Rabu, 21 Januari 2015

Bokura Ga Ita - Part 4



          “Belum baikan dengan Yano?” Chizu dan Mizuhara bertanya hampir bersamaan. Nanami menatap mereka satu persatu secara bergantian lalu kembali membuang pandangannya ke arah orang-orang yang berlalu lalang. Sore itu mereka menghabiskan waktu mereka dengan hang-out di sebuah pusat perbelanjaan.
“Belum,” jawab Nanami pendek. Terdengar Chizu membuang nafas.
“Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua? Padahal beberapa bulan ini kalian berhasil membuat seluruh siswa di SMA kita iri. Kalian begitu mesra, begitu lengket, begitu manis, begitu ... pokoknya kalian couple terbaik di sekolah kita. Tapi sekarang, aah, menyebalkan sekali melihat kalian tak bertegur sapa,” dengusnya.
Kali ini Nanami yang membuang nafas, putus asa.
“Aku juga bingung dengan apa yang terjadi di antara kami. Aku tahu Yano masih marah karena aku keluar diam-diam dengan Take, tapi kurasa, rasa cemburunya kelewatan. Harusnya dia percaya padaku, pada kami, bahwa kami tidak akan pernah mengkhianatinya,” gumamnya, kesal.
“Dia ... posesif,” lanjutnya.
Dan dia memanggilku Nana! Gerutunya dalam hati dengan lebih kesal.
“Dia posesif mungkin karena apa yang telah dilakukan kak Nana padanya,” celetuk Mizuhara.
“Memang apa yang dia lakukan?” serta merta Nanami menatapnya, penasaran.
“Well, aku juga tak tahu ini benar atau tidak. Tapi dari yang aku dengar, kak Nana itu playgirl. Dia tipe cewek yang sering gonta-ganti cowok. Ketika ia berpacaran dengan Yano, banyak yang mengatakan bahwa ia punya banyak pacar gelap. Bahkan nih, aku juga pernah dengar bahwa hari ketika ia mengalami kecelakaan, ia sedang pergi dengan pacarnya yang lain. Malangnya, mereka mengalamai kecelakaan mobil dan meninggal bersama,” Mizuhara melanjutkan.
Nanami terdiam. Ia tahu cerita yang terakhir, bahwa Nana meninggal dengan selingkuhannya, toh Yano sudah pernah cerita itu padanya. Tapi, rumor yang mengatakan bahwa kak Nana punya banyak pacar, itu ia tak tahu.
“Mizuuu, itu ‘kan baru gosip. Belum tentu benar. Jangan membuat Nanami tambah sedih. Lagipula tak baik menceritakan orang yang sudah meninggal,” Chizu mengomel. Sementara Mizuhara cuma nyengir.
“Yaaah, kalau keadaannya begini, sepertinya kita tidak akan bisa menghadiri pesta ulang tahun Take,” Chizu menggerutu. Nanami balik menatapnya ke arahnya.
“Ulang tahun Take?” ia mengulangi kalimat Chizu. Sahabatnya itu mengangguk.
“Sebenarnya kita semua di undang ke pesta ulang tahunnya malam ini, jam 7. Karena ini ulang tahunnya Take, pasti teman-teman dekatnya di tim futsal diundang. Termasuk Yano. Ia pasti juga hadir di sana. Dan kalau dia di sana, kemungkinan besar, kau tidak akan datang. Dan kalau kau tak datang, kita juga tidak,” Chizu menjelaskan.
Nanami menatapnya bingung.
“Tunggu. Kenapa kalian di undang. Sejak kapan kalian dekat?” ia bertanya.
“Chizu ‘kan pedekate dengan Shota,” Mizuhara nyeletuk.
Nanami membelalak. “Sejak kapan?”
“Sekitar satu bulan ini,” jawab Mizuhara.
Nanami melotot. Hah?
Cewek bermata bening itu menatap Chizu dengan tajam.
“Kenapa kau tak curhat dari awal??” ia nyaris berteriak ke arah sahabatnya itu sementara yang diteriaki cuma mesam-mesem.
“Oke, kita datang ke pesta ulang tahunnya Take,” Nanami berucap tegas.

