Senin, 28 April 2014

cerpen "I'm okay" part 1



I’m okay…..

Aku menatap arloji di pergelangan tanganku dengan sedikit kesal. God,I’ve been waiting for 25 minutes! Ini sudah terlalu lama!
Kemana Ega? Biasanya dia gak pernah ngaret kayak gini. Dia juga gak mungkin lupa menjemputku sepulang les. Dia toh hafal betul semua jadwalku. Tapi….
Aku mencoba menghubungi ponselnya berkali-kali. Tapi nihil. Nomornya gak aktif.
“oke, aku bisa pulang naik angkot,“gumamku lirih. Sesaat aku mendesah. Shit, jam segini mana ada angkot? Aku memencet nomor di ponselku dengan geram. Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Meta, sahabat terbaikku, untuk menjemputku. Malamnya, aku menerima sms permintaan maaf dari Ega karena tidak menjemputku. Dia ketiduran. Well, I forgive him….
Tapi, kejadian di hari itu kembali terulang dan lagi. Dia lupa menjemputku dari tempat les. Dan, untuk ke sekian kalinya…..
***
“Mungkin aku akan putus dengan Ega,” Aku mendesah. Meta membeliak, menatapku lekat. Setengah tak percaya.
“emangnya kenapa? Kalian berantem? Bukannya selama ini kalian baik-baik aja? Jangan karena akhir-akhir ini dia sering lupa menjemputmu di tempat les, lantas kamu mau putus dengannya? Dia ‘kan udah minta maaf, dan kamu juga selalu memaafkannya. Baikan lagi deh kalian, ya ‘kan?”
Aku terdiam sesaat. “tadinya sih iya, sekarang enggak lagi. Lagian, masalahnya bukan itu doang kok. Ada cewek lain yang ia suka,”. Meta tertawa mendengar jawabanku. “aduh, Rin. Please deh, aku tuh udah kenal Ega sejak lama. Aku tahu banget siapa dia. Dia tuh bukan tipe cowok playboy yang mudah kecantol sama cewek lain. Satu hal yang pasti, dia tu cinta mati sama kamu,”
Aku tetap terdiam. Meta menepuk pundakku dengan lembut.
“tenang aja, gak usah terlalu dipikirin. Kalian ‘kan udah pacaran sejak kelas 2 es-em-pe, udah 4 tahun lebih. Gak mungkin  bisa putus semudah itu,”
Aku kembali mendesah pelan. Well, akupun berharap hubunganku dengan Ega akan baik-baik saja. Tapi, kenyataan sudah di depan mata. Hubungan kami sedang dalam masalah. Terasa hambar. Tak ada kehangatan. Yang ada hanya rasa dingin bak gunung es dari kutub utara! Aku tahu, Ega tengah memikirkan sesuatu. Ada yang bergejolak di hatinya. Dan aku tahu itu apa? Tapi, jujur, aku merasa takut mengakuinya. Aku berharap ini salah. Tapi....
Ada cewek lain yang ia suka! Ada cewek lain yang singgah di hatinya! Dan cewek itu adalah Novia!
Cewek manis dari kelas sebelah yang juga jago main basket, sama seperti Ega. Aku sering memergoki mereka berduaan. Ega menatapnya dengan cara yang berbeda. Cara yang sama ketika ia mengungkapkan cinta dan mengajakku pacaran. Mata bening itu masih saja dipenuhi dengan kehangatan dan cinta. Hanya saja, sekarang cinta itu bukan untukku. Melainkan untuk dia! Untuk Novia!
Aku kembali mendesah. Ku letakkan kepalaku di bangku. Dadaku rasanya sesak, sakit.
“Rin, are you okay?” aku tak menjawab pertanyaan Meta. Ku rasakan sebuah sentuhan lembut di keningku. “Rin, kamu sakit?” Deg, itu suara Ega. Aku mendongak. Ega tengah menatapku dengan dalam. Sesaat aku hanya terdiam hingga membuat Ega mengulangi pertanyaannya. “kamu sakit?” aku gelagapan. “Ng.... enggak tuh,” jawabku. Ku tatap mata bening itu dengan lekat. Kemana binar itu?
