Rabu, 13 April 2016

Aku Nomer Dua - Part 2 (End)




“Lusa aku bertunangan,” kalimat itu meluncur dari mulut John.
Aku memejamkan mata sesaat,  lalu mengangguk. Tanpa mampu mengatakan sesuatu, tersenyum juga tidak.  
Pertunangan adalah hal yang baik. Tapi yang benar saja, yang akan bertunangan besok adalah pacarku, bagaimana mungkin aku bisa tersenyum menghadapi semua ini?

Aku memang sepakat menerima dia kembali, bahkan dengan kebohongan yang telah ia perbuat. Aku sepakat menerima kenyataan bahwa ia akan melanjutkan rencana pertunangannya.
Dan aku juga setuju untuk tetap menjadi pacar rahasianya, menjadi yang nomer dua. Tapi ini, tetap saja menyakitkan.

“Liz dan aku sepakat melaksanakan sebuah pesta pertunangan yang sederhana di salah satu vila ayahku di pegunungan. Jadi ....” ia menyebutkan nama perempuan itu, Liz, tanpa ragu.
Aku mengangkat tanganku muak.
“Intinya aku sudah tahu besok kau akan bertunangan. Kau tak perlu menceritakan detailnya padaku. Aku tak butuh tahu,” ketusku.
John menggigit bibirnya, merasa bersalah.
“Setidaknya kau harus tahu bahwa ... mungkin kita takkan bertemu selama beberapa hari karena ...”
“Aku tahu.” Potongku.
“Aku tahu kau akan sangat sibuk kesana kemari dengan tunanganmu. Sudah ku bilang kau tak perlu memberitahuku. Hatiku sakit,” aku bangkit dari sofa beludru yang berada di samping tempat tidurku, lalu beranjak keluar.

“Sudah malam, pulanglah.” Teriakku sambil melangkah ke dapur, membuka kulkas, mengambil botol dan meminumnya dengan rakus. John mengikuti langkahku.
“Aku ingin menginap di sini,” ucapnya. “Ku mohon, biarkan aku tidur di sini, malam ini.”
Aku meletakkan kembali botol minuman ke tempatnya lalu menatapnya sambil terkekeh sinis.
“John, lusa kau akan bertunangan. Dan bisa-bisanya kau ingin menginap di sini? Apa kau gila?”
“Jika aku tidak gila aku pasti bisa memilih salah satu dari kalian!” ia berteriak. “Kenyataannya aku tidak mampu.  Yang mampu ku lakukan hanya menyakiti kalian berdua. Jika tidak gila, lantas apa namanya?” lelaki itu tampak emosional.

Air mataku merebak. Dadaku sesak.
Kehidupan macam apa ini? Hubungan seperti apa yang sedang kami jalani?

“Savanah, aku ...,”
Reflek aku bergerak mundur ketika John berusaha meraihku. Aku menggeleng-geleng lirih. “Jangan sentuh aku,” desisku. “Atau aku akan benar-benar hancur.” Lanjutku. Air mataku menitik.
“Aku sedang berusaha menerima kenyataan bahwa lusa kau akan bertunangan. Ini tak mudah, John! Kau tahu bahwa ... dengan memikirkannya saja ... aku ...” isak tangisku pecah.
John kembali bergerak, meraih tubuhku. Aku sempat meronta, namun lelaki itu mencengkeram kedua tanganku lalu mendekapku erat.
“Maafkan aku, hanya itu yang bisa ku lakukan.” Ia mendesis sembari terus memelukku, membisikan kata-kata maaf di telingaku. Mengatakan bahwa ia mencintaiku, berulang-ulang.

Dan jika sudah seperti ini, aku lemah.
Tak berdaya. 
Seolah tak mampu mengambil jalan lain selain berakhir dengan memaafkannya, lalu menerimanya kembali.

***

Tepat di hari pertunangannya, aku sekarat.
Yang ku lakukan malam itu hanya duduk membisu di lantai kamar dengan kondisi gelap gulita. Lampu tak kunyalakan, sengaja. Aku membiarkan tungkai kakiku yang telanjang berselonjor dan merasakan lembabnya lantai keramik. Ku sandarkan punggungku di pinggiran ranjang dengan putus asa.

Membayangkan John bertunangan dengan perempuan lain, tersenyum ke arahnya, mengatakan cinta padanya, sambil menyematkan cincin berlian di jari manisnya, lalu mencium bibirnya dengan penuh kasih.
Aku meratap, menangis, mengutuki diri sendiri.
Dan aku benar-benar SEKARAT! Seperti seorang pecandu yang membutuhkan asupan narkotik, segera.

Dan pikiranku berkelana kemana-kemana.

Ini baru pertunangannya. Bagaimana jika kelak mereka menikah, berbulan madu, lalu punya anak, punya sebuah keluarga sungguhan yang bahagia. Lalu aku? Bagaimana denganku?
Sampai kapan aku akan menjadi bayangan? Sampai kapan aku akan menjadi orang kedua? Seseorang yang mungkin berusaha ia sembunyikan, yang bahkan takkan mungkin mendapatkan pengakuan dari publik bahwa kami saling mencintai.

Apa aku akan sanggup menghadapi semua?
Tidak. Aku pasti mati, bunuh diri. Aku takkan sanggup menyaksikan semua itu.

Bahuku terguncang, dan kali ini isak tangisku makin keras. Meraung-raung seperti anak kecil yang kehilangan mainan.
Sudah lama aku ingin melakukannya. Menangis seperti ini.
Mengeluarkan semua amarah, sumpah serapah.

KENAPA KAMI HARUS SEPERTI INI, TUHAN?