          Sesuai perkiraan, ulang tahun Take berlangsung sederhana. Bahkan terkesan bukan pesta ulang tahun karena tak ada kue tart. Hidangan yang ada adalah bermacam-macam makanan dan minuman yang telah terhidang di meja makan. Teman-teman yang datang pun hanya sekitar 8 orang, semuanya anggota club futsal. Dan sesuai perkiraan pula, Yano juga ada di sana. Ketika Nanami memasuki ruangan, cowok itu hanya menatapnya sekilas lalu kembali mengobrol dengan teman-temannya yang lain. Nanami menggigit bibir dengan kesal.
Hah, aku dicueki?? Teriaknya dalam hati.
“Nanami, terima kasih karena kau mau datang,” sapa Take. Nanami tersenyum.
“Selamat ulang tahun ya,” cewek itu merogoh sebuah kado dari dalam tas nya lalu menyerahkannya ke arah Take.
“Woa, kau bahkan membawakanku kado,” ucap Take girang sambil menerima kado tersebut.
“Maaf, bukan sesuatu yang mahal. Tapi...”
“Terima kasih. Aku senang menerimanya, apapun itu. Boleh ku buka?”
Nanami mengangguk. Dan dengan penuh antusias, Take membuka bungkus kado tersebut. Dan yang ia dapatkan adalah sebuah gantungan kunci lucu berbentuk cumi-cumi.
“Waah, ini lucu sekali,” kedua mata Take berbinar-binar. “Terima kasih ya,”
“Kau suka?” Nanami bertanya. Take mengangguk.
“Hah, kado macam apa itu? kekanak-kanakan sekali,” tiba-tiba Yano nyeletuk. Suasana di ruangan tersebut menjadi tak nyaman selama beberapa saat. Bagaimanapun juga semua orang yang ada di situ tahu bahwa Yano dan Nanami sedang bertengkar dan tak bertegur sapa. Dan mereka juga tahu bahwa penyebab pertengkaran mereka adalah Take.
          Take menatap Yano dengan kesal. “Take, jangan terpancing dengan sikap Yano yang kekanak-kanakan, oke?” Shota berbisik di dekat telinga Take, mencoba menenangkannya. Tapi cowok itu malah terkekeh. Ia mendekati Yano, lalu menggoyang-goyangkan gantungan kunci itu di depan mukanya. 
“Lihatlah. Ini gantungan kunci terlucu yang pernah ku lihat. Dan gantungan kunci di beli khusus oleh Nanami, untukku. Untukku. Kau mau? Lihatlah, lucu ‘kan?” Take tertawa penuh kemenangan. Teman-temannya melongo.
“Kenapa dia jadi ikutan kekanak-kanakan begini?” Akira berbisik di dekat telinga Shota. Shota hanya bengong.
          “Kado murahan seperti itu, siapa yang mau?” Yano menggigit bibirnya kesal. Ia menyambar gantungan kunci tersebut, lalu bangkit, kemudian melemparkan benda mungil itu ke luar jendela.
Hening sesaat. Tak ada yang berani bergerak. Yano berbalik dan menatap Take dengan jengkel. “Aku sudah membuangnya, kau mau apa?” desisnya.
Tiba-tiba Nanami bangkit, meraih gelas berisi minuman dan byuurrr.... ia menyiramkannya ke arah Yano.
“Kau idiot!” teriaknya lalu beranjak keluar. Yano tertegun. Tapi sejurus kemudian, ia ikut beranjak.
“Nanami, tunggu!” teriaknya seraya berlari mengejar cewek tersebut.
Ruangan kembali hening.
“Ngomong-ngomong, di mana cumi-cumiku?” celetuk Take kemudian. Sahabat-sahabatnya menatapnya bersamaan, terlihat jengkel. Cowok itu meringis.
“Maksudku, gantungan cumi-cumi,” ucapnya.
“Kamu sih kekanak-kanakan!” Shota dan Akira berteriak hampir bersamaan. Dan Take kembali nyengir.

Bokura ga ita live-action

          “Nanami, tunggu!” teriak Yano. Ia berusaha menghentikan langkah kaki Nanami, tapi cewek mungil itu terus melangkah tanpa menggubris teriakan Yano.
“Nanami, ku mohon. Bicaralah denganku,” ia menyentuh pundak Nanami tapi cewek itu menepis tangan Yano dengan kasar. Tapi akhirnya ia berbalik lalu menatap cowok di hadapannya dengan tajam.
“Sebenarnya ada apa denganmu? Akhir-akhir ini kau ... menyebalkan. Kau mendiamkanku, kau marah-marah padaku, kau memperlakukanku seperti orang lain, kau bahkan ...”
“Aku salah, Gomenashai*,”potong Yano. “Aku masih marah padamu karena kau berbohong padaku. Aku masih cemburu padamu karena kau pergi dengan Take tanpa sepengetahuanku. Aku tak percaya padamu,”
“Aku sudah bilang bahwa aku punya alasan,”
“Karena itu aku minta maaf,” ucap Yano lagi.
“Maaf karena aku tak percaya padamu. Maaf karena aku cemburu padamu, pada Take. Maaf karena akhir-akhir ini aku menyebalkan. Maaf karena ... aku terlalu takut kehilanganmu,” tatapan Yano terlihat sayu. Nanami merasakan dadanya sakit. Entah kenapa, ia ingin menangis.
“Kau takkan kehilanganku, Yano. Aku takkan kemana-mana,” Nanami setengah berteriak.
“Aku tak tahu luka apa yang ditinggalkan almarhum Nana padamu. Tapi aku janji aku takkan melakukan hal yang sama. Aku takkan meninggalkanmu, aku takkan mengkhianatimu, percayalah padaku,”
Keduanya berpandangan. Hening.
“Janji?” tanya Yano lirih.
“Janji,” jawab Nanami.
Yano mendekatinya, meraih tangannya lalu meletakkan sesuatu di genggaman tangannya yang mungil.
“Berikan ini pada Take kalau aku sedang tak ada di depannya. Aku tak suka kau bersikap manis pada cowok lain di hadapanku,” ucapnya.
Nanami menatapnya dengan bingung. Gantungan kunci berbentuk cumi-cumi, kado ulang tahun Take.
“Tapi, bukankah kau sudah membuangnya? Aku melihatmu melemparnya ke luar jendela,” tanya Nanami heran. Yano menggeleng.
“Take itu sahabat baikku. Aku takkan tega membuang kado ulang tahunnya. Yang ku lempar tadi, kacang,” jawabnya.
Nanami menatap gantungan kunci itu lalu ke arah Yano dengan terharu. Cewek bermata bening itu menghambur ke arahnya, lalu memeluknya erat.
“Aku janji, aku takkan meninggalkanmu. Aku takkan mengkhianatimu. Bahkan jika mampu, aku janji aku takkan mati sebelum kamu,” bisiknya lirih di telinga Yano.
Yano balas memeluk cewek itu dengan erat.
Suki dayo*,” ia balas berbisik.
“Dan terima kasih untuk arlojinya,” Lanjutnya lirih.