Binar mata penuh cinta yang beberapa tahun ini menjadi milikku. Aku mencoba mencari dan menyelaminya ke dalam mata bening Ega, tapi, tak ada!
“ke kantin yuk,” ajaknya. “e... iya,” jawabku seraya beranjak. Kami berlalu meninggalkan Meta yang tetap tersenyum penuh support kepadaku.
***
            Hatiku berdebar-debar ketika melewati kelas Novia. Lagi-lagi dia ada di sana. Ega ada di dalam kelas itu. Bersama Novia, duduk di sampingnya, mengobrol dengannya, bercanda dengannya dan... akrab sekali.
Ku percepat langkah kakiku dengan harapan mereka tak melihatku. Tapi telat. Ekor mata Ega keburu menangkapku. “Karin!” Ega beranjak dan berlari menghampiriku. “kemana aja, dari tadi ku cariin kok gak ketemu?” aku tersenyum blo’on. “yaa.. muter-muter aja. Dari kantin, ke  perpustakaan, ke gedung kesenian, ke lapangan basket, pokoknya ... jalan-jalan,” Ega hanya manggut-manggut mendengar jawabanku yang agak senewen. “pulang bareng’kan?” aku hanya mengangguk. Pulang bareng? Ya iyyalah.. selama ini ‘kan emang selalu pulang bareng. Kenapa harus nanya lagi? Gerutuku dalam hati..
“Vi, aku pulang duluan ya,bye,” Ega melambaikan tangan. Cewek itu tersenyum. Sesaat senyumannya sempat singgah padaku. Apa boleh buat, akupun ikut tersenyum. Tanpa sadar aku sempat mengumpat dalam hati. Sialan! Situasi macam ini!!??
***
            Meta melangkah dengan tergesa-gesa ke arahku. “Rin, ke kantin yuk. Ada sesuatu yang mo ku omongin sama kamu,” wajahnya tampak ragu.
Aku mengernyitkan dahiku. “penting?” ia mengangguk. “Mmm, gimana ya? Aku masih ada sedikit urusan dengan ketua OSIS. Bisa gak kita omongin setelah pulang sekolah?” Meta terdiam. “bisa sih. Tapi mulutku nih udah gak tahan pingin ngomong,” raut wajah Meta terlibat tak sabar. “ya udah deh. Tunggu di sana aja, sepuluh menit lagi aku nyusul,” jawabku. “oke,” Meta mengangguk lalu ngacir ke kantin. Aku melanjutkan langkahku menuju ruang OSIS. 10 menit kemudian aku baru bisa menemui Meta di kantin.
“mau ngomongin apa? Kelihatannya serius banget?” tanyaku. Meta kembali menyeruput es teh di depannya. Ia tak langsung menjawab.
“Rin, janji ya kamu nggak bakal marah padaku kalo aku ngomongin masalah ini?” ujarnya. Aku tersenyum. “masalah apaan sih? Belum-belum kok dah ngasih MOU,” jawabku. Meta mendesah. “ini soal Ega,” aku mengernyitkan dahiku. “so....?”
“kemarin waktu di Mall,tanpa sengaja aku ngelihat Ega,” Meta kembali terdiam sesaat. “dan... dia gak sendirian. Ada Novia di sampingnya,” Meta menatapku dengan serius.
Aku menelan ludah. Rasanya aku sudah bisa menebak arah pembicaraannya.
“mereka gak ngelihat aku, tapi aku bisa ngelihat mereka dengan jelas. Mereka begitu akrab dan .... mesra. Oke, anggaplah aku punya intepretasi yang salah soal mereka. Tapi, apa Ega udah bilang ke kamu kalo kemarin ia keluar dengan Novia?”
Aku menggeleng. “kamu gak berpikir kalo aku lagi ngarang cerita ‘kan?” Meta bertanya agak menyelidiki. Aku tersenyum dan kembali menggeleng. “Ta, aku percaya sama apa yang kamu lihat. Tapi, mungkin aja mereka ketemu di Mall secara gak sengaja,” aku berusaha menyembunyikan gundah di hatiku dengan tetap berpikir positif. Aku tidak meragukan cerita Meta. Tapi aku hanya berusaha untuk tidak
membiarkanku jatuh terlalu dalam. Memikirkan mereka berduaan saja sudah cukup membuat hatiku terluka. Apalagi kalo Meta melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. 
