Kamis, 14 Mei 2015

The Royal Couple - Part 4



Bab 4

          David kaget ketika pagi itu, papanya datang ke apartemennya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Tapi ia bersyukur karena Maya sudah berangkat bekerja sejak beberapa menit yang lalu sehingga papanya tidak akan memergokinya di sini.
“Kenapa papa nggak ngasih tahu dulu kalo papa akan datang,” David sedikit mengomel. Papa David menatap putranya dengan heran.
“Sejak kapan aku harus memberitahu dulu jika aku ingin berkunjung ke sini?” ucapannya terdengar kesal.
“Aku ‘kan sibuk, Pa. Bagaimana kalo papa ke sini dan aku nggak ada?”
Papa David terkekeh. Ia melangkah menyusuri ruang tamu dan ruang tengah.
“Ada apa papa ke sini?” David mengekor di belakang papanya. Ia khawatir papanya akan bergerak ke arah kamar yang ditempati Maya, karena ia tahu, ada banyak barang perempuan di sana. Dan akan sanget merepotkan untuk menjelaskan pada papanya jika dia mengetahuinya.
“Bagaimana Maya? Kau sudah menemukannya?” papa David duduk di salah satu sofa di ruang tengah.
“Belum,”
“Belum? Kau berniat menemukannya atau enggak? Ini sudah berapa minggu?” papa David terdengar kesal.
“Maya bukan barang, Pa. Dia manusia yang bisa gerak kemana-mana. Dan mencari keberadaannya bukanlah hal mudah,”
“Papa nggak mau tahu itu, Vid. Kau harus bisa menemukannya dan juga menikahinya, secepatnya!”
David mendengus kesal. Ia benci adu argumen dengan papanya.
“Ambisi papa terlalu besar. Papa bahkan nggak peduli jika harus menjualku,”
“Bicara apa kau ini? Apa yang papa lakukan juga demi kamu, Vid.  Demi perusahaan yang kamu pimpin,”
“Termasuk memaksaku untuk menikah?”
“Papa ingin kamu bahagia. Percayalah, Maya adalah perempuan yang sangat baik dan sempurna. Dan papa sangat yakin bahwa hanya dialah perempuan yang akan membuatmu bahagia,”
David menggerutu dalam hati. Ya, papanya benar bahwa Maya adalah perempuan yang sangat baik dan sempurnya. Tapi kenyataan bahwa papanya ikut campur – lagi – membuat darahnya mendidih.
“Tunggu, apa aku melewatkan sesuatu di sini?” papa David bangkit dan menatap sekelilingnya dengan seksama.
“Melewatkan apa?”
“Apa kamu membawa teman wanitamu ke sini?”
David tak segera menjawab.
“Enggak, papa hanya menduga-duga,”
Papa David tertawa sinis. 
“jangan membohongi orang tua, Vid. Aku tahu dengan pasti bahwa kau membawa teman wanita di sini. Aku mencium aroma perempuan di sini,”
David merasakan pipinya bersemu merah. Ya, ia juga merasa apartemennya berbeda sejak Maya datang ke sini. Seperti yang papanya bilang, ada aroma perempuan di sini, di mana-mana. Maya mempunya aroma cologne yang khas, dan ia menyukainya.
“Siapa dia? Annisa-kah? Perempuan yang bekerja sebagai pelayan di restoran Billy itu ‘kan?”
David membelalak. Ia hanya tak menyangka bahwa papanya akan mengetahuinya.
“Darimana papa tahu tentang Annisa?”
“Aku bahkan tahu kalo kalian sudah lama berhubungan. Aku sengaja membiarkannya karena aku yakin kau hanya ingin bermain-main dengannya. Tapi aku tak menyangka kalo kau berani menolak Maya demi wanita seperti dia?”
David mengerutkan keningnya.
“Berhubungan dengan ...” kalimat David terhenti. Oh, adalagi orang yang salah paham mengenai kedekatannya dengan Annisa. Dan David tak berniat menjelaskannya.
“Apa Maya tahu tentang hubunganmu dengan perempuan itu sehingga ia menolak menikah denganmu?”
“Aku nggak tahu,” jawab David cepat. Papa David menatap putranya dengan lekat.
“Dengar, aku tak akan mempermasalahkan jika kamu hanya ingin main-main dengan Annisa. Tapi jika kau berniat menikahinya, aku tidak akan setuju sampai kapanpun. Hanya Maya perempuan yang ingin ku jadikan menantu, bukan yang lainnya. Dan jika kau tak segera membuat Maya menikahimu, maka jangan salahkan aku jika aku berbuat di luar batas,”
Papa David beranjak. David kembali mengekor dengan heran.
“Apa yang ingin papa lakukan?”
Langkah papa David terhenti sesaat. Ia berbalik dan menatap putranya kembali.
“Tinggalkan Annisa dan menikahlah dengan Maya. Jika tidak, aku akan memberi pelajaran pada perempuan miskin itu,”
David melotot dengan geram. Tapi ia tak bisa mengatakan apapun, bahkan sampai papanya beranjak meninggalkan apartemennya.

          David masih dalam keadaan sedikit melamun ketika mobilnya memasuki halaman kafe Billy, untuk mengantarkan Annisa. David masih merasa khawatir dengan keadaan perempuan manis yang baru pulang dari rumah sakit tersebut sehingga ia yang berinisiatif untuk mengantarkan dan juga menjemputnya ke tempat kerja. Tentunya, setelah melewati perdebatan panjang karena Annisa awalnya menolak.
“Kamu baik-baik aja ‘kan?” Annisa bertanya sebelum ia melangkahkan kakinya turun dari mobil David. David mengernyitkan dahinya.
“Baik, emang aku kenapa?”
“Kamu ngelamun terus. Ada masalah?”
“Ngelamun? Enggak-lah. Aku baik-baik aja kok. Udah, segeralah masuk ke dalam. Ntar aku jemput lagi,”
David meyakinkan perempuan tersebut. Annisa manggut-manggut dan segera turun dari mobil meski agak ragu.
“Hati-hati ya,” ia mengingatkan sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan David dan mobilnya. David tersenyum dan mengangguk. Ia baru saja akan menjalankan mobilnya ketika tiba-tiba Billy keluar dari pintu masuk kafe dan segera berlari-lari ke arahnya.
“Mampirlah dulu ke ruanganku, ada yang mau ku omongin,” ucapnya dengan nafas terengah-engah. Mulanya David ragu, tapi akhirnya ia mengiyakan ajakan sahabatnya tersebut.