          Nanami mengulurkan gantungan kunci berbentuk cumi-cumi itu ke arah Take. Take menatapnya dengan mata berbinar.
“Cumi-cumiku!” ia nyaris berteriak kegirangan sambil menerima gantungan kunci tersebut.
“Bagaimana mungkin? Bukankah Yano sudah membuangnya?” tanyanya antusias.
Nanami tersenyum menggeleng.
“Tidak. Dia hanya main-main,” jawabnya. Take manggut-manggut.
“Sudah ku duga. Yano takkan tega melakukannya, hehe,” jawabnya. “Jadi, kalian sudah berbaikan?” ia kembali bertanya. Nanami tersenyum dan mengangguk.
“Maaf kalau kami merusak pesta ulang tahunmu. Kami bertengkar di hadapan kalian seperti anak kecil, ah, aku malu sekali,” dengus Nanami.
“Tidak apa-apa. Yang penting, kalian sudah berbaikan,”
Mereka berjalan beriringan menuju lapangan basket.
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Nanami,”
“Oke, katakanlah,” cewek itu menghentikan langkah, Take juga. Mereka berdiri berhadapan.
Take terdiam sesaat.
“Aku tahu ini takkan mudah. Tapi jika mencintai Yano ibarat ikut lomba lari, aku harap kau menyelesaikannya sampai selesai,”
Nanami mengernyit, bingung.
“Kau harus tahu, Yano sudah mengalami banyak hal dalam hidupnya. Ia hidup sendiri dengan ibunya, tanpa ayah, tanpa keluarga lain karena seluruh keluarg ibu Yano telah memutuskan ikatan kekeluargaan mereka. Aku ingat, dulu waktu SD dan SMP ia selalu terlibat perkelahian dengan murid-murid lain karena ia di olok-olok sebagai anak haram. Yano  anak yang kuat. Ia pantang menyerah. Tapi aku tahu, setiap kali selesai berkelahi, atau setiap kali selesai di hukum guru, ia selalu menangis sendirian di kamar mandi,” suara Take terdengar parau.
“Hubungannya dengan Nana waktu itu juga tak begitu baik. Mereka sama-sama jatuh cinta, tapi terlalu banyak luka, terlalu banyak pertengkaran. Karena itu ....”
“Aku mengerti,” Nanami memotong. Ia menelan ludah. “Aku akan memberikan ia cinta sebanyak yang aku punya. Cinta yang sudah seharusnya ia dapatkan sejak dulu kala,” lanjutnya.
Mereka berpandangan, dalam. Perlahan Take tersenyum lalu mengangguk.

***

          Nanami menatap buku Matematika di hadapannya dengan kesal sementara Yano bergelayut mesra di sisinya. Cowok itu menyandarkan kepalanya ke bahu Nanami sementara lengan tangannya melingkari pinggang cewek tersebut. Ia tak henti-hentinya bersenandung, terlihat begitu bahagia.
“Yano, apa yang kau lakukan?” desis Nanami, jengkel.
“Menempel padamu,” jawab Yano singkat tanpa mendongak ke arah cewek di sebelahnya.
“Kalau kau terus menempel padaku seperti ini, kita tidak akan bisa mengerjakan PR,”
“Bodo amat,” jawab Yano lagi, singkat.
“Dan apa-apaan ini?” Nanami menunjuk ke arah tangan Yano yang melingkar di pinggangnya.
“Itu tangan, tanganku lebih tepatnya. Siapa bilang itu kaki,” Yano terdengar sewot.
Nanami mendesah.
“Tapi aku geli.”  Ia memprotes. “Kau seperti Ben-chan.” Lanjutnya.
          Yano mendongak, beringsut mundur lalu menatap Nanami dengan penuh selidik. “Ben-chan? Siapa itu?” Kedua matanya menyipit. Nanami terkekeh. “Dia keponakanku,” jawabnya.
“Apa dia laki-laki?” Yano kembali bertanya. Nanami mengangguk.
“Berapa umurnya?” Nada suara Yano terdengar tak suka.
Nanami kembali tertawa lirih.  “Tenanglah, Yano. Dia hanya anak laki-laki berumur 5 tahun, kau tak perlu sewot seperti itu.” Ucapnya.
Bibir Yano mencibir. “Kelak aku takkan membiarkan anak itu bermanja-manja padamu,” desisnya. Nanami kembali tergelak.
          Tiba-tiba pintu diketuk. “Yano, ada temanmu di luar sana.” Ibu Yano berujar dari  luar kamar. Yano dan Nanami berpandangan. Dengan bermalas-malasan cowok itu bangkit lalu melongokkan kepalanya dari jendela untuk melihat siapa yang datang.
“Nanami, kau di sini dulu sebentar.” Yano beranjak keluar kamar lalu menutup pintunya. Nanami menatapnya bingung. Cewek itu bangkit, melongokkan kepalanya lewat jendela dan ia melihat siapa gerangan yang ada di depan rumah. Yuri.
Untuk apa dia ke sini? Ia bertanya bingung.
          Nanami melangkahkan kakinya menuju pintu. Tapi ia terkejut ketika mendapati pintu itu terkunci.
“Yano, apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengunci pintunya?” Nanami berteriak sambil menggerak-gerakkan knop pintu. Tapi, pintu itu benar-benar terkunci dari luar.
Nanami menatap sekelilingnya dengan bingung. Ada apa? Kenapa Yano menguncinya di dalam kamar? Apa yang ingin ia bicarakan pada Yuri? Kenapa ia tak boleh tahu?
          Nanami berlari ke arah jendela. Ia melongokkan kepalanya untuk menyaksikan Yano dan Yuri terlibat pembicaraan serius. Apa yang mereka rahasiakan? Apa yang tidak Nanami ketahui?
Nanami mondar-mandir dengan frustasi. Dan selang beberapa menit kemudian, pintu terbuka. “Maaf, aku hanya sekedar membereskan urusan,” ucap Yano.
Nanami menatapnya dengan tajam. Ia merapikan peralatan tulisnya lalu memasukkannya ke dalam tas.
“Aku pulang,” ucapnya. Ia beranjak. Yano menarik tangannya.
“Tunggu, ada apa Nanami?” ia bertanya bingung.
Nanami terkekeh.
“Ada apa? Harusnya aku yang bertanya? Ada apa antara kau dan Yuri? Kenapa kau tak memperbolehkanku menemuinya? Aku tahu ada sesuatu yang kalian rahasiakan. Hubungan kalian aneh, tak wajar. Katakan Yano! Ada apa antara kau danYuri!?” Nanami berteriak.
Yano mematung.
“Tak ada apa-apa di antara kami.” Jawabnya. Nanami tersenyum sinis. Ia merasakan matanya berkaca-kaca.
“Kau bohong, Yano. Aku bukan cewek bodoh. Jika memang tak ada apa-apa antara kau dan Yuri, kau takkan mengunciku di dalam kamar. Aku bukan orang luar lagi, aku pacarmu, harusnya kau bisa bicara banyak hal padaku,” Nanami menepis tangan Yano.
“Jangan bicara dulu denganku,” ucapnya lagi seraya beranjak.
“Nanami, tunggu,” Yano mengekor di belakangnya.
“Aku bersungguh-sungguh,” ia memohon.
Nanami menatapnya dengan dalam. Air matanya menitik. Cewek itu menggeleng lirih.
“Ada sesuatu yang kau sembunyikan, Yano. Aku tahu itu,” desisnya. Dan ia kembali melangkah, tanpa mempedulikan panggilan Yano.