***

Beberapa hari aku tak melakukan kontak sama sekali dengan John. Selain karena ia telah mengatakannya padaku, aku juga sengaja mematikan phonselku. Sengaja saja. Entah kenapa, ada rasa lelah luar biasa dengan semua kondisi ini. Sempat terpikir olehku untuk menyerah. Tapi, entahlah ....

Aku baru saja pulang dari tempat kerjaku, tepat pukul 8 malam, ketika aku melihat seorang perempuan cantik tinggi semampai tengah berdiri dengan canggung di depan pintu apartemenku. Dan sosok itu tak asing buatku. Liz, tunangan John.
Aku tahu dia dari foto-foto yang ada di phonsel John.

“Savanah?” Ia menyapa dengan pertanyaan ketika melihat kedatanganku. Aku tersenyum kaku lalu mengangguk. Sepertinya aku tahu maksud kedatangannya kemari. Insting wanita. Dan sepertinya insting kami sama.

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” ucapnya langsung, tanpa basa-basi. Aku kembali tersenyum kaku, lalu mengangguk.
Setelah membuka pintu apartemenku, aku segera menyilakan perempuan itu masuk. Membuatkannya segelas teh hangat, lalu duduk di sofa yang berseberangan dengannya. Seolah siap dengan pembicaraan kami yang mungkin sepertinya takkan berlangsung lama. Dia tipe yang to the point, dan aku juga. Jadi takkan banyak waktu yang tersita untuk kami.

Urusan perempuan, kami menyebutnya begitu.

“Sebenarnya aku sudah tahu perihal hubungan kalian sejak beberapa bulan yang lalu,” ia membuka suara setelah sempat hening sesaat. Ah, lagi-lagi insting wanita.
Aku menatapnya, siap menunggu deretan kalimat yang keluar dari mulutnya.
“Tanpa sepengatahuan John, aku mengecek phonselnya. Dan dari situlah aku tahu tentang dirimu. Secara diam-diam aku mencari tahu tentangmu dan ....” kalimatnya terhenti.
Perempuan itu terlihat begitu bijak dan keibuan. Ada kilat amarah di matanya, tapi ia pintar menahan bahkan mengendalikannya.

Aku memahami perasaannya. Karena itulah yang juga ku rasakan saat ini.

Di sinilah kami, dua wanita yang mencintai orang sama, yang sama-sama terluka, sama-sama meratap, sama-sama menyimpan amarah. Amarah yang ingin kami luapkan, tapi entah pada siapa.
“Aku ke sini tanpa sepengatahuan John. Agar kita bisa bisa bicara dari hati ke hati karena kita ... sama-sama perempuan.”

Sama-sama perempuan ...

Kalimat itu pelan, tapi begitu menusuk hati. Menimbulkan rasa nyeri yang hebat.
Karena aku tahu, sama-sama perempuan akan saling memahami. Sama-sama perempuan takkan menyakiti. Dan sama-sama perempuan .... takkan bisa tinggal bersama di satu hati.

“Kau tahu, hal pertama yang ingin ku lakukan padamu sebenarnya adalah menamparmu.” Suara Liz bergetar, rahangnya kaku. “Aku ingin menamparmu setelah apa yang kau lakukan padaku ...”
“Aku tidak merebutnya darimu,” potongku, pelan.
“Kau tidak tahu detail bagaimana yang sebenarnya terjadi dan ...”
“Aku tak ingin tahu bagaimana awal ceritanya kalian bersama!” kali ini ia berteriak.
“Aku mengerti. John pasti tidak akan menceritakan padamu, aku juga tidak. Tapi yang perlu kau ketahui adalah, aku.tidak.merebutnya.darimu,” giginya terkatub.

Kedua mata kami berkaca-kaca. Air mata Liz nyaris tumpah, begitu pula dengan air mataku.

Aku bangkit, berjalan menuju depan jendela, sekedar untuk mengambil nafas. Setelah aku agak tenang, aku berbalik dan menatap kembali ke arah Liz yang diam terpekur.
“Liz, aku tahu ada yang tidak benar di sini. Tapi bukan aku yang menginginkan situasi seperti ini. Bukan aku yang sengaja masuk ke kehidupan kalian dan menjadi perempuan kedua!” aku nyaris menjerit.
“Tidak hanya kau yang terluka, aku juga...” aku meratap, dan air mataku tak bisa ku bendung lagi.
Liz menatap ke arahku, dan ia juga menangis.

“Kapal itu tak bisa dihuni oleh 3 orang, Savanah. Tidak akan bisa,” air matanya berderaian.
“Harus ada yang mengambil keputusan. Harus ada yang pergi. Atau kita akan sama-sama tenggelam...” lanjutnya.

“John mungkin telah melukai kita berdua, menempatkan kita pada posisi yang tidak seharusnya. Tapi kita sama tahu bahwa ia takkan pernah bisa mengambil keputusan. Ia mencintai kita berdua, dengan porsi yang sama rata. Jadi ...” ia menelan ludah. “Pilihannya hanya ... kau? Atau aku yang pergi?”

Aku lunglai. Bahuku terguncang dan aku terisak. Liz juga.

Kenapa harus begini?
Kenapa?

***

John  datang ke apartemen keesokan malamnya, membawakanku seikat bunga mawar putih, bunga kesukaanku.
“Aku merindukanmu,” ia memelukku erat sembari mencium keningku dengan lembut. Aku tersenyum lesu, mengambil bunga dari tangannya lalu menaruhnya di vas yang berada di atas meja bundar dekat jendela.
“Maaf kalau aku meninggalkanmu terlalu lama,” ia melangkah ke arahku dan kembali merengkuh tubuhku dengan erat. Kali ini sambil mengecup puncak kepalaku dengan suara keras.
Aku kembali tersenyum. Tanpa bersuara.