          “Aku menemukannya, Vid,” ucap Billy dengan mata berbinar-binar. David menatapnya sahabatnya tersebut dengan heran.
“Menemukan siapa?”
“Maya,”
David melotot.
“Aku tahu dimana dia sekarang,”
David merasakan dadanya berdegub dengan kencang.
“Kau tahu dia tinggal di mana?” ia bertanya dengan hati-hati.
“Oh, enggak. Maksudku, aku tahu dia kerja di mana?”
“Di mana?”
“Di panti sosial. Ia membantu merawat anak-anak terlantar. Oh, dia bener-bener  malaikat berhati mulia,”
“darimana kamu tahu dia kerja di sana,”
Billy terkekeh.
“Aku menyewa banyak orang untuk menemukannya,” jawab kemudian.
“Kamu gila, Bill,” David melongo.
“Well, demi cinta, Vid,” jawab Billy enteng.
“Kau tahu, aku bahkan bisa menemuinya dan mengobrol dengannya,” kedua bola mata lelaki jangkung itu berbinar-binar ceria.
“Oh ... ya?” David menggumam dengan ragu-ragu.
Billy kembali mengangguk dengan antusias.
“Dia cerita kalo dia perlu waktu untuk menyendiri dan mikirin banyak hal,”
“Apa dia bilang kalo sekarang dia tinggal dimana?”
“Sayangnya enggak, Vid. Dia bilang itu rahasia dia dan meminta padaku untuk menghormatinya. Dia tidak menolak kunjunganku asalkan aku nggak ikut campur terlalu jauh untuk mencari tahu dimana dia tinggal sekarang,”
David manggut-manggut.
“Itu nggak apa-apa. Toh yang penting aku bisa sering-sering mengunjunginya di tempat kerjanya. Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba aja kamu tertarik untuk tahu dimana dia tinggal? Jangan bilang kalo kamu mulai berubah pikiran tentang perjodohanmu hingga kamu ingin menemukannya,”
David tertawa.
“Enggak, bukan begitu. Aku Cuma pengen tahu aja,” jawabnya, sedikit gugup.
“Kamu tahu, dia bener-bener wanita luar biasa, Vid. Aku melihatnya sendiri merawat anak-anak itu dengan sabar dan telaten. Dia menemani mereka maen, membuatkan makanan, merapikan tempat tidur mereka, ya ampun, dia cantik banget waktu itu,”
David tersenyum sinis. Aku bahkan sudah tahu lebih banyak dari itu! Ucapnya dalam hati dengan bangga.
“Aku bener-bener akan mengerahkan semua tenagaku untuk mendapatkannya karena ia memang pantas untuk itu. Well, dia memang sudah menolakku secara langsung, tapi aku yakin aku masih punya kesempatan,”
Bola mata David mengerjap kaget.
“Dia ... apa?”
“Dia cantik,” jawab Billy lesu, sebenarnya ia tahu maksud pertanyaan David, tapi ia sengaja menjawab ke hal lainnya.
“Bukan. Maksudku, dia ... menolakmu?” David tak menyerah untuk bertanya lagi.
Kedua bola mata Billy yang tadinya berbinar ceria semakin terlihat lesu.
Ia menarik nafas sesaat.
“Ini pertama kalinya aku ketemu wanita yang ceplas ceplos dan apa adanya seperti dia. Aku bahkan belum sempat mengutarakan niatku tapi dia langsung mengatakan hal itu padaku,”
“Mengatakan apa?”
Billy kembali tak segera menjawab.
“Dia bilang, dia menghormati perhatian dan kebaikanku. Tapi, bahkan jika ia harus pergi ke liang kubur, dia hanya bisa menganggap aku sebagai sahabat, dan nggak bisa lebih, selamanya,” lelaki tampan itu mengucap kata terakhir yang ia ucapkan dengan ejaan.
David terbahak. Entah kenapa, ia lega.
“Well, anggap aja itu hukum karma karena selama ini kamu suka mempermainkan cewek, dasar playboy,” ucapnya.
Billy meringis.
“Tapi aku serius dengannya, Vid. Aku sudah berniat tobat jika bisa mendapatkannya,”
“Maksudmu, jika kamu nggak bisa mendapatkannya, maka kamu akan kembali tebar pesona dan merayu semua perempuan di muka bumi ini”
Billy mengangkat bahu.
“Mm, mungkin saja,” jawabnya kemudian.
“Sialan kamu, Bill. Playboy tetap saja playboy. Maya membuat keputusan yang tepat karena ia nggak cocok sama kamu. Kamu tahu kenapa? Karena dia terlalu baik untukmu,” Akhirnya David mengatakannya.
Billy mengernyit.
“Jika kamu tahu dia cewek yang baik, kenapa kamu menolak menikah dengannya?”
“Itu karena ...” kalimat David terhenti. Ia sendiri juga bingung harus menjawab apa.
‘Oh, aku paham. Semua pasti karena Annisa. Kamu sangat mencintai cewek sederhana itu hingga kamu rela menolak seorang perempuan semacam Maya,” Billy membuat kesimpulan sendiri. Dan David hanya membiarkannya, seperti biasa.