“tapi, Rin. Ini sudah yang ketiga kalinya aku memergoki mereka jalan berduaan,”
Deg. Jantungku rasanya berdentum dengan keras. What!? Yang ketiga kalinya!? Aku terdiam.
“gini aja deh, Rin. Aku akan membantumu untuk membicarakan hal ini dengan Ega. Yaa barangkali aja selama ini ia memang gak jujur sama kamu,” ucap Meta.
Aku menggeleng. “gak usah, Ta. Biar aku yang bicara sendiri dengannya,”     
“kamu yakin?” aku mengangguk. Apakah aku punya cukup keberanian untuk mengajaknya bicara  tentang Novia? Ah, sepertinya tidak. Tapi, sampai kapan aku akan terus berada pada posisi yang gak jelas seperti ini?
Aku mencintai Ega. I really love him! Dan, aku gak ingin kehilangan dia. Ah, memikirkannya saja rasanya sakit. Tapi, seandainya dia memang sudah tidak menginginkan hubungan kami berlanjut, aku harus bagaimana?
                                                                                       ***

Lanjut ke cerpen "I'm Okay" part 2
           

cerpen "Bonsai" part 2



Aku terduduk lesu di depan bu Mutia. Siang itu ketika waktu istirahat, aku nekat menemuinya untuk mengatakan bahwa aku ingin berhenti sekolah. Tentu saja wali kelasku yang baik hati itu kaget bukan kepalang. “Ndar, kamu sadar dengan apa yang kamu bicarakan?”  Aku mengangguk. “tekad saya sudah bulat,Bu.  Saya ingin berhenti sekolah,”       “Alasannya...?”      “saya sudah tidak punya biaya lagi untuk melanjutkan sekolah,” jawabku. Bu Mutia menatapku lekat. Sorot matanya tegas. Aku menunduk. Jujur, aku tak berani beradu pandang dengan Beliau. Aku merasa kecil, dekil! Padahal beliau mempunyai sorot mata yang teduh dan nyaman.
“Ndar, kamu bohong pada Ibu. Ibu tahu itu... bukankah sebagian biaya sekolahmu ditanggung oleh sekolah. Kamu ‘kan sudah mendapatkan beasiswa untuk murid tidak mampu. Dan rumahmu juga tidak terlalu jauh dengan sekolah sehingga kamu selalu pulang dan pergi ke sekolah dengan jalan kaki. Kamu tidak pernah keluar ongkos untuk naik kendaraan umum. Jadi, bagaimana mungkin kamu mengatakan bahwa kamu sedang dalam kesulitan biaya sekolah? Alasanmu tidak masuk akal,”
Aku terdiam. Aku tahu bu Mutia adalah orang yang sangat teliti. Tentunya akan sulit bagiku untuk  mengelabuinya.
“Ibu tahu bukan itu alasannya. Sekarang, jelaskan pada ibu, ada apa sebenarnya? Kamu ada masalah dengan keluargamu?”   Aku menggeleng.
“Dengan teman-temanmu?”    Aku kembali menggeleng.
“lantas...?”    Aku tak segera menjawab.
“saya malu, bu....” jawabku kemudian.
Bu Mutia mengernyitkan dahinya. “Malu kenapa...?” aku terdiam sesaat.
“Saya malu, bu. Saya malu dengan fisikku yang tidak sempurna. Saya malu di panggil bonsai. Saya malu di katakan cebol oleh teman-teman.....”
Bu Mutia membelalak. “Astagfirullah..... Ndar, siapa yang bilang begitu?” Bu Mutia beranjak dari kursinya lalu memelukku dengan lembut. “setahu ibu, semua baik-baik saja...”
Aku menggeleng. Air mataku menitik. “enggak, bu. Mereka sering mengolok-olok saya dengan sebutan bonsai. Saya....”