“Ayo kita jalan-jalan. Aku sudah memesan tempat khusus untuk makan malam. Bersiap-siaplah,” ia berbisik.
“John ...” aku menjawab lirih lalu menarik diriku dari pelukannya.
“Duduklah, ada yang ingin ku bicarakan.” Aku mendorong tubuhnya agar ia mau duduk di sofa. Kening John mengernyit, menatapku bingung.
“Ada masalah?”

Aku mondar-mondar dengan gusar. Meremas-remas jemariku yang gemetar.
“Savanah ...”
“Aku tak sanggup lagi.” jawabku. “Ayo kita akhiri semua ini,”

John ternganga.
“Let’s break up.” Lanjutku.

Dan kalimat itu membuat raut muka John pucat seketika.
“Savanah, ada apa denganmu?” serta merta lelaki itu bangkit, meremas kedua bahuku. Aku menghalau lembut lalu bergeser mundur.
“Hubungan kita tidak bisa diteruskan lagi, John. Kau sudah bertunangan dan sebentar lagi menikah. Jadi, aku tak bisa bersamamu lagi,”
“Kita sudah membahasanya ‘kan?”
“Iya, dan aku ingin mengakhirinya.” Cetusku.

“Savanah, aku memang tidak bisa menjanjikan apa-apa padamu. Tapi kita saling mencintai kan?” John mulai terlihat frustasi.
“Tapi cinta saja tidak cukup!” suaraku meninggiku.
John menyisir rambutnya dengan jemari. Menarik nafas bingung.

“Kau sudah bertunangan, dan sebentar lagi menikah. Lalu aku? Bagaimana denganku? Apa kau akan selalu memperlakukanku sebagai bayangan? Selama ini kita selalu menyembunyikan hubungan kita. Kita bahkan melakukan acara kencan secara sembunyi-sembunyi. Bahkan untuk sekedar berjalan-jalan di taman dan berpegangan tangan saja kita tak mampu melakukannya. Apa kita akan begini terus? Kita memang saling mencintai, tapi cinta saja tidak cukup.” Aku kembali menjerit.

“Aku tak mau berbagi, John. Dan aku yakin Liz juga takkan mau. Dan aku memilih untuk merelakanmu ...” air  mataku berjatuhan.
Lelaki jangkung di hadapanku itu menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Ku mohon, jangan lakukan ini Savanah.”

Kami berpandangan.

“Selamat tinggal ...”
“Savanah ...”
“Pergilah. Tinggalkan aku sendiri,” pintaku.

John tak beranjak dari tempatnya berdiri. Air matanya menitik.
Aku menghampirinya, tapi tidak untuk memeluknya.
Aku hanya menghapus air matanya lalu menggamit lengannya, untuk selanjutnya mendorongnya lembut ke arah pintu.
Aku tidak ingin ia kembali, mendobrak pintu, lalu meluluhkan hatiku lagi. Seperti yang sudah-sudah. Jadi aku yang memilih untuk mengantarkannya keluar, lalu mengunci pintu. Tanpa memberi kesempatan padanya untuk masuk atau bahkan sekedar mengetuk pintu, lagi.

Cukup.
Semua cukup sampai di sini.

Berkali-kali lelaki itu menggedor pintu dan meneriakkan namaku. Tapi aku mengabaikannya.
Aku terisak, hancur berkeping-keping, tapi aku mengabaikannya...
Biar saja seperti ini. Aku takkan menemuinya. Karena aku tahu hatiku lemah. Jika sampai aku melihatnya lagi, aku pasti goyah dan tergerak untuk menerimanya lagi.

***

Pagi-pagi sekali setelah menghabiskan semalam suntuk menangis, meratapi diri sendiri, aku memutuskan untuk mengepak barang-barangku.
Beberapa baju, peralatan pribadi beserat dokumen-dokumen penting ku tata secara sembarangan di koper.
Aku sudah memutuskan, aku akan pergi.

Kemana saja, ke rumah teman di luar negeri mungkin, asal tidak di sini.
Berada satu kota dengan John hanya akan memperburuk luka di hatiku. Terlebih lagi jika sampai aku bertemu lagi dengannya, karena sudah bisa dipastikan aku pasti akan kembali jatuh ke pelukannya. Begitulah. Aku lemah jika berhadapan dengannya.

Seperti kata Liz, kapal itu hanya bisa dihuni oleh dua orang saja. Dan aku yang memutuskan untuk pergi.
Ia tak bisa berbagi, begitu pula denganku.
Dan aku terlalu berharga untuk sekedar menjadi perempuan kedua. Aku berhak mencari kebahagiaan diriku sendiri.

Menyakitkan, tentu saja.
Aku bahkan tak yakin bisa melewati hari-hari setelah ini, setelah jauh dari John.
Bisa saja aku terluka parah. Bisa saja lukaku makin memburuk. Bisa saja lukaku tak bisa sembuhkan.
Who knows?
Tapi setidaknya aku ingin memberi kesempatan pada diriku sendiri untuk mencari jalan lain.

***

Sesaat sebelum aku memanggil taksi, aku sempat mengirimi John pesan singkat.

Terima kasih atas semua momen indah yang pernah kita ukir bersama. Anggap saja itu secuil kisah di antara kita yang tak seharusnya ada.
Aku pergi.
Hiduplah bahagia dengan Liz dan jangan mencoba mencariku.
Aku merelakanmu.
~ Savanah.

Dan setelah pesan itu terkirim, aku mematikan phonselku, mengeluarkan kartu di dalamnya, lalu membuangnya ke tempat sampah.