          Setelah mengantarkan Annisa pulang, David sampai di apartemennya sekitar pukul 7 malam. Dan ia merasa kaget ketika mengetahui Maya sudah berada di sana. Ia sudah menyiapkan beraneka hidangan makan malam di meja makan dan sekarang ia sedang duduk santai di depan tv. Perempuan itu terlihat baru saja mandi. Wajahnya segar dan David mencium aroma bunga gardenia dari tubuhnya. Aroma yang beberapa minggu ini akrab di hidungnya dan ia menyukainya.
“Hai,” sapa David santai seraya bergerak ke kamarnya. Maya menoleh dan tersenyum.
“Oh, kamu sudah datang?,” perempuan itu bangkit dan bergerak mendekati David. David mempercepat langkahnya menuju kamarnya dan berharap Maya menghentikan langkahnya. Tidak, ia hanya tidak siap jika Maya mendatanginya dengan keadaannya yang begitu cantik, seperti ini.
Tapi do’anya tak terkabul. Maya malah mengikutinya ke kamar.
“Ngapain kamu ikut masuk ke kamarku?,” David mengomel.
“Aku mau cerita sesuatu,”
“Sekarang? Nggak bisa nanti?,”
“Sekarang,” jawab Maya cepat.
“Tapi aku mau ganti baju,”
“Ganti baju aja. Kamu bisa mendengar ceritaku sambil ganti baju,”
“Huh?”
“Aku nggak masalah, Dave. Aku sudah terlalu sering menyaksikan cowok telanjang ketika di Amerika, dan buatku itu nggak apa-apa. Tenang saja, aku nggak akan memperkosamu,” jawab Maya enteng.
What?” David menatapnya dengan kilatan amarah.
Maya hanya meringis. David mendesah. Astaga, ia lupa bahwa yang ia hadapi adalah Maya. Cewek paling keras kepala yang pernah ia temui.
“Oke, terserah kau sajalah,” lelaki itu meletakkan tas kerjanya ke meja dengan kasar lalu mulai melepas kancing jas-nya.
“Aku bertemu Billy, temanmu, yang punya usaha kafe tersebut,” Maya memulai ceritanya.
David manggut-manggut. “Terus?” ucapnya seraya melepas jasnya lalu menggantungnya dengan rapi.
“Bagaimana mungkin dia tahu tempat kerjaku? Kamu yang ngasih tahu dia?”
David tertawa lirih.
“Sori, tapi aku bukan orang kurang kerjaan yang mau repot-repot menggosip dengan teman pria. Dia tahu sendiri. Dia menyewa orang untuk mencari tahu tentang dirimu,” David menarik kaos dalamnya melewati kepalanya lalu menggantungnya di samping jasnya. Ia bertelanjang dada sekarang.
“Nah, itu dia. Tanpa harus ngomong sekalipun aku tahu kalo dia menyukaiku. Itu terlihat jelas di raut mukanya,”
Tadinya David berniat melepaskan celananya sekalian. Tapi ia mengurungkan niatnya. Ia berdiri tegak dan menatap Maya dengan dalam. Ia memutuskan untuk fokus mendengar cerita Maya. Entah kenapa, ia tak suka pembicaraan tentang Billy.
“Dan kamu? Apa kamu menyukainya?”
“Enggak, aku sudah menolaknya dan memperingatkannya untuk tidak mendekatiku lagi. Aku menerimanya sebagai teman, nggak bisa lebih,”
“Kenapa begitu?”
“Berkencan dengan playboy, nggak ada dalam kamusku,”
David mengernyit.
“Darimana kamu tahu dia playboy?”
Maya terkekeh.
“Itu tertulis dengan jelas di jidatnya. Aku bahkan sudah tahu sejak melihatnya. Matanya, ia menatap dengan beda. Khas lelaki yang suka merayu dan mengobral cinta. Ayolah, Dave. Aku bukan anak kecil yang bisa dibohongi dengan rayuan-rayuan gombal macam itu,”
David manggut-manggut. Cewek pintar, ia menggumam dalam hati.
“Well, berarti menolaknya adalah keputusan yang tepat, kukira,” ucapnya kemudian.
“Ini bukan masalah dia menyukaiku atau aku menolaknya. Masalahnya adalah, temanmu sudah tahu keberadaanku dan aku khawatir kalo dia akan cerita ke semua orang tentang keberadaanku. Bagaimana kalo dia mulai mencari tahu tentang tempat tinggalku? Ini akan jadi berbahaya buatku dan juga buatmu,”
David melipat kedua lengannya di dadanya. Ia terdiam, berpikir.
“Dia temanmu ‘kan? Bicaralah baik-baik dengannya dan buat dia menjauhiku. Jika enggak, atau aku masih menemui dia menguntitku, akan kutendang bokongnya,” Maya mengucapkan kalimat tersebut dengan serius. Tapi itu tak membuat David menghentikan tawanya.
 “Oke, aku akan bicara dengannya,” jawabnya lalu beranjak ke lemari pakaian dan mencoba mencari t-shirt tipis yang nyaman.
“oh iya, tumben kamu sudah pulang?” tanya lelaki itu disela-sela kegiatannya mengobrak-abrik isi lemarinya.
“Hari ini aku memang nggak kerja. Aku dapat shift malam. Jam 11 nanti aku baru berangkat,”
Jawaban Maya membuat gerakan David terhenti. Ia menoleh dan menatap ke arah Maya dengan tajam.
“What? Kenapa kau menatapku begitu? Ada yang aneh?” tanya Maya enteng menyadari tatapan David yang sedikit aneh.
“Kamu bilang shift malam? Dan jam sebelas 11 nanti kamu baru berangkat?”
Maya mengangguk.
“Dan kamu pasti berangkat ke tempat kerjamu sendirian ‘kan?”
Maya kembali mengangguk.
“Aku bisa naik kendaraan umum. Ada masalah?”
David mengatupkan giginya geram. Lelaki itu memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah Maya.
“Di mana akal sehatmu, May. Kamu seorang perempuan, dan kamu lalu lalang di luar sana pada jam-jam berbahaya seperti itu?” suaranya sedikit tertahan, menahan amarah yang sebenarnya sudah hampir meledak.
“Berbahaya? Helloo, ini Indonesia, Dave. Amerika bahkan lebih berbahaya dan aku sudah terbiasa. Aku baik-baik saja ‘kan?,”
David meletakkan kaos yang tadi dipegannya dengan kesal ke tempat semula.
“Apa yang membuatmu begitu sombong hingga kamu punya nyali untuk keluar di tengah malam, hah?”
“Ada masalah? Kenapa kamu harus marah-marah kayak gini? Aku bisa menjaga diriku sendiri dengan baik. Kamu nggak perlu repot-repot mengkhawatirkanku,”
“Hanya karena kamu jago taekwondo?”
“Ya,”
“Sabuk hitam?”
“Ya,”
Dan berapa?” (Dan = tingkatan dalam sabuk hitam taekwondo, ada 9 tingkatan)
“Dua,” jawab Maya enteng.
David tertawa mengejek.
“Kamu baru Dan dua  tapi sombongnya selangit?”
Maya menatap David dengan kesal.
“Aku nggak sombong, tapi itu benar. Aku bahkan bisa membutmu terjungkal hanya dengan satu tendangan,” ucapnya.
David kembali tertawa sinis.
“Oke, lepas sweatermu dan kita duel,” ucap lelaki tersebut tanpa melepaskan pandangannya dari Maya.
Maya membelalak.
“Apa?”
“Kita duel. Jika kamu menang, kamu boleh berangkat. Jika aku yang menang, malam ini aku akan mengantarkanmu ke tempat kerja jika kamu dapat shift malam. Dan kamu, nggak berhak nolak,”
Maya menatap lelaki yang bertelanjang dada di hadapannya dengan penuh tanda tanya.
“Serius?”
“Banget,”
“Kamu cari masalah denganku, Dave,”
“Dan kamu adalah sumber masalah bagiku,”
Maya melotot, kesal.
“Apa maksudmu sumber masalah buatmu? Aku nggak pernah gangguin kehidupan pribadimu ‘kan?”
“Nggak pernah? Kedatanganmu ke kehidupanku sudah cukup mengacaukanku,”
“Kapan?”
“Setiap hari,”
“Kamu mulai berlebihan,” Maya mendesis.
“Well, kalo gitu, cepat lepas sweatermu,”
Maya mendengus kesal.
“Oke, kita duel,” Perempuan itu melepaskan sweaternya lalau melemparkannya ke lantai dengan kasar, sehingga tinggal tank top tipis yang membalut tubuhnya.
“Aku nggak pernah maen-maen, Dave. Bersiaplah babak belur dan semoga kau menyesal berhadapan denganku,” Maya memasang kuda-kuda. David kembali tertawa mengejek.
“Dan aku juga nggak pernah maen-maen dalam hal ini. Jangan pikir aku nggak berani menghajarmu meskipun kau perempuan,” lelaki itu merentangkan kakinya dan melakukan hal yang sama dengan Maya.
Dan dalam hitungan detik, keduanya saling serang, saling tendang, dan mencoba saling membanting.
Maya tak mengira bahwa bertarung dengan David akan sesulit ini. Ia bahkan nyaris tak bisa menyentuh lelaki tersebut. Tendangannya meleset. Setiap pukulan ia lesatkan selalu dapat di tangkis dengan mudah oleh David. Alih-alih membanting lelaki tersebut, Maya malah berakhir di atas tempat tidur. David membantingnya! Ia bahkan belum sempat berpikir jernih ketika tiba-tiba David menindih tubuhnya, menekan kakinya dengan kakinya yang panjang, lalu menarik kedua lengan tangannya kemudian menekannya ke belakang punggung Maya. Pergerakannya terkunci! Perempuan itu tak bisa bergerak di bawah tekanan David!
Keduanya saling pandang. Nafas mereka terengah-engah.
“Menyerah?” tanya David penuh kemenangan. Maya mendengus kesal.
Not at all,” jawabnya. Ia berusaha bergerak, tapi gagal. David menindih tubuhnya dengan tepat hingga perempuan itu tak berkutik.
“Menyerah?” David kembali bertanya dengan tatapan jahil. Maya tak segera menjawab. Tapi akhirnya ia mengakui bahwa David menang.
“Bagaimana kamu...”
David tersenyum.
“Aku nggak ingin pamer. Tapi aku dua tingkat di atasmu. Taekwondo sabuk hitam, Dan empat,” jawabnya kemudian, disertai cengiran nakal.
Maya tersentak. Dan empat!? Itu hampir sama dengan atlet profesional!
Oh shit,” ia menggerutu. David tertawa penuh kemenangan.
So, surrender?”
Maya menggigit bibir bawahnya sebal sebelum menjawab.
“Oke, kamu menang. Puas? Sekarang, menyingkirlah dari atas tubuhku,” ia setengah membentak. David tak bergerak. Keduanya berpandangan. Tatapan mereka saling terkunci satu sama lain selama beberapa saat.
Dan, ciuman itu terjadi. Begitu cepat, begitu ringan.
Maya membelalak. Ia tak menyangka bahwa David akan mencium bibirnya.
Ia menatap David dengan bingung, bibirnya setengah terkatub. David pun melakukan hal sama. Tatapan matanya tak terbaca.
Dan bukannya beranjak, lelaki itu malah menunduk lalu kembali mencium bibir Maya dengan lebih lembut dan perlahan.
Kedua mata Maya mengerjap, tapi akhirnya, ia membalas ciuman tersebut.

          Ada kecanggungan luar biasa sejak peristiwa ciuman tersebut. Keduanya tak lagi sering mengobrol. Mereka hanya sekedar mengucap salam lalu ngeloyor begitu saja, manakala mereka berpapasan tak sengaja di ruang tamu, ataupun di ruang makan. Mereka berpikir bahwa itu adalah kekhilafan orang dewasa. Dan itu bisa menimpa  siapa saja dalam situasi seperti itu. Tapi, tetap saja situasi terasa tak nyaman. Hingga akhirnya, David tak betah lagi. Ia memutuskan untuk membahasnya dengan Maya, malam itu ketika mereka selesai pulang kerja.
“Maafkan aku, aku khilaf hingga menciummu terlebih dahulu,” David membuka suara. Maya terdiam sesaat. Ia memang terdengar tidak adil. Lelaki di hadapannya itu punya pacar, tapi ia mencium dirinya? Dilihat dari segi manapun, ia bersalah. Tapi, bukankah ia juga membalas ciuman tersebut. Ia bahkan tak menolaknya. Jadi, ia juga bersalah dalam hal ini.
“Aku juga minta maaf, aku salah. Tak seharusnya aku mencium cowok yang sudah punya kekasih. Astaga, aku pasti cewek yang jahat banget. Aku jadi ngerasa bersalah dengan pacarmu,” Maya menggumam tanpa sadar. Ia mengernyit heran, tunggu! David ‘kan udah bilang kalo dia yang mencium duluan? So, kenapa dia mesti minta maaf?
David menatapnya dengan bingung dan Maya hanya mampu mengacak-acak rambutnya sendiri dengan gemas. Ah, tetap aja ia salah karena lelaki yang ada dihadapannya ini sudah punya kekasih!
“Udah deh, Dave. Anggap saja itu kekhilafan orang dewasa. Aku juga minta maaf karena aku juga membuat situasimu nggak nyaman. Jangan dibahas dan semoga ini juga nggak terulang lagi,” lanjut Maya. Keduanya berpandangan.
“Jika aku berusaha menciummu lagi, patahkan saja tanganku,” ucap David. Maya tergelak. Dan situasi mulai kembali cair, seperti sedia kala.
“Itu nggak mungkin. Kamu dua tingkat di atasku, jadi aku nggak mungkin ngalahin kamu,” jawab Maya. David tersenyum dan manggut-manggut.
“Kalo gitu, jangan ada duel lagi,”
Maya ikut mengangguk tanda setuju.
Yup, no more duel,” jawabnya. Keduanya tersenyum.
“Oke, apa makan malam kita hari ini?” pertanyaan David membuat situasi kembali normal dan nyaman.
“Kesukaanmu, sphagetti,” jawab Maya seraya tersenyum.
“Wah, pasti lezat. Tapi bagaimana kamu tahu kalo aku suka makanan itu?”
“’Kan aku udah bilang, papaku pernah ngasih catatan tentang dirimu. Temasuk tentang makanan dan minuman favoritmu,”
David membelalak.
“Sampek segitunya?”
Maya mengangguk.
“Apa papamu sangat menyukaiku untuk dijadikan menantunya hingga ia harus kayak gini?”
Maya terkekeh.
“Sayangnya iya. Ah sudahlah, jangan ngomongin itu lagi. Kita makan,”
Keduanya melangkah menuju ruang makan.