Bu mutia menatapku dengan lembut. Beliau membantuku menyeka air mataku yang mulai berderai. “Ndar, selama ini ibu mengenalmu sebagi manusia yang kuat dan tegar. Tapi kenapa sekarang kamu jadi lemah begini...?”
“Bu ...........”       “Nanti sore, datanglah ke rumah ibu. Kita bicarakan ini di sana, empat mata. Oke?”     “tapi Bu...?”    “Ibu tunggu,”

***


Aku berdiri mematung selama beberapa detik. Kutatap rumah sederhana yang berada di depanku. Rumah sederhana bercat biru yang dipenuhi dengan bunga melati. Bunga melati dimana-mana. Di halaman rumah, di pot-pot, di teras rumah. Ah, itu adalah bunga kesukaan bu Mutia. Sesaat aku kembali bimbang. Masuk ke rumah itu? Ataukah kembali pulang? Pulang? Ataukah...
“Ndar, kok berdiri di situ? Ayo masuk!”  Suara itu membuyarkan lamunanku. Seorang wanita setengah baya dengan jilbab warna merah tua berdiri di depan pintu. Senyumnya yang hangat membuat kakiku tergerak untuk mendekat. Kucium punggung tangannya, Beliau membelai kepalaku dengan lembut lalu mempersilakanku masuk.
“Ayo silakan duduk. Ibu buatkan minum dulu ya..” Bu Mutia beranjak.
Aku menatap sekelilingku. Ini pertama kalinya aku ke sini. Rumah yang begitu nyaman. Beberapa lukisan besar tergantung di dinding. Lukisan yang indah. Pastinya harganya mahal..
Benda-benda antik terpajang di sudut ruangan. Hai, apakah itu hand made? Antik sekali. Rumah ini seperti museum benda-benda bersejarah. Sayup-sayup aku juga mendengar suara musik yang mengalir dengan lembut dan ... merdu sekali. Aku buta soal musik. Tapi, jujur, musiknya enak sekali untuk di dengar telinga. Ah, ini seperti terapi menenangkan jiwa. Haha....
“Ibu tetap tidak setuju kalau kamu ingin berhenti sekolah. Apalagi alasanmu begitu tidak masuk akal buat ibu,”  Bu Mutia muncul sambil membawa baki berisi secangkir teh dan setoples roti kering.
“Ayo diminum dulu ....”
“keinginan saya sudah bulat, bu.”  Perhatianku tidak bisa beralih ke arah minuman yang beliau suguhkan.
“Kenapa sih, Ndar? Selama ini ibu mengenalmu sebagai cewek yang cuek, tegar, dan kuat. Kamu tidak pernah care dengan ucapan-ucapan mereka.  Selama ini kamu selalu menganggapnya lelucon. Kenapa sekarang kamu berubah..?”     “pokoknya saya  malu, bu...”  Bu Mutia menarik nafas panjang.
“Ndar, coba lihat lukisan yang ada di sana!”  Bu Mutia menunjuk ke arah 3 lukisan yang terpajang di dinding. Lukisan yang besar dan indah. Aku sudah mengamatinya sedari tadi..
“bagaimana menurutmu? Indah bukan?”  sesaat aku tak mengerti dengan maksud dan arah pembicaraan bu Mutia. Tapi pada akhirnya, aku mengangguk.
“apakah Ibu sedang menyuruhku menjadi pelukis?”   Mendengar pertanyaanku, bu Mutia tertawa.
“haha,tentu saja tidak. Ibu Cuma ingin tahu pendapatmu tentang lukisan itu,”
“Lukisannya bagus. Tentu pelukisnya adalah orang beruntung yang di anugerahi bakat besar oleh Tuhan sehingga mampu menggerakkan tangannya untuk membuat lukisan sebagus itu...”
Bu Mutia tersenyum mendengar jawabanku. “Kamu benar, Ndar. Mereka adalah orang beruntung yang di anugerahi Tuhan bakat besar. Lukisan itu dilukis dengan kaki. Sedangkan dua di antaranya dilukis dengan menggunakan mulut...”