Selamat tinggal .....

***

Selesai.

Selasa, 05 April 2016

Aku Nomer Dua - Part 1




John.
 
Aku bertemu dengannya secara tak sengaja di suatu sore, tepat di depan toko roti, tempatku bekerja. Waktu itu hari sedang hujan deras, dan pemuda itu tengah sibuk membawa dua ekor kucing liar untuk berteduh di depan toko.

Dari balik jendela tempatku bekerja aku bisa menyaksikan pemuda itu berusaha mencarikan tempat yang aman untuk kedua hewan tersebut agar tak terkena hujan. Sementara tubuhnya sendiri sudah basah kuyup.
Hal itulah yang membuatku tergerak untuk mendekatinya dan menyapanya.
"Mau ku pinjami payung?" tanyaku langsung.
Pemuda itu menoleh, terlihat bingung untuk menjawab.
Aku segera tersenyum ramah.
"Aku membawa dua payung. Kau bisa meminjamnya, aku tak keberatan. Ini tempatku bekerja, kau bisa mengembalikannya ke sini." ucapku lagi.
Dan akhirnya, dengan sedikit canggung, ia menerima pinjaman payung dariku.
"John. Namaku John," Ia memperkenalkan diri dengan ragu, tapi sopan.
"Savanah," jawabku.

Dan begitulah awal kami berkenalan.

Keesokan harinya, ia datang ke toko untuk mengembalikan payung. Begitu pula hari selanjutnya, ia jadi sering mampir ke toko tempatku bekerja, sekedar untuk menyapaku, atau membeli sesuatu.
Lambat laun kami mulai dekat. Kami bersahabat dan akhirnya ... kami berpacaran. Tidak perlu proses yang rumit karena ia mencintaiku, begitu pula sebaliknya.

Awalnya semua berjalan dengan penuh kebahagiaan. Hubungan percintaan kami berjalan lancar, dan cinta yang kami rasakan semakin mendalam.
Sampai akhirnya aku tahu bahwa, ada perempuan lain yang singgah di hatinya.

Tidak.
Dia tidak menduakanku.

Justru akulah yang menyebabkan ia mendua.

Aku, yang nomer dua.

Perempuan itu singgah terlebih dahulu di hatinya, jauh sebelum John berpacaran denganku. Ternyata ia sudah berpacaran selama bertahun-tahun dengannya, perempuan kalem berwajah manis dan tampak menyenangkan.

John berbohong padaku. Ia tak memberitahuku bahwa sebelumnya, ia sudah terlibat cinta dengan perempuan lain.

Kebohongannya terbongkar ketika secara tak sengaja aku menemukan sms-sms manis di phonselnya. Dan seolah sudah tak menemukan cara untuk mengelak, akhirnya ia mengakui segalanya.
Bahwa ia sudah punya pacar, jauh sebelum kami berhubungan. Mereka bahkan sudah berpacaran sejak SMA dan beberapa bulan yang akan datang, mereka berencana bertunangan.

Awalnya aku mengira hubungan mereka karena perjodohan, atau mungkin karena alasan orang tua dan sebagainya.
Tapi ternyata tidak.

John mencintainya.
Tapi ia juga mencintaiku.

Hatiku hancur, lebur, tak terbentuk...

"Bedebah kau," aku mendesis parau setelah kami melewatkan beberapa jam untuk bertengkar, di apartemenku.
"Kenapa kau tak jujur dari awal bahwa kau sudah punya kekasih?!" Aku nyaris menjerit.
John berdiri di hadapanku dengan tatapan putus asa. Kedua matanya basah, sama denganku.

"Aku tak bisa, Savanah. Aku mencintaimu, dan aku tak mau kehilanganmu ..." suaranya bergetar.
"Tapi kau juga mencintainya 'kan?" potongku. Ia tak menjawab.
Aku bergerak, memukul dadanya berkali-kali. Isak tangisku pecah.

John menarik kedua tanganku dan mencengkeramnya erat.
"Aku tahu ini tak adil bagimu, sayang. Aku juga tahu ini tak adil baginya. Tapi apa kau pikir aku bahagia dengan keadaan ini? Tidak," Ia mendesis.
"Aku tersiksa, sama menderitanya dengan dirimu. Awalnya aku mengira hanya akan ada dirinya di hatiku. Hanya ada dia satu-satunya wanita di hatiku. Aku tak berencana untuk jatuh cinta pada perempuan lain. Tapi pertemuanku denganmu mengalihkan segalanya. Aku ...," ia menelan ludah. "Aku jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu. Sejak kau menyapaku, dan berniat meminjamiku payung, aku sudah jatuh cinta padamu!" kali ini ia berteriak frustasi. Memaksa pandangan kami terkunci.

"Jika saja aku mampu, aku ingin memutar waktu di mana aku tak mampir ke tokomu dan bertemu denganmu! Tapi, bisakah aku melakukannya? Tidak kan? Kenyataannya Tuhan sudah mempertemukan kita, membuatku mencintaimu, membuat kau mencintaiku ---,"
"Ini tak adil, John. Ini tak adil untuk kami," aku menggeleng lirih.
"Aku tahu! Aku tahu aku telah menyakitimu, tapi, aku benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi ..."
"Pergilah," jawabku lirih.
"Savanah ...,"
"Pergilah. Hubungan kita selesai," suaraku nyaris tercekat. Aku menarik tanganku dari genggaman lelaki itu lalu mundur beberapa langkah, sekedar untuk mengambil nafas.