***

          David menyambut kedatangan lelaki setengah baya itu dengan sopan.
“Maaf karena aku datang tanpa memberitahumu terlebih dahulu. Aku nggak mengganggu ‘kan?” Papa Maya menyapa ramah khas dengan pembawaannya yang bijak. David tersenyum seraya menyilakan lelaki itu duduk sementara ia duduk di kursi yang ada di seberangnya.
“Enggak kok, Om. Om nggak mengganggu sama sekali,” ia menjawab.
‘Kamu pasti terkejut karena aku datang tiba-tiba,”
David terdiam sesaat.
“Apakah ada hal penting, Om?”
Lelaki itu manggut-manggut.
‘Ya, ini berkaitan dengan Maya,”
Ia berdehem sesaat sebelum memulai berkata lagi.
“Kamu pasti tahu dengan apa yang telah menimpanya. Mempelai wanitamu itu kabur entah kemana dan aku belum bisa menemukannya sampai detik ini,”
David hanya mengangkat bahu seraya menyeringai.
“Ya, aku sudah mendengarnya, Om. Kurasa itu wajar pada orang yang hendak dijodohkan. Lagipula, Maya masih muda. Dan saya yakin sekali jiwa pemberontaknya masih besar,”
Papa Maya menatap David dengan lekat.
“Kamu benar nak David. Mungkin kamu memang belum terlalu mengenal Maya. Tapi, begitulah dia tabiatnya. Ia sangat keras kepala dan semaunya. Om masih ingat kalo Om pernah mengurungnya di dalam kamar selama beberapa bulan karena ia nekat melakukan sesuatu yang Om nggak suka. Oh, astaga, om nggak tahu ia mendapat jiwa pemberontak itu darimana. Tapi, yang jelas, Om sangat menyesal dengan perilakunya. Om ke sini untuk meminta maaf secara langsung padamu atas apa yang ia lakukan padamu, dan juga pada keluargamu. Hari pernikahan kalian sudah dekat, tapi ia masih tak mau menampakkan batang hidungnya,” lelaki itu meminta maaf dengan tulus hingga membuat David tak enak hati.
“Maafkan kelakuan putri om, nak David. Om benar-benar minta maaf,”
David merasakan hatinya ditusuk-tusuk. Astaga, ia benar-benar merasa jahat. Penolakan perjodohan itu sebenarnya datang dari dirinya. Ini bukan salah Maya, bukan pula salah pak Yohanes Anthony. Ini salahnya, ini salah papanya yang terlalu ambisius. 
“Papamu dan Om adalah teman dekat sejak kami masih kuliah. Sebenarnya ide pertunganan ini datang dari om. Karena jujur, Om sangat menyukaimu. Aku pernah beberapa kali melihatmu memberikan pidato pada beberapa acara. Dan Om benar-benar kagum padamu. Kamu sosok yang masih muda, ulet, pekerja keras dan sukses. Dan om benar-benar yakin hanya kamulah lelaki yang cocok mendampingi Maya. Bukan yang lainnya. Om yakin kamu bisa mengalahkan kelakuan Maya yang seenak perutnya dan keras kepala. Tapi entahlah, om nggak nyangka kalo Maya akan kabur seperti ini,” lelaki itu nampak sedih. Dan David kembali merasakan kepalanya berdenyut-denyut. Ia merasa bersalah.
“Saya akan terus berusaha mencarinya, Om. Dan saya pastikan, saya akan kembali mengajaknya bicara dari hati ke hati untuk menentukan masa depan kami. Tapi jika Maya tetap menolak denganku, kuharap om mau mengerti pilihannya,”
Om Yohanes mendesah sedih.
“Oh, maafkan aku nak David. Ini benar-benar di luar rencana,”
David menggeleng lembut.
“Masalah Maya, biar saya dan Maya sendiri yang menyelesaikannya Om. Percayalah,ini bukan salah siapa-siapa. Apapun yang terjadi, apakah kami menikah atau enggak, itulah yang terbaik. Om jangan terlalu memikirkannya. Jagalah kesehatan om, itu yang terpenting,”
Papa Maya tersenyum. Ia menatap David dengan tatapan putus asa.
“Dan Om akan tetap bedoa agar kamu jadi menantu Om. Menantu kebanggaanku,”ucapnya lagi. David tersenyum kaku. Bayangan Maya melintas di kepalanya.
“Baiklah, kalo begitu Om pamit dulu.  Sampaikan salamku pada papamu. Om ingin menemuinya secara langsung. Tapi om masih merasa malu bertemu dengannya jika Maya belum ketemu,” pak Yohanes bangkit. Ia menepuk-nepuk pundah David dengan lembut sebelum melangkah meninggalkan kantor tersebut. Dan David mengantar kepergiannya dengan perasaan campur aduk.
Belum lama pak Yohanes Anthony pergi, David dikagetkan dengan kedatangan Annisa. Ia menatap perempuan manis tersebut dengan heran.
“Tumben kesini? Ada apa? Bukankah seharusnya kamu kerja?” ia menyapa duluan. Annisa tak segera menjawab. Raut mukanya tampak kesal.
“Permainan apa yang sedang kamu mainkan?” ia bertanya tanpa duduk di kursi yang ada di hadapan meja David.
David bangkit lalu melangkah memutari meja kerjanya dan mendekati Annisa.
“Permainan apa?” ia bertanya dengan heran.
“Kemarin mbak Maya menemuiku,”
David menyipitkan matanya.
“Maya?”
“Ya, perempuan yang mau dijodohin sama kamu itu,”
“Dan...?”
“Dia meminta maaf secara langsung padaku karena selama ini ia tinggal di apartemennmu. Dia meminta pengertianku agar aku nggak ngerasa cemburu ataupun salah paham pada kalian. ia memastikan bahwa ia terpaksa tinggal bersamamu dan ia juga memastikan bahwa ia takkan lama berada di sana. Astaga, apa pentingnya ia cerita ini ke aku? Dan ... ia menyebut bahwa kau adalah pacarku?” Annisa menatap David dengan sebal. David belum pernah melihat tatapan kesal seperti ini pada Annisa.
Lelaki itu sempat membelalak.
“Dia cerita hal itu ke kamu?” ia memastikan. Dan Annisa kembali mengangguk tegas.
“Ada apa sih sebenarnya? Pertama, kamu di jodohin sama perempuan itu tapi kamu menolaknya. Trus, dia kabur dari rumah dan malah tinggal bersamamu. Dan sekarang, kamu bahkan bilang ke dia kalo kita adalah pacar?”
David menarik nafas sesaat.
“Oke,maafkan aku, Nisa. Aku nggak bermaksud melibatkanmu dalam hal ini...”
“Kamu jelas-jelas sudah melibatkanku, Vid!” Annisa membentak hingga sempat membuat nyali David ciut.
“Berapa kali aku bilang, aku nggak mau ikut campur dengan urusan keluargamu. Kamu nggak bisa memanfaatkan aku hanya untuk membatalkan rencana pernikahan kalian,”
“Iya, aku tahu aku salah. Harusnya aku nggak bohong dengan mengatakan bahwa kamu adalah pacarku. Tapi waktu itu aku nggak punya pilihan. Aku butuh perlindungan, setidaknya dari rencana perjodohan dengan Maya. Dan satu-satunya cara ya aku bilang aja ke dia kalo aku sudah punya pacar,”
“Dan tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu?”
“Maafkan aku,”
Annisa kembali mendengus kesal.
“Aku nggak mau tahu. Yang jelas, selesaikan urusan kalian tanpa melibatkanku,”Annisa beranjak. David melangkah dan menarik tangannya dengan lembut.
“Aku janji aku akan menyelesaikannya secepat mungkin. Tapi, kumohon kamu nggak cerita ke siapa-siapa kalo Maya tinggal di apartemenku, oke?” David menatap perempuan itu penuh permohonan. Annisa hanya melihatnya sekilas, lalu menarik tangannya dari genggaman David, kemudian beranjak meninggalkan kantor tersebut tanpa mengatakan sepatah katapun.