***

          Yano meringkuk di ranjang Take. Ia dan Nanami kembali tak bertegur sapa selama beberapa hari. Dan ia merasa frustasi luar biasa.
“Yano, sampai kapan kau akan begini terus?” Take menatapnya dengan putus asa.
“Saling berdiam diri tidak akan menyelesaikan masalah,” ia menambahkan.
“Aku mencoba bicara dengannya. Tapi dia menolak bicara denganku,” jawab Yano lirih.
“Kalau begitu, cobalah bicara lagi dengannya, lagi dan lagi,” ujar Take kesal.
“Kau harus bicara jujur padanya. Kau harus mengatakan semua tentang apa yang terjadi antara kau dan Yuri. Jika tidak, kau akan semakin melukai Nanami,” Take nyaris berteriak.
Yano menutup matanya dengan lengan tangannya. Ia terdiam sesaat.
“Aku tak bisa, Take. Aku tak bisa jujur padanya,” jawabnya.
“Kenapa?”
“Karena dia akan menangis. Dan aku tak mau dia menangis,” suara Yano bergetar. Take menatapnya dengan pilu. Ia tahu, saat ini, Yano sedang menahan tangis.
“Nanami akan menangis, tentu saja. Tapi setidaknya, dia berhak mendapatkan penjelasan darimu,” ucap Take lagi. Yano tak menjawab. Air mata mengalir ke pelipisnya walau ia telah menutup matanya dengan lengan tangan.

***

          Sekolah sudah sepi. Nanami tengah duduk termangu di kursinya ketika Yano beranjak mendekatinya lalu duduk di bangku depannya.
“Aku akan jujur padamu, tentang apa yang terjadi antara aku dan Yuri,” ucapnya lirih.
Nanami menatapnya.
“Aku akan memberimu tiga pilihan, dan kau bebas menentukan mana yang benar,” ia menambahkan.
Nanami mengernyit.
“Apa-apaan kau ini?” cewek itu berucap dengan kesal. Tapi ia sudah menyiapkan diri untuk mendengarkan pengakuan Yano.
“Satu, aku pernah jatuh cinta pada Yuri, tapi ia menolakku,” Yano memulai.
Nanami terkekeh.
“Itu tidak mungkin,” jawabnya.
“Dua, aku adalah pengagum rahasia Yuri,”
Nanami kembali terkekeh.
“Itu lebih tidak masuk akal lagi,” jawabnya.
“Dan Tiga ...” kalimat Yano terhenti, ia menelan ludah.
“Tiga, aku dan Yuri pernah tidur bersama,” ia melanjutkan.
Nanami tertegun. Ia menatap mata kelam Yano dengan dalam. Mata itu sayu, seolah tak bernyawa. Dan dada Nanami seketika sesak. Cewek itu tertawa, tapi sekian detik kemudian ia terisak.
Air matanya mengalir deras tanpa bisa ia bendung. Ia tahu, jawaban ketiga-lah yang benar...
Yano dan Yuri, pernah tidur bersama....

***

Bersambung....



Gomenashai                   : maaf
Suki dayo              : aku menyukaimu. (dalam budaya jepang, kata-kata ‘suka’ sudah otomatis menyatakan cinta)