"Sayang, ku mohon jangan lakukan ini," air mata John berjatuhan.
"Beri aku waktu...."
"Tidak, pergilah ..." aku menggeleng lagi.
John menggigit bibirnya dan tampak terpukul.
Kedua bahunya luruh, tak berdaya.

Dan ia berbalik, lalu pergi.

Sesaat setelah pintu tertutup, aku merasa sekarat!
Tubuhku ambruk, dan tangisku kembali pecah.
Bagaimana aku bisa hidup tanpanya? Bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku tanpa dirinya?
Aku mencintainya, dengan segenap jiwa raga. Namanya seolah telah terukir di setiap inci dari tubuhku!
Jika ia benar-benar pergi, harus dengan cara apa melupakannya?!

Tidak. Aku takkan mampu melupakannya.

John.
 
Bagiku, ia ibarat separuh jiwaku, separuh nafasku, jika ia tak bersamaku, aku takkan mampu hidup!

---------

Aku masih terisak dengan hebat ketika sayup-sayup aku mendengar pintu kembali terbuka. Dengan masih bersimpuh di lantai, aku menoleh.
Dan tampak olehku John muncul kembali dari sana. Dari balik pintu, dengan air mata berderaian.

Ia menarik nafas dan mengangkat tangannya dengan putus asa.
"Aku memang mencintainya. Tapi aku takkan mampu kehilanganmu," desisnya. Suaranya serak.
"Aku lebih baik mati jika harus kehilangan dirimu," ucapnya lagi.

Aku juga, teriakku dalam hati. AKU JUGA!

Dengan tertatih aku bangkit.
"Apa dia tahu kalau kita punya hubungan?" tanyaku lirih.
John menggeleng.
Dan tanpa menunggu lagi, aku berlari, menghambur ke arahnya, dan memeluknya erat. Menyurukkan wajahku ke dadanya. Dan melampiaskan isak tangisku di sana.
Ia juga balas mendekapku erat.

Dan aku meratap ...

Tidak ...

Aku takkan mampu hidup tanpamu.

Untuk saat ini, begini saja lebih baik.

Mari kita jalani cinta rahasia kita, sampai Tuhan menentukan rencana lain...

Begitu saja.

=====

Bersambung ....

Gambar : dari film Now Is Good.

Senin, 01 Februari 2016

[FF/SVT] The Chaebol's Son And Me




Sinopsis :
Mingyu dilahirkan dengan sendok perak di mulutnya. Dia tampan, kaya raya, dan berasal dari salah satu keluarga chaebol terkemuka di Korea. Namun keadaan itu bukan jaminan bahwa ia akan bisa mendapatkan yeoja yang ia cintai dengan mudah.
Jungkir balik ia mengejar-ngejar cinta Hyerin, tapi ia selalu di tolak.

Hyerin menolak Mingyu bukan karena ia tak mencintainya. Ia hanya takut.
Dunia mereka terlalu berbeda, dan punya hubungan spesial dengan chaebol, pasti takkan mudah. Hal itulah yang membuatnya mundur, teratur. Dan mencoba melupakan perasaannya pada Mingyu.

Tapi sejauh apapun ia berusaha menjauh dari Mingyu, ia tahu bahwa pria itu telah mengambil seluruh hatinya.

~~~~~~
~~~~~~

Chapter I

Hyerin hanya mematung heran ketika seorang namja jangkung berlari-lari kecil ke arahnya.
“Kenapa baru muncul?” Namja itu menyapa dengan pertanyaan.
“Maksudnya?” Hyerin menjawab dengan pertanyaan pula.
“Kau ada kuliah sejak jam 8 pagi tadi. Sekarang sudah jam 11. Kemana saja? Phonselmu tak akfif. Kenapa? Motormu mogok lagi? Tadi berangkat ke sini naik apa? Apa kau baik-baik saja?” Ia memberondong Hyerin dengan pertanyaan lagi.

“Mingyu, bisakah kau bertanya satu-satu?”
“Tidak.” Mingyu menjawab cepat.
Hyerin memutar bola matanya dengan kesal.
“Oke, aku ....”
“Mingyu, cepat! Kita sudah ditunggu!”
Obrolan mereka terhenti ketika seseorang berteriak dan melambaikan tangan ke arah Mingyu.
Mingyu mengangkat tangan ke arah orang yang memanggilnya tersebut. “Sebentar.” Jawabnya, lalu kembali menatap Hyerin.

“Hyerin, aku harus pergi dulu. Aku ada janji dengan dosen. Setelah kuliah selesai, tunggu aku, jangan pulang dulu. Kalau kau melakukannya, awas kau!” Namja berhidung mancung itu beranjak.
Hyerin hanya terkekeh sesaat seraya menatap namja yang telah ia kenal baik selama hampir 3 tahun itu.

***

            Mingyu memarkir mobil di depan bengkel tempat Hyerin membetulkan sepeda motornya yang tadi pagi kembali mogok. Namja itu keluar dari mobil dan dengan wajah kesal ia melangkahkan kakinya mendekati Hyerin yang duduk di salah satu kursi tunggu. Hyerin tersenyum dan melambaikan tangannya. Tapi Mingyu tak membalas. Ia mendengus.

Dasar pengkhianat. Bukankah aku sudah memintamu untuk tidak pulang dulu,” namja tampan itu ikut duduk di samping Hyerin.
“Mian, aku tidak bermaksud mengkhianatimu. Hanya saja, aku takut bengkel keburu tutup. Makanya aku kesini dulu,” Hyerin tersenyum manis ke arah Mingyu hingga membuat namja ganteng itu tak berkutik.
“Oke, karena alasanmu masuk akal. Aku akan memaafkanmu,” jawabnya kemudian.
“Masih kurang berapa lama lagi?”
“Sebentar lagi juga selesai,” jawab Hyerin.