***

Bersambung .....


Selasa, 12 Mei 2015

The Royal Couple - Part 3


Bab 3

          Sulit. Itu yang terpikir oleh David. Ia benar-benar tak menyangka bahwa hidup serumah dengan Maya ternyata tak semudah seperti yang ia duga. Nyaris setiap hari ia dibuat sport jantung oleh cewek cantik tersebut. Bukan karena dia melakukan hal-hal aneh padanya. Tapi, terlalu banyak kejutan yang ia temukan pada perempuan berkaki indah tersebut. Ia mengepel, menyapu, mencuci baju, bersih-bersih, ia ahli melakukan semua pekerjaan rumah tangga. Ia bahkan pandai memasak. Dan masakannya ternyata luar biasa enak.
“Apa kamu melakukan semua ini untuk menarik simpatiku? Agar aku nggak menendangmu keluar dari apartemenku?” tanya David sinis ketika pagi itu ia menemukan Maya telah bermandikan peluh karena selesai mengepel.
Maya menatap lelaki itu, heran.
“Enggak, ini hanya pekerjaan rumah biasa. Apa mamamu dan juga pacarmu nggak pernah melakukan pekerjaan seperti ini?” ia bertanya tanpa nada tersinggung. David tak segera menjawab. Ia hanya ngeloyor begitu saja dan masuk ke kamarnya. Tentu aneh melihat Maya mengepel lantai. Dia seorang tuan putri, pewaris tunggal sebuah kerajaan bisnis, dan mengepel lantai benar-benar aneh untuknya. Toh ia bisa membayar orang untuk melakukannya. David benar-benar tak mengerti dengannya.
“Aku ingin belanja, kau ingin dimasakkan apa?” suara Maya terdengar dari luar kamarnya. David menatap bayangannya di cermin. Tiba-tiba ia tersenyum geli. Astaga, aku seperti lelaki yang sudah menikah? Rutuknya dalam hati.
“Apa aja deh,” jawabnya kemudian.
Dan begitulah akhirnya, sejak Maya ada di apartemennya, ia nyaris selalu makan di rumah. Karena tanpa ia minta sekalipun, Maya selalu memasak. Untuk mereka berdua. David pernah menegurnya untuk tidak memasak lagi. Toh selama ini ia punya juru masak sendiri. Tapi Maya selalu mengatakan bahwa ia biasa memasak sendiri. Dan sekali lagi, kemampuan memasaknya memang tak bisa diragukan lagi.
Begitu pula dengan pagi itu, ketika ia membuka mata, ia mencium aroma masakan dari dapur. Dan seperti biasa, begitu ia ke sana, Maya sudah menyiapkan makan pagi. Ia tetap saja memakai baju favoritnya. Pants super pendek dan kaos tipis tanpa lengan. Hanya saja ia selalu menambahkan apron ketika memasak.
“hai,” ia menyapa, dengan senyum khasnya yang hangat.
“Masak apa kamu hari ini?” David berbasa-basi.
“Seperti yang kamu lihat. Hari ini menunya adalah Chinesse food,” jawab Maya bangga.
“tuh, kopimu di sana,” ia menunjuk ke arah secangkir kopi yang ada di meja makan.
David sempat tertegun sesaat sebelum meraih cangkir kopi tersebut dan menyeruputnya dengan perlahan. Dan tanpa sadar, sembari menikmati kopinya, ia menatap lekat ke arah Maya yang tengah melepas apronnya lalu melipatnya dengan rapi.
“Wah,kita seperti suami istri ya,” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Maya hingga membuat David nyaris tersedak.
“Are you okay?” Maya bertanya. David terbatuk-batuk lalu menggeleng.
“Kenapa kita nggak pura-pura jadi suami istri aja agar orang tua kita nggak kena serangan jantung,” Maya menambahkan.
David mendelik mendengar kalimat itu.
“Enggak, aku nggak suka cerita klise kayak gitu,” jawabnya cepat. Maya mengangkat bahu.
“Aku ‘kan hanya sekedar ngasih saran,” ucapnya.
“Mm, aku ingin keluar sebentar,” Maya melanjutkan.
“Menemui papamu?”
“Enggaklah. Susah-susah aku numpang di rumahmu, untuk apa harus bunuh diri dengan menemui papaku,”
“Lantas? Untuk apa kamu keluar? Kamu nggak takut papamu bisa menemukanmu?”
“Aku pasti hati-hati. Aku ingin cari kerjaan,”
David melongo. Tak habis pikir dengan jalan pikiran Maya.
“Kerja. Kamu punya bisnis sendiri dan kamu pengen cari kerja? Kamu sebenarnya waras nggak sih, May?”
Maya melotot kesal.
“Cukup, kau sudah cukup merendahkan kredibilitasku sebagai manusia. Sampai kapan kamu akan merasa heran dengan semua yang aku lakukan. Dave, aku manusia biasa. Dan aku melukakan hal-hal yang sudah sepantasnya dilakukan manusia. Membersihkan rumah, memasak, mencari pekerjaan, apa sih anehnya?”
“Iya, aneh. Karena menurutku, nggak pantes aja,”
Maya menatap lelaki di hadapannya dengan heran.
“Sekali lagi, aku manusia biasa. Dan aku pantas melakukan hal-hal yang memang sepantasnya dilakukan oleh manusia,” Maya beranjak meninggalkan David di ruang makan sendirian.

***

          Dan sport jantung David tak berhenti sampai disitu saja. Malamnya, ketika ia sampai di apartemennya, ia melongo ketika menemukan Maya tengah berlari-lari di atas treadmill dengan hanya mengenakan undershirt tipis dan pants pendek – lebih pendek daripada biasanya, hingga lekuk tubuhnya lebih jelas terlihat. Dan tentu saja David leluasa menikmati kaki jenjangnya yang benar-benar indah. Lelaki itu sempat menahan nafas sejenak.
Sial, dia benar-benar seksi! David menggerutu dalam hati.
“Siapa yang memberimu ijin untuk menggunakan peralatan fitnesku?” tanya lelaki itu ketus. Maya menoleh. Peluh membanjiri seluruh tubuhnya dan David kembali menggerutu dalam hati.
Perempuan itu  tersenyum seraya menghentikan laju treadmillnya dengan perlahan.
“Kau sudah pulang?” ia turun dan beranjak mendekati David. Lelaki itu mundur beberapa langkah hingga membuat Maya mengernyit heran.
“Oh, apa aku bau keringat? Sori,” tanyanya seraya menghentikan langkahnya. David tak menjawab.
Bukan. Bukan karena kau bau keringat. Tapi karena kau terlihat ... cantik dan ... super seksi. Dan aku takut imanku tak kuat!  Lelaki itu berteriak dalam hati.
“Maaf karena aku nggak ijin. Tapi aku bener-bener nggak bisa menahan godaanku untuk fitnes ketika melihat peralatan fitnesmu,” Maya meraih handuk lalu menghapus keringat di wajah dan lehernya.
“Orang gila mana yang punya kebiasaan olah raga dijam-jam begini?” David protes.
“Aku biasa olahraga di jam-jam segini,” jawab Maya enteng.
“Dan dengan baju seperti ini?” David menatap Maya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Maya balas menatapnya heran.
“Lantas aku harus pake apa? Jubah? Kaftan? Kebaya? Ayolah Dave, ini baju olahraga. Kamu mau protes apa lagi?”
“Iya, May. Tapi kau tinggal bersamaku. Maksudku, bajumu terlalu vulgar dan aku adalah lelaki normal. Itu sama saja memberikan kesempatan padaku untuk bertindak kriminal padamu. Bagaimana jika ...” Ia menelan ludah. “Bagaimana jika ... setan menggodaku dan aku tak bisa mengendalikan diri hingga___” kalimatnya terhenti. Ia bingung harus bilang apa lagi.
“Memperkosaku maksudmu?” ceplos Maya.
“Well, aku nggak bermaksud bilang gitu. Tapi___”
Maya tergelak.
“Itu nggak mungkin, Dave. Kamu nggak mungkin melakukannya,”
David menaikkan alisnya.
“Kenapa nggak mungkin?”
“Karena aku percaya kamu lelaki yang baik, dan aku yakin akan hal itu. Lagipula, kau sudah punya pacar dan jelas-jelas kamu nggak tertarik padaku. Selain itu, aku punya kemampuan bela diri. Jika kamu berani macam-macam, aku akan menendangmu,” Maya beranjak. David hanya mampu menatap kepergiannya sambil melongo.