Aku mengernyitkan dahiku.
“kenapa, bu? Apakah mereka pemain sirkus ...?”
“bukan, Ndar. Tapi karena mereka tidak punya tangan untuk melukis,”
Aku melotot. Hah!?
“Mereka dilahirkan cacat, tanpa kedua tangan. Tapi dengan segala keterbatasan itu, mereka mampu membuat karya yang berguna untuk orang lain dan juga dirinya sendiri. Mereka adalah manusia yang senantiasa berusaha dan tak kenal lelah untuk berjuang meraih kesuksesan.”
 “semua benda yang ada di ruangan ini, rata-rata dibuat oleh orang yang dilahirkan dengan keterbatasan. Hiasan dinding, dipan, kursi, almari, rak buku, bahkan kursi rotan yang sedang kamu duduki itupun, dikerjakan oleh orang cacat....”
Bu Mutia beranjak mengambil sebuah majalah di tumpukan buku lalu menyodorkannya padaku. Majalah ‘Story’.
“di dalam majalah itu ada sebuah cerita yang sangat bagus. Judulnya ‘Di tembak bidadari’ halaman  22. Ibu pikir, ceritanya bisa memberikanmu inspirasi hingga kau bisa mengerti makna tentang rasa syurkur dan kepercayaan diri,”
Aku meraih majalah itu dengan perlahan.
“saya sudah pernah baca cerita itu bu,” jawabku pelan. Ya, ceritanya tentang seorang anak laki-laki bernama Jundi yang hanya punya tinggi 130 cm. Namun, ia tak pernah merasa minder dengan kekurangan fisiknya. Sebaliknya, ia senantiasa merasa percaya diri dan berpikir positif dalam menjalani hidupnya. Dan yang pasti, ia adalah orang yang senantiasa bersyukur. Tapi, ini hanya sebuah cerpen,bukan kehidupan nyata. Kalo toh dia nyata, kami berbeda. Bedanya adalah, Jundi dilahirkan dengan bakat ‘percaya diri’. Sedangkan aku...
Bukannya aku tidak bersyukur, tapi kami memang benar-benar berbeda.
“bagus dong kalo kamu sudah baca. Ibu harap kamu bisa mendapatkan nilai positif dari cerita tersebut,”
Aku terdiam. “Kenapa bu Mutia menceritakan semua ini padaku?” Aku bertanya dengan perlahan. “supaya kamu bisa berkaca. Supaya kamu bisa mengambil hikmah dari apa yang ibu ceritakan. Ndar, kamu harus tahu, di luar sana, begitu banyak manusia yang dilahirkan tanpa kesempurnaan. Ada yang gak punya tangan, ada yang gak punya kaki, ada yang buta, tuli, bisu, bahkan ada yang gak bisa apa-apa selain makan dan tidur. Tapi hanya sebagian dari mereka mampu berjuang dan hidup layak. Kamu tahu kenapa? Karena mereka adalah manusia yang mau berusaha dan tidak meminta belas kasihan dari orang lain! Dan yang pasti, mereka senantiasa percaya diri dan bersyukur dengan apa yang telah Tuhan berikan pada mereka,”
“bu Mutia hanya menceritakan hal yang muluk-muluk...!” Aku memotong.
“Muluk-muluk bagaimana?” 
“Mereka seperti itu karena mereka adalah orang yang beruntung...”
“apa kamu merasa bahwa kamu bukanlah orang yang beruntung?”
“bukan!”         
 “kenapa kamu bilang begitu, Ndar?” bu Mutia kembali menatapku lekat. Aku menelan ludah sebelum akhirnya kembali menjawab.
“karena saya tidak punya apa-apa untuk dibanggakan! Keluargaku miskin, aku cacat, tanpa bakat, apa yang  bisa dibanggakan, bu...??”
“karena kamu hanya bisa mengeluh, meratapi diri sendiri, putus asa. Ketahuilah, di muka bumi ini, bukan kamu satu-satunya orang yang patut dikasihani!” kata-kata bu Mutia mulai meninggi.  
Aku terisak. Ia menatapku tajam.