“Akan ku temani sampai motormu selesai diperbaiki,”
“Tidak. Kau pulang dulu saja, gwaencana,”
“Tapi ___”
“Jebal,”  Hyerin merajuk hingga membuat Mingyu kembali tak berkutik dan akhirnya menuruti permintaan  yeoja tersebut, untuk pulang terlebih dulu.
“Oke deh, aku pulang dulu ya, annyeong,”
Hyerin tersenyum sambil mengangguk. Mingyu beranjak.

“Masih lamakah?” tanya Hyerin pada salah satu teknisi yang memperbaiki motornya.
“Maaf. Tapi sepertinya motor ini harus menginap disini sampai besok. Banyak hal yang harus diperbaiki,”
Hyerin menggigit bibirnya kecewa. “Apa tak bisa selesai hari ini?”

Teknisi motor itu menggeleng. “Joesonghamnida. Kami sudah berusaha secepat mungkin. Tapi tetap saja motornya tak bisa selesai hari ini,” jawabnya.
Hyerin kembali mendesah kecewa. Ia melirik arloji di tangannya. Jam 17.20. Sudah terlalu sore untuk mendapatkan kendaraan umum. Ia bisa pulang dengan naik taksi, tapi itu sangat mahal sekali.

“Gamsahamnida, besok saya kesini lagi.”  Ia beranjak seraya meraih phonsel bututnya dari dalam tas. Ia mengirimkan pesan kepada Seo Hyun, teman dekatnya, untuk menjemput. Tapi belum sempat ia mengirim pesan tersebut, seseorang menyentuh pundaknya dengan lembut. Ia menoleh. “Mingyu?”

Mingyu hanya tersenyum manis. Hyerin menatapnya dengan keheranan.
“Kau masih di sini?” Ia bertanya bingung karena ia yakin bahwa sekitar 5 menit yang lalu Mingyu sudah memacu mobilnya dan meninggalkannya.

Mingyu manggut-manggut. Ia menunjuk ke arah mobilnya yang terparkir agak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Aku sudah menduga bahwa ini akan terjadi. Jadi, aku sengaja menungguimu di sana dan siap memberikan tumpangan kapanpun kau butuhkan,” jawab namja tersebut sambil nyengir.

Hyerin terkekeh. Ya, harusnya ia menyadarinya sejak tadi. Ini Mingyu, namja ini tak akan menyerah dengan mudah. Dia takkan mau di suruh pergi begitu saja dan meninggalkannya sendirian.

“Ga-ja, aku akan mengantarkanmu pulang. Dan kau sudah tak punya alasan lagi untuk menolaknya,” Mingyu menarik lengan tangan Hyerin dan mengajaknya menuju ke arah SUV mewah yang ada di seberang jalan. Hyerin hanya mampu mendesah. Ya, ia sudah tak punya alasan lagi untuk menolaknya.

***

Hyerin memarkir sepeda motor bututnya dan segera beranjak dengan tergesa-gesa menuju kelas Mingyu. Ia tahu hari ini ia ada kuliah jam pertama.
Ketika ia sampai di sana kelas Mingyu sudah berlangsung selama 10 menit. Tapi, itu tak menyurutkan niatnya untuk bertemu dengan namja jangkung itu.

“Seonsaengnim, bisakah saya meminta ijin untuk berbicara sebentar dengan Kim Mingyu? Ada hal penting yang harus kami bicarakan,” Hyerin meminta ijin pada dosen Mingyu. Lelaki itu diam beberapa detik, tapi selanjutnya ia tersenyum dan mengangguk.

Hyerin mengarahkan pandangannya ke penjuru ruangan dan menemukan Mingyu duduk di bangku paling belakang dekat jendela. Mingyu tampak sedikit bingung, tapi akhirnya ia berdiri dan beranjak mendekati Hyerin. Yeoja itu menarik tangannya dan mengajaknya menjauh dari keramaian kampus.

“Wae? Bukannya hari ini kau tak ada kuliah?” Tanya Mingyu keheranan.
Hyerin menatapnya dengan tajam.
“Kau ‘kan yang mengirim motor baru ke rumah?”
Mata Mingyu menyipit. Tapi sesaat kemudian ia manggut-manggut. “Oh, Motor? Iya, aku membelikanmu motor baru agar kau tak sering terlambat ke kampus. Motormu itu sudah tua, tak layak pakai. Aku membelikan motor dengan warna favoritmu, indigo. Bagaimana? Kau suka?” Ia nampak antusias.

“Suka kepalamu! Cepat ambil kembali motor itu!” Hyerin berteriak.
“Wae?” Mingyu nampak bingung.
“Ambil kembali motor itu! Aku tak sudi menerimanya!”
“Kenapa sih? Niatku baik. Beberapa waktu yang lalu aku membelikanmu mobil, tapi kau malah melemparku dengan sapu. Sekarang aku sudah menurunkan standard-ku dengan membelikanmu motor, masih tak mau terima juga? Aku ‘kan hanya ingin membantumu,”

“Memberikanku dengan cuma-cuma. Memang aku ini siapa? Itu sama saja dengan menghinaku,” jawab Hyerin kesal.
“Oke, jika kau tak bisa menerimanya dengan cuma-cuma, kau bisa membayarnya ‘kan?”
“Aku tak punya uang sebanyak itu,” Hyerin kembali mendebat.