Senin, 19 Januari 2015

Bokura Ga Ita - Part 3



          “Jadiii, sekarang kau pacaran dengan Yano, begitu?” Chizu menatap Nanami dengan penuh selidik. Yang ditanya cuma nyengir sambil garuk-garuk kepala.
“Sepertinya ... begitu,” jawabnya, bingung.
Sepertinya begitu? Maksudnya bagaimana sih?” Chizu terlihat tak sabar.
“Mmm, gimana ya? Mestinya sih iya, tapi ....” kalimat Nanami terhenti. Ya, sejak kejadian semalam, mestinya mereka sudah resmi jadian. Tapi, Yano tak mengatakan apapun setelahnya. Setelah mereka pulang bersama, bahkan ketika Nanami sudah di rumah, dan juga tadi pagi, Yano tak mengatakan apapun walau hanya lewat pesan singkat. Bukankah sepasang kekasih seharusnya bersikap manis? Rajin mengirimkan sms walau hanya sekedar mengucapkan salam?
Bukankah sebelum tidur seharusnya ia menerima pesan singkat berbunyi : selamat malam sayang... Hal yang biasa di lakukan teman-temannya yang punya kekasih. Ya ‘kan? Seharusnya begitu ‘kan? Tapi ....
“Tapi bagaimana kau tahu kalau kami berpacaran?” tanya Nanami kemudian. Chizu dan Mizuhara berpandangan. Kesal.
“Ya ampun, Nanami. Semua orang juga sudah tahu hal itu. Yano menyatakan perasaannya ketika pesta api unggun dan semua melihatnya. Memangnya kau pikir waktu itu tak ada orang. Kami semua juga melihat ketika ia menggenggam erat tanganmu lalu ... menciummu,”
“Hah,” Nanami nyaris terjungkal dari kursinya. Oh, sialan. Benar juga!
Semalam, setelah Yano mengungkapkan perasaannya, dan ia membalas dengan anggukan, cowok itu meraih tangannya, menggenggamnya dengan erat kemudian ... ia mencium bibirnya!
“Oh tidaaaakkk! Maksudmu, ada yang melihat kami berciuman?!” Nanami memekik.
“Sebagian siswa melihatnya, kalau kau mau tahu persisnya,” Mizuhara mengoreksi.
Nanami menelangkupkan tangan di pipinya. Mukanya merah padam karena malu.
“Oh, ini memalukan sekali,” desisnya. Berciuman di depan banyak siswa, mereka bahkan baru kelas 2 SMA!
“Dan kalau kau mau tahu, ini sudah jadi trending topic di sekolah kita,” Mizuhara menambahkan. Nanami mendesah, ia melipat tangannya di meja lalu menyembunyikan wajahnya.
Hampir semua siswa menyaksikannya berciuman dengan cowok paling populer di sekolah? Bagaimana kalau Yano hanya main-main? Atau sekedar taruhan? Hal yang biasa ia temui di drama-drama korea. Aduh, bagaimana ini?
Ditengah-tengah meratapi pikirannya yang campur aduk, tiba-tiba ia merasakan seseorang menyentuh kepalanya dengan lembut.
“Kau sakit?”
Suara itu, suara Yano!
Nanami mendongak. Dan itu memang benar dia. Ia menatap sekelilingnya, mencoba mencari Chizu dan Mizuhara yang tadi bersamanya tapi mereka tak ada. Yang ada hanyalah dia dan ... Yano.
“Chizu dan Mizuhara? Tuh,” Yano menunjuk ke luar jendela. Ternyata 2 sahabatnya itu sudah berdiri di luar kelas, menatap ke arahnya sambil melambaikan tangannya. Ia melihat Chizu komat-kamit.
“Selamat berpacaran. Kami pergi dulu,” dan mereka benar-benar pergi.
“Jadi, ada apa denganmu? Kau sakit?” Yano kembali mengulangi pertanyaanya. Ia duduk si bangku di depan Nanami.
Nanami menggeleng.
“Yakin? Sejak kau datang aku melihatmu tak bersemangat. Apa kau kurang tidur?”
Nanami hanya terkekeh bingung mendengar pertanyaan Yano. Kurang tidur? Well, jika mau jujur, iya. Semalam ia tak bisa tidur sama sekali setelah Yano mengungkapkan cintanya, dan setelah mereka berciuman. Bagaimanapun juga ini hal baru baginya.
“Aku baik-baik saja,” jawab Nanami kemudian.
Yano merapikan rambut Nanami yang berjuntaian lalu menyelipkan ke belakang telinganya. Tindakan sederhana itu tetap saja membuat jantung Nanami berdebaran.
“Nanti sore, jam 4. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan dan nonton film,” ucapnya.
“Jalan-jalan dan nonton film? Sepulang sekolah?”
Yano mengangguk.
“Kencan pertama kita,” jawabnya. Ia tersenyum.
Nanami merasakan kakinya tak berpijak lagi di lantai. Ia bahagia luar biasa. Kencan. Nah, sekarang ia tahu status hubungannya dengan Yano. Mereka adalah sepasang kekasih.

***

          Mereka menghabiskan sore hari itu dengan menonton film kemudian berjalan-jalan di taman.
“Kencan pertama kita mestinya aku berdandan lebih cantik. Ini, malah pakai seragam sekolah,” Nanami setengah menggerutu. Yano tertawa sambil terus menggenggam tangan cewek tersebut.
“Pacaran memakai seragam sekolah itu seru. Tidak akan bisa terulang lagi kalau kita sudah tua,” jawab Yano. Nanami manyun.
“Lagipula, jam 8 nanti aku harus kerja paruh waktu di sebuah mini market. Jadi, kita hanya bisa melakukan kencan sepulang sekolah,” cowok itu menambahkan. Nanami manggut-manggut.
“Kau lelah?”
“Sedikit,” jawab Nanami.
“Kalau begitu kita duduk di sana dulu,” Yano mengajaknya duduk di sebuah bangku di taman.
“Akan kubelikan minuman,” Yano sudah ngacir sebelum Nanami sempat mengatakan apapun. Beberapa saat kemudian ia kembali membawa 2 kaleng minuman lalu memberikan yang satunya kepada Nanami.
“Kenapa sikapmu sekarang berbeda?”
Yano mengernyitkan dahinya. “Maksudnya?” ia balik bertanya.
“Biasanya kau sering mendebatku. Kita sering berselisih pendapat dan kau suka berteriak-terika padaku. Kau juga sering menggodaku dan juga mencandai aku. Bahkan, sepertinya kita lebih sering bertengkar. Tapi sekarang, sikapmu manis. Kau berbicara lembut padaku, dan kau juga sangat perhatian padaku. Kenapa?” tanya Nanami bingung.
Yano tertawa.
“Kau yang aneh, Nanami. Memperlakukan sahabat dan pacar itu berbeda. Kemarin kita masih bersahabat, jadi sikapku ya selayaknya sahabat. Tapi sekarang kau pacarku, aku harus bersikap lebih baik padamu,” jawab Yano. Ia meraih tangan Nanami lalu kembali menggenggamnya erat.
“Mari kita jalani ini pelan-pelan, Nanami. Mari kita saling memperhatikan dan lebih mengenal satu sama lain. Aku akan selalu berusaha memperlakukanmu dengan baik, oke?”
Nanami tersenyum. Ia mengangguk.
“Ow, ada lagi. Ini, hanya bisa dilakukan pada pacar, bukan pada sahabat,” tiba-tiba saja Yano mendekat lalu mencium bibir Nanami dengan ringan. Nanami tersentak kaget.
“Yano, banyak orang melihat,” gerutunya. Pipinya segera bersemu merah.
Yano nyengir, penuh kemenangan.
“Kau makin cantik kalau merona seperti itu,” cetusnya. Bibir Nanami mengerut sebal.


