi, mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Dan aku adalah saksinya. Kelak kamu pasti menyesal karena berani berurusan denganku!” Maya mengumpat dengan marah di atas tubuh lelaki gendut itu.
“Arrgghh, ampun mbak. Iya, aku akan minta maaf. Aku minta maaf. Kita selesaikan saja  secara damai. Jangan dibawa ke kantor polisi ya mbak, please,” lelaki itu memohon. Terdengar teriakan ‘huuu’ dari orang-orang yang berkerumun.
“Bawa aja ke kantor polisi, mbak. Orang kayak dia harus dikasih pelajaran,” mereka berteriak bergantian. Dan begitulah akhirnya, beberapa orang membantu Maya menggelandang  pelaku pelecehan seksual itu ke kantor polisi. Begitu pula dengan perempuan lugu yang menjadi korban, berikut Maya yang bersedia memberikan keterangan sebagai saksi. Ketika perempuan itu meraih tasnya  yang tergeletak di tanah dan hendak beranjak, ekor matanya menangkap sosok David. Kedua matanya mengerjap, segera perempuan cantik itu berbalik dan berlari-lari kecil ke arah David. Ia menatapnya, lalu ke arah Annisa, secara bergantian. Raut mukanya segera berubah. Wajah yang tadinya judes dan tampak penuh amarah, seakan lenyap seketika.
“Dave?” Ia menyapa dengan senyum. Matanya bergerak-gerak indah. David melotot mendengar Maya kembali memanggilnya ‘Dave’.
“Dan gadis pelayan kemarin kan?” Ia berganti menatap ke arah Annisa. Tapi tak ada nada menghina dalam kalimatnya ketika ia menyebut kata ‘pelayan’.
Annisa tersenyum, canggung. David hanya menatapnya tanpa ekspresi berarti.
Ujung jari Maya menunjuk ke arah David, lalu ke arah Annisa.
“Oh, kalian pacaran ya?” ia menyimpulkan. David terhenyak, Annisa juga. Mereka baru saja ingin berkata-kata, namun Maya mendahuluinya dengan cepat.
“Ah, harusnya kamu bilang dari dulu kalau kamu tuh sudah punya pacar. Ribet banget sih. Oke deh, selamat berkencan. Aku pergi dulu, bye,” Maya ngacir begitu saja, berlari-lari dengan lincah melintasi beberapa orang yang masih memperhatikannya. Dan ia seperti tak mempedulikannya, sama sekali.
“Ya ampun, dia__galak sekali ‘kan? Kamu lihat sendiri ‘kan, Nis, dia menjatuhkan lelaki itu hanya dengan sekali tendangan. Dia pasti perempuan tak beres.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut David. Annisa cekikikan mendengarnya.
“Dia hebat, Vid. Beneran deh. Aku nggak nyangka, nyalinya sebesar itu. Lelaki itu bisa saja melukainya, eh, malah dia yang membuatnya babak belur. Wah, sepertinya dia benar-benar cewek yang menarik.”
“Menarik apanya? Kasar  sih iya.” David mencibir.
“Lah, kamu ‘kan lihat sendiri. Dia bahkan rela bertaruh dengan keselamatannya sendiri demi bisa menolong perempuan yang dilecehkan tadi. Itu bagus, Vid.” Annisa kembali menyangkal.
David mengangkat bahu.
“Males ah mikir itu. Yuk, jadi nggak naik perahu?”
Dan merekapun kembali melanjutkan rencana semula.

***

Bersambung ...