“Aku tidak menyuruhmu untuk membayar tunai. Kau bisa menyicilnya sedikit demi sedikit,” Mingyu berusaha memberikan saran.
“Tetap saja aku aku tak punya uang, kau ‘kan tahu aku tak punya pekerjaan tetap,” bibir Hyerin mengerut sebal.
“Jadi?”  Mingyu menatapnya bingung.
“Ambil kembali motor itu atau kita takkan berteman lagi,” ancam Hyerin. Ia beranjak.
“Hyerin ... ” Mingyu mengekorinya. Hyerin berbalik.
“Just take it back! Ok? Suruh orangmu mengambil motor itu kembali! Kalau tidak ...” Yeoja itu menggigit bibirnya seraya menunjukkan kepalan tangannya.
“Dan jangan mengikuti langkahku. Kalau kau mengikutiku, kita PUTUS!” Ia menjerit.
Mingyu melongo.
“Putus? Apa itu artinya kita pacaran? Jinjaa? KITA PACARAN?!!” Namja itu berteriak dengan antusias. Girang bukan kepalang.
“Maksudku ... putus persahabatan!” Hyerin kembali menjerit frustasi. Setelah itu ia beranjak meninggalkan Mingyu yang tampak bengong.

Ketika sampai di parkiran, Hyerin berpapasan dengan sahabat baiknya, Seo Hyun.
“Hyerin, wae? Kenapa mukamu kusut begitu?”
“Anio,” jawab Hyerin malas-malasan seraya meraih helmnya.
“Bertengkar dengan Mingyu?”
Hyerin mengernyitkan dahinya dan menatap Seo Hyun.
“Bagimana kau tahu?” Hyerin ganti bertanya.

“Aku melihat kalian sedikit adu argumen di taman,” jawab yeoja bertubuh tinggi tersebut.
Hyerin menarik nafas panjang seraya memakai helmnya.
“Dia membelikanku sebuah sepeda motor dan aku memintanya untuk mengambilnya kembali,” jawabnya.
Seo Hyun melotot.
“MWOO!? Dia membelikanmu sepeda motor?”
Hyerin mengangguk. “Ya, dia membelikanku sebuah sepeda motor. Tapi sudah ku tolak. Dia pasti sudah gila.” jawabnya.
Seo Hyun menatap Hyerin dengan sebal.
“Gila? Ya, kurasa kaulah yang gila. Seorang pangeran tampan, calon dokter, kaya raya, putra tunggal salah satu orang terkaya di Korea, mencintaimu dengan tulus, tapi kau? Kau malah  menolaknya! Kurasa kaulah yang gila!” Seo Hyun berteriak. “Dia membelikanmu mobil, kau menolak. Sekarang kau dibelikan sepeda motor, kau juga menolak lagi? Apa kepalamu pernah terbentur sesuatu? Hah?” lanjutnya sebal.

Hyerin mendelik.

“Mingyu itu namja yang sangat baik,  Hyerin. Dia mencintaimu dengan tulus. Aku yakin dia mampu membuatmu bahagia baik dari segi materi ataupun yang lainnya. Tapi, kau malah menolaknya? Bukankah berarti kau yang gila? Aku mau jungkir balik demi bisa berada di  posisimu. Dicintai putra chaebol terkemuka di negeri ini.” Seo Hyun mencibir sahabat baiknya itu.

Hyerin kembali mendesah.
“Ah, sudahlah. Jangan bicarakan hal-hal tak penting seperti itu. Aku pulang dulu. Annyeong,” Hyerin menyalakan sepeda motor bututnya.
“Kesempatan tidak datang dua kali, Hyerin. Kuharap  kau tak menyesalinya,” Seo Hyun berteriak. Hyerin tersenyum kecut seraya menjalankan kendaraannya dengan perlahan.

Dan ia kembali teringat akan Kim Mingyu ...

Ya, ia tahu bahwa Mingyu mencintainya dengan sungguh-sungguh. Beberapa kali lelaki itu mengungkapkan perasaannya secara jujur, sejak lama. Tapi, Hyerin benar-benar tak bisa menerimanya.

Bukan karena ia tak mencintai namja jangkung bermata teduh itu. Jika harus jujur,  Hyerin benar-benar menyukainya. Ia jatuh cinta pada namja itu pada pandangan pertama. Hanya saja, ia merasa Mingyu terlalu tinggi untuk digapai.

Ia merasa tak punya kepercayaan diri untuk meraih lelaki itu dengan tangannya yang kecil.

Seo Hyun benar sepenuhnya. Mingyu berasal dari keluarga kaya, putra tunggal salah satu orang terkaya di negara ini. Ia bisa mendapatkan apa yang ia mau dengan mudah tanpa harus bersusah payah. Apa yang kurang dari dirinya? Tidak ada.

Tapi, ia benar-benar tak bisa menerimanya.

Siapakah dirinya? Dia hanya seorang gadis biasa. Keluarganya miskin. Ayahnya sudah meninggal ketika ia masih kecil dan ibunya hanyalah buruh pabrik. Mereka bahkan masih tinggal di rumah kontrakan. Dia sendiri harus bekerja paruh waktu di sebuah restoran cepat saji. Sebandingkah dia dengan namja itu? Tidak.

Hyerin tak berani membayangkannya. Dunia mereka terlalu jauh berbeda. Mingyu takkan pernah bisa memasuki dunianya, begitu pula sebaliknya!

Dan Hyerin sudah bertekad untuk mencintai Mingyu dengan caranya sendiri!

***

Phonsel itu berdering berkali-kali. Dan Hyerin baru memutuskan menjawabnya di dering yang ke-6.
“Yoeboseyo...” Ia menyapa.

--Kau masih marah?-- Suara dari seberang sana langsung menjawab dengan pertanyaan. Mingyu.

“Sedikit.” Jawab Hyerin.