          David memasuki ruang kerja Billy dengan gontai. Teman dekatnya itu tampak duduk malas-malasan di kursinya dengan wajah tak bersemangat.
David duduk di kursi yang berada di seberang mejanya dan mendesah pelan. Rupanya ia juga mendengar Billy melakukan hal yang sama. Mereka bertatapan, heran.
What? Apa hari ini adalah hari paling galau sedunia hingga kau nampak tak bersemangat gitu?” David bertanya heran. Billy mencibir.
“Kamu juga ngalamin hal yang sama ‘kan?” ia membalas.
“Ada apa sih, Bill? Kau nampak suntuk?”
“Oh, sama, Vid. Kamu juga nampak suntuk,”
David terkekeh mendengar kalimat Billy.
“Ada apa sih?” David kembali bertanya.
“Ini soal Maya, Vid. Ini sudah hampir seminggu dan nggak ada kabar apapun dari perempuan itu. Aku khawatir,”
David nyaris tertawa. Ah, jika Billy tahu Maya ada di rumahnya, ia pasti akan membunuhnya.
“Aku sudah menyuruh orang untuk mencari tahu tentang dia, tapi hasilnya nihil. Dia nggak bisa di temukan, Vid,”
David tak bersuara.
“Apa mungkin dia balik ke Amerika?”
“Mungkin saja,” jawab David cepat.
“Ah, ini nyebelin banget. Dia perempuan yang sempurna dan aku benar-benar nggak bisa menarik perhatiannya. Oh, aku apes dalam hal ini,”
David tertawa lirih.
“Sudahlah, Bill. Berhentilah ngejar-ngejar dia. Perempuan semacam dia nggak cocok buat kamu. Carilah perempuan lain yang bisa kau takhlukan,”
Billy  mendelik.
“Nggak cocok gimana. Aku ganteng, mandiri dan kaya. Jika dibandingin sama keluarganya dia, aku termasuk lumayan. Aku nggak miskin. Dan kelak, selain mempunyai usaha sendiri, aku juga akan mewarisi perusahaan ayahku. Jadi apa salahnya?”
Karena Maya terlalu baik untuk lelaki playboy macam kamu! David nyaris meneriakkan kalimat itu. Tapi ia  urung melakkannya.
“Ah, terserah deh. Silahkan meratapi nasibmu sendiri. Aku mau jemput Annisa,” David bangkit.
“Annisa? Dia ‘kan belum masuk,” ucap Billy. David menatap sahabatnya dengan heran. Sorot matanya mengisyaratkan tanda tanya.
What? Jadi kamu nggak tahu kalo Annisa sakit?”
“Sakit? Enggak, aku nggak tahu,”
Billy melotot.
“Annisa sakit, Vid. Sudah 2 hari ini dia di opname di rumah sakit, kena DB,”
David membelalak.
“Serius?”
Billy mengangguk.
“Jadi kamu bener-bener nggak tahu? Astaga,” nada suara lelaki itu terdengar kesal.
“Di rumah sakit mana?”
“Medica Center,”
Tanpa banyak kata, David segera beranjak. Ia masih sempat mendengar Billy meneriakkan sesuatu, tapi ia tak menggubris.

Annisa dirawat di bangsal kelas 3. Ketika David sampai di sana, perempuan cantik itu tengah tertidur. Ibunya setia menemaninya di sampingnya sambil sesekali mengipasinya dengan kipas kertas.
“Bagaimana keadaannya bu?” tanya David.
“Oh, nak David? Annisa sudah baikan kok,” perempuan setengah baya itu bangkit dari tempat duduknya untuk menyapa David dengan ramah. Mereka memang sudah saling mengenal dengan baik karena David memang sering berkunjung ke rumah Annisa.
“Kenapa saya nggak dikasih tahu bu?” tanya David.
“Tadinya saya pengen ngasih tahu nak David, tapi___”
“Aku nggak apa-apa kok. Sudah baikan. Mungkin lusa sudah boleh pulang,” tak disangka, Annisa membuka mata dan mengucapkan kalimat yang bertujuan untuk membuat David lebih tenang. David segera duduk di samping perempuan tersebut.
“Gimana keadaanmu?” ia bertanya dengan lembut dan penuh perhatian.
“Sudah membaik. Aku hanya kena DB, belum parah banget kok,” Annisa tersenyum.
“Syukurlah. Maaf kalo aku baru tahu,”
“Nggak apa-apa, aku emang sengaja nggak ngasih tahu kamu biar kamu nggak khawatir,”
David menatap sekelilingnya. Ruangan itu di isi oleh 8 orang pasien. Setiap ranjang hanya di sekat oleh tirai tipis yang bisa ditarik dan digeser.
“Aku akan minta pada suster untuk memindahkanmu ke ruang VIP,” David bangkit.
“Nggak usah, Vid. Aku nyaman kok di sini,” Annisa berniat mencegah.
“Ya, tapi kamu akan lebih nyaman berada di sana. Kamu perlu istirahat total. Jangan khawatir, aku yang akan menanggung biayanya,”
“Tapi___”
Teriakan Annisa serasa tak berguna karena David tak menggubrisnya sama sekali. Ia tetap saja beranjak menemui kepala ruangan untuk meminta agar Annisa segera di pindahkan ke ruang VIP.  Dan akhirnya, meskipun dengan penolakan Annisa, ia tetap saja dipindahkan ke ruangan yang diminta David. Ya, harusnya Annisa paham jika David akan tetap melakukannya meski ia menolaknya setengah mati. Sama halnya ketika ia membelikannya sesuatu, ia juga akan memaksa sampai mati hingga Annisa mau menerimnya meski dengan tidak enak hati.
“Terima kasih nak, David. Tapi, tidakkah ruangan ini terlalu mahal?” ibu Annisa melihat sekelilingnya dengan takjub. Sebuah ruang yang begitu besar hanya untuk seorang pasien.
“Nggak apa-apa kok bu, Annisa butuh istirahat. Ibu tidur aja. Biar saya yang ganti menjaga Annisa,” ucap David seraya kembali duduk di samping Annisa.
“Vid?” perempuan itu kembali ingin protes,tapi David keburu meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri sebagai pertanda bahwa ia tak mau dibantah lagi. Akhirnya, Annisa mengalah. Begitu juga ibu Annisa. Perempuan sederhana itu berbaring di sofa untuk beristirahat dan Davidlah yang menjaga Annisa sampai perempuan itu tertidur. Dan, David pun ketiduran.
Ketika lelaki tampan itu terjaga dari tidurnya, ia menyaksikan Annisa tetap tertidur pulas. Jam di dinding menunjukkan pukul 2 dini hari. Ia bangkit perlahan, tapi gerakannya tetap saja membuat ibunda Annisa terjaga.
“Aku harus pulang dulu, bu. Besok aku akan ke sini lagi,” ucap David pelan seraya berpamitan pada ibunda Annisa yang sudah duduk di sofa. Ibunda Annisa tersenyum seraya mengangguk.
“Terima kasih nak David,” ucapnya. David hanya tersenyum dan mengangguk seraya melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut.
         