***

          Lapangan futsal yang biasanya ramai oleh anak-anak yang latihan kini makin ramai ketika Yano datang dengan membawa sekarung barang-barang bekas.
“Eh, apa-apaan kau? Apa sekarang kau sudah ganti profesi jadi pedagang barang loak?” celetuk Shota. Yano meringis.
“Barang-barang ini sudah tak terpakai. Jadi aku berniat menjualnya. Lumayan, uangnya bisa kugunakan untuk membeli barang yang lebih baru,” jawabnya seraya menumpahkan semua isi karung tersebut. Ada sepatu bekas, sandal bekas, kaos bekas, celana bekas, topi bekas, beberapa buku bekas, bahkan beberapa mainan bekas.
Teman-temannya melongo, namun begitu mereka segera mengerubunginya dengan antusias.
"Diobral! Diobral! Mari sini, silahkan lihat, silahkan beli. Di jamin, barang-barang ini kualitasnya masih bagus. Lihat saja kalau tidak percaya.  Harganya murah-murah kok,” teriaknya.
Takeuchi menatapnya dengan heran.
“Ada apa denganmu?” tanyanya bingung. Yano tersenyum.
“Aku ingin membeli sesuatu untuk Nanami. Tapi tabunganku tak cukup. Jadi aku melakukan cara ini,” bisiknya.
Take manggut-manggut.
“Oke, kalau begitu aku beli yang ini. Berapa harganya?” Ia meraih sepatu olah raga berwarna biru kusam, namun masih terlihat lumayan bagus. Diluar dugaan, Yano malah meraihnya kembali.
“Tidak. Semua orang di sini boleh membeli barang-barangku, tapi kau tidak,” ia meletakkan kembali sepatu tersebut di tempatnya semula.
“Kenapa?” Take bertanya bingung.
“Aku menolak menerima uang darimu karena kau sering bilang bahwa Nanami cantik,” jawab Yano. Take menggaruk-garuk kepalanya, masih bingung.
“Lantas?” ujarnya. Yano menyipitkan matanya dan menatap Take dengan dalam.
“Aku tidak suka ada cowok lain yang memuji Nanami. Dia pacarku, jadi akulah satu-satunya pria yang boleh mengatakan dia cantik,” jawabnya bangga.
Take tergelak.
“Kau kekanak-kanakan, Yano. Kenyataanya Nanami memang cantik, manis, imut dan ...”
“Stop! Nah ‘kan? Kau mengulanginya lagi. Silahkan mundur 2 langkah tuan Takeuchi, atau aku terpaksa melemparmu dengan sepatu,” ujar Yano lagi.
“Ha?” Take melongo. Yano bersedekap dengan angkuh. “Aku serius,” ia melanjutkan.
Mau tak mau Takeuchi mundur dua langkah.
“Kau tidak adil. Yang sering mengatakan Nanami cantik bukan aku saja. Mereka juga sering bilang begitu kok. Ya ‘kan?” Take menunjuk ke arah sahabat-sahabatnya yang lain. Shota, Kenta, Akira, dan juga anggota tim futsal lainnya. Yano juga menoleh ke arah mereka.
“Beee-naaarr-kaaaah?” Alis mata Yano terangkat dan ia bertanya dengan gigi terkatub. Mereka cuma meringis.
“Ti-tidak. Kami tidak pernah mengatakan apa-apa soal Nanami, percayalah,” mereka menjawab kompak.
Take melotot.
“Shota! Baru tadi pagi ‘kan kau bilang bahwa Nanami makin cantik?!” Take kembali berteriak. Shota meringis. Ia menggeleng.
“Aku tidak bilang begitu,” jawabnya. Take mendengus. Yano kembali menatapnya.
“Kau pembohong besar tuan Takeuchi,” desisnya.
Take menatapnya jengkel.
“Aku tidak bohong. Akhir-akhir ini mereka sering membicarakan Nanami. Mereka bilang, semakin hari Nanami semakin cantik,” jawabnya. Yano mendesis.
“Aku nggak percaya,”
“Terserah,”
“Dan aku tidak suka kau masih menyimpan foto Nanami. Itu, foto yang memaki yukata. Aku sudah memintamu menghapusnya ‘kan? Tapi kau tetap saja menyimpannya,” gerutunya.
“Itu, sebagai file cadangan. Siapa tahu file yang ada di hapemu terhapus, makanya yang ada dihapeku kubiarkan saja,” Take ngotot.
“Bohong,” Yano manyun.
“Terserah. Terserah lagi deh,”
“Pokoknya kau tak boleh membeli barang-barangku, titik,” kata Yano lagi, tegas, lalu kembali menawarkan barang-barang dagangannya pada temannya yang lain.
Take berkacak pinggang dengan kesal. Tapi selanjutnya ia terkekeh. Begitulah Yano, sahabat terbaiknya sejak SD. Terkadang ia ceria, terkadang ia kasar, terkadang ia begitu kekanak-kanakan. Tapi ia tahu dengan pasti, Yano hanyalah seorang anak laki-laki yang membutuhkan limpahan kasih sayang dari banyak orang, termasuk dari dirinya.