--Mian, aku takkan mengulanginya lagi. Aku sudah mengambil motor itu. Jadi, berhentilah marah padaku. Nde?--

Hyerin tak langsung menjawab.
“Oke, ku maafkan.” Jawabnya kemudian.

--Jinjaa? Kau sudah memaafkanku?--
“Nde.” Jawab Hyerin lagi. Mantap. Terdengar Mingyu mendesah lega.

--Ah, syukurlah. Aku lega sekarang. Kau tahu, kemarahanmu itu benar-benar sebuah mimpi buruk bagiku. Aku dilanda stress berkepanjangan. Aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Aku tak bisa makan dengan lahap. Aku bahkan tak bisa hidup dengan tenang. Berat badanku turun drastis. Aku makin kurus sekarang.--
Hyerin terkikik.
“Kita bahkan hanya marahan selama dua hari, bagaimana mungkin kau langsung mendadak kurus?” ujarnya, diselingi tawa kecil.
--Kau tak percaya? Oke, kalau begitu buka jendelamu dan lihatlah keluar. Kau akan tahu kalau aku makin kurus.--
Hyerin membelalak. “Kau di luar?”
--Iya.-- Jawab Mingyu cepat.

Hyerin berjingkat dari tempat tidurnya, menyingkap tirai jendela lalu melihat keluar. Dan tampak Mingyu sudah berdiri di depan rumahnya. Namja itu menyeringai seraya melambaikan tangannya ke arah Hyerin.

--Annyeong.-- Ia menyapa dengan wajah sumringah.

Hyerin menutup telepon lalu segera berlari keluar rumah dan menemui Mingyu yang masih berdiri di pinggir jalan.
“Malam-malam begini untuk apa kau ke sini?” yeoja itu bertanya bingung.
“Untuk menemuimu.”
“Lalu?”
“Memberikan ini.” Mingyu menyodorkan sekotak pizza ke arahnya. “Pizza. Sebagai ungkapan permintaan maaf.” Lanjutnya, nyengir.
“Suap?”
“Iya. Kau boleh menolak mobil ataupun sepeda motor, tapi jangan menolak pizza. Oke? Ayolah, Hyerin, ini hanya makanan.” Desak Mingyu.
Bibir Hyerin mengerut. “Oke deh. Gomawo.” Ia menerima makanan tersebut, lalu menatap Mingyu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Dan ... apa benar berat badanmu berkurang?” tanyanya. Mingyu kembali menyeringai.
“Iya, berat badanku berkurang. Kau mau menemaniku makan siang? Ayolah, sudah lama kita tidak makan bersama? Besok ya? Sepulang kuliah? Oke?” Namja itu nyerocos hingga membuat Hyerin kembali tertawa.

Perlahan ia mengangguk.
“Oke, tapi aku hanya menerima ajakan makan siang. Tidak ke tempat yang lain. Tidak ke mall, tidak ke boutique, tidak ke toko perhiasan, tidak ke tempat-tempat seperti itu lagi,”
Bola mata Mingyu melebar dengan indah. “Sungguh? Baiklah, besok kita makan siang bareng.” Ia berujar dengan girang.
“Kalau begitu aku pulang dulu ya. Annyeong,” ia pamit. Tapi sebelum itu, ia sempat memeluk Hyerin dengan tiba-tiba lalu mencium pipinya dengan dalam hingga menimbulkan suara. Setelah itu tertawa seraya berlari menjauhi Hyerin yang tampak bengong.

Yeoja itu melotot.
“YHAA! Jika kau melakukannya lagi, tamat riwayatmu!” teriaknya. Mingyu hanya terkikik seraya melambaikan tangannya ke arah Hyerin sebelum akhirnya ia kembali berlari ke arah mobil hitam yang telah menunggunya di pinggir jalan. Dan kendaraan mewah itu segera meluncur meninggalkan komplek perumahan Hyerin.

***

“Whooaa, kau nampak ceria hari ini? Apa kau sudah berbaikan dengan Mingyu?” Seo Hyun langsung menyapa Hyerin ketika yeoja itu baru saja menginjakkan kakinya di teras kampus.
Hyerin hanya tersenyum dan mengangguk.

“Hah, kalian ini aneh? Kalian bilang kalian hanya berteman. Tapi setiap kali bertengkar, kalian seperti sepasang kekasih.”
Hyerin mencibir dan Seo Hyun malah manyun.

“Oh iya, tadi ada yang mencarimu.”
“Siapa?” tanya Hyerin.
“Jeon Wonwoo.” Jawab Seo Hyun acuh.
“Oh, anak fakultas hukum itu?”
“Iya, calon pengacara. Putra pengacara terbaik di negara ini. Kaya, baik hati, pintar, tampan, oh astaga, bagaimana kau bisa kenal dia Hyerin-ah? Kalian kenal baik?”
Hyerin manggut-manggut. “Lumayan, aku sudah agak lama mengenalnya. Kami ‘kan satu organisasi,”
“Kok aku tak tahu?”
Hyerin tersenyum. “Kau ‘kan sudah sibuk pacaran. Makanya tak pernah dengar ceritaku lagi,” Hyerin terus beranjak. Seo Hyun mengekor.

“Ah, aku iri padamu Hyerin-ah. Kenapa hidupmu dikelilingi oleh beberapa namja tampan, kaya raya, dan baik hati semua? Hah ... aku benar-benar iri.”
Hyerin hanya tertawa sambil mengangkat bahu tanpa menghiraukan ocehan sahabatnya itu. Tentu ia mengenal Wonwoo dengan baik karena selama ini Hyerin memberikan les privat bahasa Perancis pada adiknya, Naeun.

***

Bersambung ...