          Masih dengan mata mengantuk, David melangkah dengan sedikit gontai menuju apartemennya setelah terlebih memarkir mobilnya. Sesekali ia menguap.
Namun, kantuknya segera menghilang ketika ia menyaksikan sesosok tubuh tengah duduk di lantai. Punggungnya tersandar pada pintu apartemennya. Kedua lututnya ditekuk untuk menopang kedua tangannya. Sementara wajahnya ia benamkan ke dalam tumpukan lengannya.
David mempercepat langkahnya dan menyentuh pundak perempuan tersebut dengan lembut.
“May,” panggilnya lembut, dua kali. Maya mendongak, kedua matanya menyipit menatap ke arah David.
“Oh, kamu udah pulang?” ia bangkit dengan perlahan. Ia membersihkan bagian belakang celana jeansnya.
“Untuk apa kamu duduk di sini? Ini jam 2 pagi,”
“Nungguin kamu,”
“What?”
“Aku pengen masuk. Tapi aku nggak punya kunci apartemenmu,” jawab Maya seraya menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan karena lehernya terasa pegal. David terhenyak.
“Kenapa kamu nggak nelpon aku?” ucapnya kesal.
“Aku nggak punya nomor hape-mu,”
David kembali terhenyak. Astaga, ia lupa. Ia lupa memberikan kunci duplikat apartemennya pada Maya, ia juga lupa mencatat nomor hape perempuan itu, padahal mereka sudah tinggal bersama selama hampir satu minggu!
“Sejak kapan kamu duduk disitu?”
“Sejak jam sebelas,” jawab Maya enteng.
David merasakan darahnya mendidih. Ia ingin marah, tapi entah marah pada siapa? Yang jelas Maya tak bersalah dalam hal ini.
Dengan kasar lelaki itu membuka pintu apartemennya.
“Kamu ini bodoh atau apa? Bagaimana mungkin kamu duduk di sana segitu lamanya tanpa melakukan apa-apa? Menungguku, itu tolol. Bagaimana jika aku pulang pagi? Apa kamu akan tidur di luar sana? Kenapa kamu nggak mencoba cari hotel terdekat?”
“Aku ‘kan harus menghemat uangku. Bisnisku lagi nggak bagus, aku nggak punya banyak uang,” jawab Maya lagi. Mulut David seketika terkunci. Luapan kemarahannya seakan menghilang entah kemana. Ia sempat menatap perempuan itu dengan iba.
“Aku tidur dulu,” perempuan itu beranjak meninggalkan David yang mematung, menuju kamarnya.
David pun segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri. Ia melepaskan bajunya lalu melemparkannya ke atas ranjang dengan kasar, lalu segera mengenakan t-shirt tipis dan celana pendek. Ia sempat menatap bayangannya di cermin.
Kamu brengsek. Kamu nggak tahu kalo Annisa sakit, dan sekarang, kamu nyaris membiarkan Maya tertidur di luar rumahmu? Oh, kamu bener-bener brengsek, Vid...
Lelaki itu menggerutu kesal dalam hati. Ya, ia marah pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan Maya masuk tanpa mengetuk pintu ataupun mengucap permisi.
“Ketuk pintu dong,” David mengomel.
“Ups, sori. Tapi aku buru-buru. Kamu punya obat sakit kepala? Biasanya aku juga punya persediaan sendiri. Tapi kayaknya punyaku habis,” ucapnya. David menatap perempuan cantik  di hadapannya dengan lekat. Raut mukanya tampak sedikit pucat. Reflek ia melangkah mendekatinya lalu meletakkan telapak tangannya ke atas keningnya dengan lembut.
“Apa kamu juga sakit?” ia bertanya.
“Enggak, hanya sedikit pusing aja. Apa maksudmu ‘juga’? Emang siapa yang sakit?”
David menarik tangannya, tak segera menjawab.
“Mm, dia opname di rumah sakit, kena DB,” jawabnya kemudian.
“Pacarmu?”
David mengangguk dengan ragu-ragu.
“Astaga, lantas kenapa kamu ada di sini? Kamu nggak nungguin dia di rumah sakit?” kalimat yang tak David duga itu meluncur dari mulut Maya.
“Udah, tadi aku juga dari sana. Besok aku kesana lagi,” jawabnya.
‘Oh, maaf. Aku nggak tahu soal itu. Oke, kalo gitu, segeralah istirahat agar besok kau bisa menjaganya lagi. Obatnya, ada?”
David berbalik lalu menarik laci meja yang berada tak jauh darinya kemudian mengeluarkan sebuah botol berisi obat pereda nyeri. “Hanya ini yang kupunya,” ucapnya seraya menyodorkan botol tersebut ke arah Maya.
“Oke, trims. Selamat istirahat,” Maya meraih botol tersebut lalu segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar David. Lelaki itu diam sesaat, entah apa yang ia pikirkan.

          Ketika David membuka mata keesokan harinya, lelaki segera beranjak ke kamar Maya untuk melihat keadaannya. Ia ingat bahwa semalam Maya mengeluh sakit kepala, dan ia khawatir padanya. Tapi begitu ia sampai di kamar perempuan tersebut, ia sudah tak ada. Tapi meja makan sudah penuh dengan makan pagi yang tertata rapi. Dan David menemukan sebuah memo kecil di samping piringnya.

Aku dapat panggilan kerja jadi harus berangkat pagi-pagi. Have a nice breakfast.

Hanya itu isinya.