***

          Nanami menatap kotak perhiasan berisi cincin perak bermotif bunga semanggi yang disodorkan Yano ke arahnya. Kedua mata cewek itu berkaca-kaca.
“Ini pemberian pertama dariku. Aku sudah melihat ukuran jemarimu. Pasti pas. Semoga kau suka,” ucap Yano tulus, lalu memaikan cincin itu ke jari manis Nanami.
“Tuh, pas ‘kan?”
Nanami menatap cincin itu di jari manisnya. Sebuah cincin sederhana yang sangat cantik.
“Kau senang?” tanya Yano lagi.
Nanami mengangguk. Air matanya menitik tanpa bisa ia bendung. Kemudian cewek itu menghambur ke arah Yano, lalu memeluknya erat.
“Terima kasih. Aku senang sekali,” ucapnya lirih.

***

          “Take!” Nanami melambaikan tangan ke arah pemuda jangkung yang tengah berlari-lari kecil ke arahnya.
“Maaf aku terlambat. Aku baru tahu pesan singkatmu beberapa waktu yang lalu,” jawab Takeuchi dengan nafas terengah-engah. Ia menyapu butiran keringat di keningnya.
“Aku yang harus minta maaf, Take. Karena sepertinya kali ini aku akan sangat merepotkanmu. Minum dulu, nih,” Nanami menyodorkan sekaleng minuman dingin yang sudah sejak tadi ia bawa ke arah Take.
Take menerimanya dengan senang lalu segera membukanya dan menenggaknya hingga tersisa separo.
“Trims,” ucapnya kemudian setelah dahaganya hilang. “Jadi, ada apa kau memanggilku ke sini?” tanyanya kemudian.
Nanami tersenyum.
“Nih, coba lihat,” ia memamerkan cincin bermotif daun semanggi yang melingkar di jari manisnya. Take menatapnya seksama. Ia tahu cincin perak itu tidak murah.
“Yano memberikan ini. Kejutan. Cantik ‘kan?” ucap Nanami lagi.
Bibir Take berdecak kagum. Pemuda itu manggut-manggut. Jadi beberapa hari yang lalu Yano menjual barang-barang bekas untuk membelikan Nanami ini? ucapnya dalam hati.
“Cantik, kau cocok memakainya,” puji Take. Dan ia tak bohong.
“Terima kasih,” jawab Nanami senang.
“Dan apa hubungannya kau memintaku ke sini?” tanya Take lagi.
“Aku ingin memberi kejutan pada Yano. Aku ingin membelikannya sesuatu. Tapi aku tak tahu benda apa yang ia suka dan yang paling ia butuhkan saat ini. Jadi, aku meminta bantuanmu untuk membantuku memilih. Kau lama mengenalnya, tentu kau tahu benda apa yang paling ia suka,” jawab Nanami.
Take mengernyit.
“Dengan kata lain, kau ingin mengajakku belanja?” ia bertanya ragu.
Nanami mengangguk.
“Jalan-jalan dan belanja, lebih tepatnya,” ia menambahkan.
Take menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
“Entahlah, tapi mengajakku jalan-jalan dan belanja, sepertinya bukan ide yang baik,” jawabnya.
“Kenapa?” pertanyaan Nanami terdengar kecewa.
“Jika Yano tahu kita jalan berduaan, dia pasti menghabisiku,” jawab Take kemudian. Nanami tertawa.
“Mana mungkin? Kalian ‘kan bersahabat baik. Dia tidak mungkin cemburu padamu. Yano memang sedikit kekanak-kanakan, tapi ...”
“Tidak hanya sedikit, Nanami. Jika menyangkut dirimu, dia selalu kekanak-kanakan. Bahkan, sangat kekanak-kanakan,” potong Take.
Nanami kembali tertawa.
“Baiklah, baiklah. Hanya sebentar saja. Kalau Yano tahu dan marah, biar aku yang jelaskan. Oke?”
Take meringis.
“Oke,” jawabnya kemudian. Dan segera mereka berdua beranjak, menuju kawasan pertokoan yang membentang di belakang mereka.