“saya bingung, bu! Saya tidak tahu harus bagaimana lagi?”
Bu Mutia tak berkata-kata. Ia hanya menatapku dan membiarkanku terus terisak. Keadaan hening sesaat.
“Ndar, jadi orang itu, jangan hanya bisa mengeluh, mengumpat, putus asa, dan meratapi diri sendiri. Bangkitlah! Kalau kamu terus menyerah pada keadaan, kamu akan hancur dengan sendirinya. Ingat, hanya orang kuat yang mau berjuang dan berusahalah yang akhirnya bisa bertahan hidup. Jangan kamu pikir bahwa keadaanmu sekarang adalah akhir dari segalanya. Lakukan sesuatu yang bermanfaat untuk dirimu, keluargamu, dan orang-orang yang menyayangimu. Buatlah mereka bangga,” Bu Mutia berkata dengan lembut. Hatiku berdesir. “Lalu saya harus bagaimana, Bu?”
“tetap sekolah, dan belajarlah dengan rajin. Buktikan bahwa kamu punya sesuatu untuk dibanggakan...”
Aku terdiam kembali. “bu, apa nantinya aku bisa menikah? Apakah ada orang yang mau menerimaku apa adanya?”
Bu Mutia tersenyum. “Percayalah, Tuhan akan memberikanmu yang terbaik asal kamu mau berusaha dan tak kenal kata menyerah. Oke?”
Bu Mutia membantu menghapus air mataku lalu memelukku dengan hangat.

cerpen "Bonsai" part 1



Bonsai...
Namaku Indar. Lengkapnya Siti Indarwati. Sekarang aku duduk di kelas X (sepuluh) SMA Nusantara. Di usiaku sekarang, harusnya aku bisa menikmati masa remajaku seperti teman-temanku yang lainnya. Bergaul dengan komunitas kami, jalan-jalan ke tempat hiburan, berangkat ke sekolah rame-rame, menggenggam cita-cita setinggi langit yang seakan-akan bisa diraih dengan mudah, dan juga .... punya pacar tentunya!
Sayangnya, aku tidak bisa. Aku tidak seperti teman-temanku lainnya yang bisa menikmati masa remaja dengan penuh warna. Keluargaku adalah keluarga miskin yang hidup dengan pas-pasan. Bapak dan emakku hanyalah buruh tani, kakakku yang tak pernah tamat SD-pun ikut terjun menjadi buruh tani. Rumah kecil yang saat ini kami huni-pun masih ngontrak. Harusnya aku gak sekolah. Harusnya aku ikut banting tulang membantu mereka agar kami tetap bisa bertahan hidup! Tapi, besar harapan orang tuaku dan kedua kakakku untuk melihatku menyelesaikan pendidikan hingga tamat SMA. “kamu harus tetap sekolah. Kamu harus tamat SMA. Kamu harus jadi orang. Jangan seperti bapakmu, emakmu, ataupun kakak-kakakmu yang gak bisa tulis maupun baca. Kamu satu-satunya harapan kami..” Itu yang selalu dikatakan oleh Bapak. Ah, andaikan aku punya pilihan yang lebih baik...
Terkadang aku berontak pada Tuhan. Terkadang aku merasa Tuhan tidak adil padaku. Kenapa harus aku? Dia menganugerahiku keluarga yang tidak mampu. Dan Dia juga menganugerahiku fisik yang tidak sempurna. Usiaku sudah 16 tahun. Tapi tinggi badanku hanya sekitar 100 cm. Teman-temanku biasa memanggilku dengan sebutan BONSAI. Ah, itu hanyalah kata yang diperhalus untuk mengatakan CEBOL! Jujur, hatiku merasa sakit sekali. Rasanya aku sudah putus asa. Aku rapuh.........
Seakan-akan aku ingin berlari, menghindar, bersembunyi di suatu tempat yang jauh sehingga aku tidak perlu lagi melihat keluargaku sengsara. Dan yang lebih penting lagi, aku tidak perlu lagi mendengar olok-olok teman yang mengataiku dengan sebutan: BONSAI.
Tapi, aku bisa apa?