***

          Annisa sudah diperbolehkan pulang dari Rumah sakit. David membantunya berkemas-kemas dan mengurusi administrasi rumah sakit tersebut. Ia juga mengantarkannya pulang ke rumahnya. Lelaki itu sempat mampir di rumah sederhana milik perempuan tersebut sebelum akhirnya kembali ke apartemennya sekitar jam 9 malam.
Dan ketika ia sampai di sana, ia belum menemukan Maya pulang. dan ia mulai tersadar bahwa sejak Annisa sakit, ia jarang sekali bertemu atau bahkan mengobrol dengan perempuan cantik tersebut. Dia hanya sempat bilang bahwa sekarang ia bekerja, tapi ia tak menjelaskan lebih jauh ia bekerja di mana. Ia selalu berangkat pagi-pagi sekali sebelum David bangun. Dan ketika ia pulang, perempuan itu sudah tertidur di kamarnya. Dan hebatnya lagi, Maya selalu memasak untuknya. Ketika ia membuka mata, ia sudah menemukan serangkaian hidangan makan pagi di meja makannya. Dan ketika ia pulang, ia juga sudah menemukan makan malam di sana. Dan David selalu tak habis pikir, sebenarnya perempuan ini terbuat dari apa? Ia cantik, pintar, anak orang kaya, dan jujur ia akui, Maya wanita yang baik. Dan yang senantiasa membuat david takjub ialah, Maya begitu cekatan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Hal yang hampir tidak pernah ia jumpai pada wanita-wanita kelas atas yang pernah ia temui!
Setelah berganti baju ia berniat langsung tidur. Tapi ia tak bisa. Yang ia lakukan hanyalah mondar-mandir di kamarnya sendiri, menonton tv, lalu mondar-mandir lagi. Hingga jam 11 malam, belum ada tanda-tanda akan kepulangan Maya. Dan David berada pada suatu titik bahwa : ia mengkhawatirkan wanita tersebut. Dan dengan menyingkirkan segala egonya, lelaki itu meraih telponnya lalu menghubungi Billy.
“Helo, Bill. Apa kamu punya nomor hape-nya Maya?” David bertanya sedikit ragu.
“Maya Angela?”
“Ya,”
Terdengar gelak tawa Billy.
“Helloo, bro. Apa kamu lupa kalo udah beberapa minggu ini Maya menghilang. Ia menutup semua akses yang mengarah pada dirinya. Ia menutup akun jejaring sosialnya dan ia juga mengganti nomor telponnya. Ia nggak ingin ditemukan, Vid. Andai saja aku punya nomor yang bisa kuhubungi, sudah dari dulu aku menemukannya,”
“Oh,” David manggut-manggut.
“Kenapa kamu ingin tahu nomor telponnya? Apa kamu juga pingin bantuin mencarinya? Atau, ada hal penting?”
“Oh, enggak. Lupain aja, selamat malam,” David buru-buru menutup telepon. Ia melirik ke arah jam dinding. Setengah dua belas malam. Ia beranjak keluar kamar dan kembali mondar-mandir di ruang tamu.
Dan kelegaan luar biasa ia rasakan ketika pintu ruang tamu terbuka, dan sesosok tubuh ramping yang beberapa saat lalu ia khawatirkan, muncul.
“Hei, belum tidur?” Maya tersenyum dan menyapa, seperti biasanya. Perempuan itu menutup pintu dengan perlahan lalu segera menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia menyandarkan punggung dan kepalanya ke sofa tersebut. Sesaat ia sempat memejamkan matanya dan mendesah pelan.
“Astaga, aku lelah banget,” gumamnya. David ikut duduk di sofa yang berada di seberang Maya.
“Kamu nggak ke rumah sakit menemani pacarmu?” tanya perempuan tersebut.
“Sudah. Dia sudah boleh pulang dan tadi aku mengantarkannya,” jawab David.
“Ah, syukurlah. Kamu pasti sangat khawatir,”
David hanya tersenyum seraya mengangkat bahu.
“Kenapa baru pulang?” Lelaki itu bertanya sambil sesekali melirik ke arah perempuan di sampingnya.
“Mendadak aku harus menggantikan shift orang lain. Aku nggak bisa menolak, tahu sendirilah, aku pegawai baru,”
“Sebenarnya kamu bekerja dimana?”
Kedua bola mata Maya yang indah mengerjap. Ia menarik punggungnya dan menatap David.
“Apa aku belum cerita ke kamu?”
David menggeleng.
‘Ops, sori. Aku pasti kelupaan. Aku bekerja di panti sosial yang khusus merawat anak-anak terlantar,”
 “Hah?” David melongo.
“Kamu kerja di tempat seperti itu?”
Maya tersenyum dan mengangguk.
“Mmm, gajinya nggak besar. Tapi itu lebih baik daripada menganggur. Selain itu, aku suka anak-anak dan___” kalimat Maya terhenti.
“Sebentar, aku butuh teh hangat,” Maya berniat beranjak, tapi David keburu mencegahnya.
“Biar aku buatkan,” Ia bangkit. Maya menatapnya heran. David jadi salah tingkah.
“Kamu? Membuatkanku teh?”
David mengangguk.
“Akan ku buatkan teh. Kamu kelihatan capek sekali. Anggaplah balas budi karena selama ini kamu sudah masak buatku,” David menambahkan.
“Serius?”
David kembali mengangguk.
“Kalo gitu, sambil nungguin kamu bikin teh, aku akan ganti baju dulu. Nanti kita ngobrol lagi,”
“Oke,” jawab David cepat. Ia sempat tersenyum sebelum melangkahkan kakinya menuju dapur dan segera membuat dua cangkir teh hangat, sementara Maya berganti baju di kamarnya.
Sesaat kemudian perempuan itu muncul dengan mengenakan sweater longgar di bagian leher sehingga David bisa menikmati bahunya yang mulus dengan leluasa. Lelaki itu sempat menarik nafas panjang. Sepertinya ia harus benar-benar kuat iman jika berada di samping perempuan tersebut!
Dan jadilah malam itu mereka kembali mengobrol sambil menikmati teh.
“Aku bener-bener nggak percaya kamu akan bekerja di tempat seperti itu?” suara David setengah menggumam.
Maya tersenyum.
“Itu sangat menyenangkan. Aku nemenin mereka main, menina bobokan mereka, membantu mengganti popok, aku bahkan senang memandikan mereka. Well, ini memang pengalaman pertama kali bagiku. Tapi aku senang melaukakanya,”
“Kamu suka anak-anak rupanya?”
“Tentu aja. Kamu tahu? Anak-anak adalah hal yang sangat luar biasa. Mereka lucu, nyebelin, pokoknya apa aja yang mereka lakukan selalu saja nggak terduga,” Maya bercerita dengan mata berbinar-binar. Dan David tahu ia tulus.
Lelaki itu manggut-manggut. Ia kembali menyeruput tehnya.
“Aku emang pernah dengar kalo kamu aktif di kegiatan sosial. Aku kira mereka bohong, tapi ternyata itu bener,”
Maya tergelak.
“Itu nggak bener. Mereka melebih-lebihkan. Well, aku emang pernah beberapa kali menghadiri kegiatan amal, tapi nggak sering-sering banget. Yang bener adalah aku sering ikut tim relawan ke beberapa daerah yang membutuhkan, seperti yang habis kena bencana, banjir, ya gitu-gitu deh. Dan hasilnya, aku selalu kena marah papaku, haha,” Perempuan itu tertawa geli.
David melongo mendengar jawaban Maya.
“Relawan?” ia mengulang-ngulang kata tersebut.
Maya mengangguk santai seraya menyeruput tehnya kembali.
“Itu nggak mungkin,” David mendesis dan Maya tersenyum.
“Yup, itu bener. Dan nggak semua orang tahu hal itu. Kecuali keluargaku, dan sekarang, kamu. Kau ingat dengan bencana tsunami di Aceh beberapa tahun lalu?”
David mengangguk.
“Aku juga ikut tim relawan ke sana selama beberapa bulan untuk membantu para korban dan juga pengungsi. Aku ke sana tanpa sepengetahuan papaku. Dan hasilnya, papaku mengurungku di kamarku selama hampir satu bulan karena begitu marah dengan kelakuanku,” Maya kembali tertawa geli.
“Kenapa kamu repot-repot melakukan hal itu?”
“Repot? Sama sekali enggak. Karena itulah impianku yang sebenarnya,”
David mengernyit. Sebelum ia bertanya lebih jauh, Maya suka rela menceritakannya.
“Menjadi pewaris kerajaan bisnis papaku bukanlah keinginanku. Menjadi pebisnis juga bukan keinginanku. Aku pengen jadi relawan. Itulah yang sebenarnya. Aku ingin gabung di UNHCR atau paling enggak Palang Merah Indonesia. Akan sangat menyenangkan bagiku kalau aku bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain yang membutuhkan. Aku ingin membantu para korban bencana alam, korban peperangan, para pengungsi dan ... anak-anak terlantar karena situasi seperti itulah yang benar-benar membuatku merana. Mereka butuh bantuan. Mereka butuh dipeluk, dihibur, disayang, dan aku ingin melakukannya,” jawab Maya.
“Tapi seperti yang kamu tahu, papaku mengontrol nyaris semua kehidupanku sehingga aku tak bisa mengambil keputusan dalam hidupku tentang apa saja yang pengen aku lakukan. Well, aku nggak bisa menyalahkan papaku seratus persen. Bagaimanapun juga, aku anak satu-satunya. Dan papaku juga mulai ... tak sehat. Jika bukan aku, lantas siapa lagi yang bisa membuatnya bahagia,” ia melanjutkan.
“Ah,aku bener-benar jadi anak durhaka karena kabur dari rumah,” perempuan itu kembali mengomel lalu menyeruput tehnya.
Sesaat David menemukan dirinya menatap perempuan di hadapannya dengan takjub. Kedua matanya bahkan nyaris tak berkedip.
“Kalo kamu?”
“Hm?” Lamunan David buyar ketika Maya menatap kearahnya dengan dalam.
“Bagaimana denganmu? Aku belum dengar cerita apapun tentang dirimu? Ayolah, Dave. Aku sudah menceritakan banyak hal tentang diriku. Dan sekarang, giliranmu,”
David terdiam sesaat. Perlahan ia tertawa lirih.
“Kenapa kamu ketawa?”
“Karena kita mengalami hal yang nyaris sama,” jawab David. Bola mata Maya mengerjap dan menatap lelaki tampan di hadapannya dengan penuh tanda tanya.
“Maksudmu?”
David manggut-manggut.
“Papaku juga mengambil kontrol akan kehidupanku, semuanya. Dan mengambil alih perusahaan juga bukan keinginanku. Aku nggak pengen menjalani bisnis, itulah yang sebenarnya,”
Maya melongo.
“Jangan katakan kalo impianmu juga ingin menjadi relawan?” ia menebak. David tertawa.
“Nyaris sama. Karena impianku yang sebenarnya adalah keliling ke banyak negara dan membantu orang-orang yang membutuhkan untuk menjadi dokter relawan,” jawabnya kemudian.
“Oh My God,” Maya nyaris berteriak. Ia meletakkan cangkir tehnya lalu beringsut dan duduk menghadap David.
“Ini nggak mungkin. Bagaimana mungkin kita...”
David tersenyum dan mengangkat bahu. Maya segera tergelak dan keduanya tertawa.
“Jadi dokter, itu cita-citaku sejak dulu. Dan setelah itu, aku berniat mengabdikan seluruh hidupku untuk kemanusiaan. Menjadi relawan yang bepergian ke banyak negara yang membutuhkan. Korban perang, bencana alam, tragedi kemanusiaan lainnya, aku ingin merawat mereka,”
"Astaga, kayaknya kita akan menjadi temen yang cocok nih,”
“Kurasa juga begitu,”
“ah, andaikan saja aku tahu dari awal, tentu aku nggak akan memulai hubungan kita dengan permusuhan,”
“Well, aku juga nggak mengiranya,” jawab David.
Maya kembali manggut-manggut tanpa melepaskan pandangannya dari David.
"Aku bisa bayangin, andaikan kita keliling dunia bersama-sama, kita pasti bisa membantu banyak orang. Kau akan jadi dokter yang merawat mereka dan aku akan senang hati menjadi asisten-mu,” Maya berkata dengan raut muka girang. David kembali tertawa.
“Whoa, itu ide yang bagus juga. Tapi sepertinya kita harus mengumpulkan cukup keberanian untuk melakukannya karena kita tahu, orang tua kita akan membunuh kita jika kita melakukannya,”
Maya ngakak.
“Kita perlu rencana ulang,” ucapnya.
“Mungkin,” David membalas.
Keduanya mengobrol dengan akrab, sampai larut malam, sampai Maya tertidur di sofa dan David membantu mengambilkan selimut untuk selanjutnya ia selimutkan di atas tubuh Maya, tanpa sepengetahuan perempuan tersebut.

***

Bersambung ....