***

          Chizu dan Mizuhara menatap Nanami dengan tatapan penuh selidik.
“Apakah ini hanya perasaan kami saja atau memang benar bahwa sejak kemarin kau dan Yano tak bertegur sapa?” Mizuhara bertanya duluan.
Nanami duduk merosot di kursinya.
“Kalian benar. Sejak kemarin kami memang tak bertegur sapa,” jawabnya.
“Kenapa?” mereka bertanya hampir bersamaan.
Nanami mengangkat bahu. Ia sendiri tak tahu alasannya.  Sejak kemarin, ia memang dicuekin olehnya.
Biasanya setiap pagi, Yano akan menyapanya dengan riang sambil mengelus kepalanya dengan manja. Tapi kemarin tidak, pagi ini juga tidak. Setiap hari cowok itu akan selalu punya cara agar bisa berdekatan dengannya, duduk di sampingnya, atau hanya sekedar berada di sisinya. Tapi sejak kemarin, Yano tetap duduk dengan tenang di bangkunya sendiri, bangku paling ujung sebelah kanan, bagian depan. Hari ini juga begitu, bahkan sampai istirahat jam terakhir. Ia bahkan tak mencuri-curi pandang ke arahnya, hal yang senantiasa ia lakukan selama beberapa bulan ini, sejak mereka resmi jadian.
Biasanya sepulang sekolah, mereka akan pulang bareng sembari bergandengan tangan sampai halte bis, dan terkadang Yano mengantarkannya pulang walau rumah mereka tak searah. Tapi kemarin, untuk pertama kalinya aktivitas itu tak mereka lakukan. Yano pulang dulu, begitu saja. Tanpa mengatakan apapun padanya. Tadi pagi Nanami sudah mencoba menyapanya dulu, tapi Yano tak mengatakan sepatah katapun.
“Aku tak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba saja ia menolak berbicara denganku,” jawab Nanami kemudian seraya melirik ke arah bungkusan di dalam tas-nya. Sebuah hadiah yang dibungkus indah dengan kertas kado warna biru muda. Sebenarnya ia ingin memberikannya sejak kemarin, tapi suasana hati Yano yang tidak bagus membuatnya urung memberikannya.
“Ingin kami berbicara dengannya?” Chizu dan Mizuhara bertanya hampir bersamaan.
Nanami menatap mereka dengan tegas.
“Tidak, biar aku saja yang berbicara sendiri dengannya,” Nanami bangkit. Tapi ketika ia berbalik, tanpa sengaja ia bertabrakan dengan Yuri yang tengah membawa setumpuk buku, entah buku apa. Yuri terjatuh dan buku-buku itu berserakan.
“Yuri, maaf, aku tak sengaja,” Ucap Nanami penuh penyesalan. Ia segera berjongkok dan membantu memungut buku-buku tersebut lalu menyerahkannya ke arah Yuri.
“Jangan terlalu senang karena telah menjadi pacar Yano. Kau hanyalah pengganti kakak-ku,” kalimat yang meluncur dari mulut Yuri terdengar dingin. Cewek berkaca mata itu bahkan mengucapkannya tanpa melihat ke arah Nanami.
Nanami menatapnya bingung.
“Yuri, kata-katamu itu keterlaluan!” teriak Chizu.
Yuri bangkit, lalu berlalu begitu saja. Nanami mematung.
“Ah, Nanami. Sudahlah, jangan diambil hati. Yuukk, kita cari saja Yano,” Mizuhara membantu Nanami bangkit.
“Tidak, aku mau duduk dulu,” jawab Nanami lalu kembali ke tempat duduknya semula.
Cewek itu kembali terdiam.
Pengganti kakak-ku...
Pengganti Nana...

***

          “Yano! Berhenti!” Nanami belari-lari kecil mengejar Yano. Cowok itu berhenti, menatap Nanami sekilas, lalu kembali melangkah lagi.
“Aku bilang berhenti!” Nanami kembali berlari lalu menarik lengan tangannya. Hingga mau tak mau, langkah Yano berhenti, menatapnya sekilas, lalu kembali membuang pandangannya seolah-olah Nanami adalah benda menjijikkan.
“Ada apa denganmu? Kenapa kau menolak berbicara denganku?” tanya Nanami.
“Aku hanya sedang marah padamu,” jawab Yano, lagi-lagi tanpa melihat ke arah cewek di hadapannya.
Nanami melepaskan pegangan tangannya, mundur beberapa langkah, lalu melipat tangannya di dada dengan angkuh.
“Jelaskan padaku kenapa kau marah padaku,” ucapnya, tegas.
Kali ini Yano menatapnya.
“Karena kau keluar jalan-jalan dengan Take tanpa sepengetahuanku,” jawabnya kemudian.
“Ha?” Nanami melongo.
“Aku mengawasimu. Jadi aku tahu kau keluar dengannya secara diam-diam tanpa memberitahuku,”
“Itu tidak seperti yang kau pikirkan,”
“Aku tak peduli apa yang terjadi. Tapi tetap saja aku tak suka jika kau keluar dengan cowok lain di belakangku,”
“Tapi Take ‘kan sahabatmu? Mestinya kau percaya padanya, percaya padaku,” jawa Nanami kesal.
“Ini bukan masalah percaya atau tidak, Nanami. Kenyataannya kau bohong padaku. Kau keluar jalan-jalan dengan cowok lain tanpa sepengetahuanku. Bagaimana jika aku yang melakukannya, kau pasti marah ‘kan?”
“Oke, aku minta maaf jika itu telah menyakitimu perasaanmu. Tapi kami hanya keluar jalan-jalan sebentar untuk membeli sesuatu,”
“Kenapa kau mengajaknya? Kenapa bukan aku?”
“Karena ....” Nanami bingung harus menjawab apa.
“Tak bisa jawab ‘kan? Dasar pembohong,” Yano kembali beranjak. Ia melangkahkan meninggalkan Nanami.
“Yano!” panggil Nanami. Tapi cowok itu tak menggubris. Nanami menggigit bibirnya kesal. Ia mengambil bungkusan kado dari dalam tasnya lalu melemparkannya ke arah Yano. Dan tepat mengenai kepalanya.
Yano mengaduh kesakitan seraya memegangi kepalanya. Ia menoleh, menatap ke arah Nanami, lalu ke arah bungkusan kado yang tergeletak di bawahnya.
“Hadiah untukmu! Baka*!” teriak Nanami.
“Aku ingin memberikan kejutan untukmu. Membelikanmu sesuatu yang paling kamu butuhkan. Aku sengaja mengajak Take karena ia lebih mengenalmu. Ia tahu benda apa yang paling kamu butuhkan, itu saja!” teriak Nanami.
“Dan jika ada yang membuatmu marah, bicaralah langsung padaku! Aku berhak mendapatkan penjelasan! Mendiamkanku tidak akan menyelesaikan masalah! Dan aku benci kau diamkan seperti ini!” teriak Nanami lagi. Kedua matanya berkaca-kaca. Lalu ia barbalik, meninggalkan Yano.
Yano tertegun sesaat.
“Nana, tunggu!” panggilnya.
Langkah Nanami terhenti. Ia berbalik dan menatap Yano dengan tajam.
“Nanami! Aku, Nanami! Bukan Nana!!” teriaknya. Dan air matanya menitik. Sebelum Yano sempat berkata apa-apa lagi, cewek itu berlari meninggalkannya.

***

Bersambung....

Baka : Idiot / bodoh