Senin, 16 Mei 2016

NEPHILIM #4



Ara bangun keesokan harinya tepat ketika cahaya matahari menyeruak masuk melewati korden jendela. Gadis itu menggeliat sesaat. Sejenak ia lupa kalau ia tidak berada di kamarnya.
Sampai akhirnya ia mencium aroma yang berbeda dari ruangan yang sedang ia tempati.
Ia bangkit dengan tiba-tiba lalu menatap sekelilingnya.
Ah, akhirnya ia ingat ia sedang berada di kamar Vernon.

Mata beningnya menatap keseluruhan ruang bernuansa abu-abu itu. Rapi, minimalis, dan ... khas. Khas aroma tubuh Vernon. Tidak terlalu wangi, tidak menusuk, tapi terkesan fresh dan lembut.

Gadis itu turun dari tempat tidur dan beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka. Sesaat sebelum ia keluar dari kamar, ia sempat mengecek bayangannya di cermin. Sekedar merapikan rambutnya yang acak-acakkan.

Ia menuruni tangga dan bergerak melangkahkan kakinya menuju dapur. Berharap ia bisa membantu menyiapkan sarapan pagi.
Ketika sampai di sana, ia melihat Joey sudah sibuk menata sarapan di meja makan.
“Maaf, aku bangun kesiangan,” sapa Ara. Ia segera membantu lelaki itu menata piring.
Joey tersenyum lembut. “Tak apa-apa. Hanya sekedar makan biasa,” jawabnya.
“Sepi,” Ara menatap sekeliling ketika menyadari tak ada celotehan dari Habin ataupun yang lainnya.
“Habin dan Dino bangun pagi-pagi sekali. Mereka jogging bersama. Gio dan Woody masih tidur. Yang lainnya, masih ada urusan.” Joey menjelaskan.
Ara manggut-manggut.

“Ara, maaf soal semalam. Kau pasti kaget.” Ucap Joey lagi. “Kami tak bermaksud melibatkanmu dalam masalah ini. Ini di luar dugaan kami kalau kau akan ...”
“That’s fine,” potong Ara. Ia tersenyum lembut ke arah pemuda berambut panjang tersebut. “Vernon sudah menceritakan segalanya padaku. Dan, aku masih tetap ingin bersahabat dengan kalian. Jujur selama ini aku dan adikku merasa kesepian. Tapi sejak kita bertetangga, adikku senang sekali. Dan aku senang kita semua bisa bersahabat,” lanjutnya.
Joey tersenyum. “Suatu saat nanti kami akan pergi. Pindah dari satu tempat ke tempat lain, seperti biasanya. Tapi selama kita masih di sini, ayo nikmati saja waktu kita bersama.”
Ara mengangguk.
Pasti.

“Makanlah dulu. Aku akan pergi ke pasar, berbelanja untuk makan siang nanti,”
“Biar aku saja yang belanja,” cetus Ara. Joey mengibaskan rambutnya yang tergerai. “Kau? Yang belanja di pasar?”
Ara langsung mengangguk.
“Aku tidak repot. Biar aku saja yang belanja. Aku tinggal lebih lama di sini. Jadi aku tahu tempat mana yang menjual barang dengan kualitas bagus dan harga murah. Aku tahu uangmu banyak. Tapi bukan berarti kau bisa membeli sesuatu seenaknya ‘kan? Kau hanya perlu mencatat apa saja yang kau butuhkan dan aku yang akan pergi ke sana,” jawabnya.
Terlihat berpikir sesaat, akhirnya Joey mengangguk.

***

Setelah menerima beberapa lembar uang dan catatan belanja, Ara melangkah dengan riang. Ia sempat berpapasan  dengan Woody dan Gio di halaman rumah. Dua lelaki tampan itu tampak berkeringat selepas jogging.
Teringat akan cerita Vernon semalam, bagaimana dua lelaki itu kesepian selama ratusan tahun, merindukan ibu mereka, Ara kembali trenyuh dan iba.  Perempuan itu berjingkat, menubruk dan memeluk pria-pria itu secara bergantian. Ia tak tahu kenapa, ia hanya ingin memeluk mereka begitu saja.

Woody dan Gio hanya tercengang menerima pelukan tak terduga tersebut.
“Ara, kenapa? Kami berkeringat.” Keluh Woody.
Ara hanya tersenyum. “Apa terjadi sesuatu padamu?” tanya Gio heran.
Gadis cantik itu menggeleng.
“Tidak. Aku hanya terlalu senang karena bisa bersahabat dengan kalian. I love you, guys!” teriaknya seraya kembali  memeluk mereka secara bergantian kemudian beranjak meninggalkan mereka.

Woody dan Gio berpandangan heran.
“Apa dia salah makan sesuatu?” desis Gio. Woody menggeleng bingung.
“Tapi dia bilang dia mencintai kita?” gumamnya.
Keduanya terkikik. Rona merah menghiasi wajah mereka yang berkeringat.
“Yess!” Mereka ber-high five.

Sementara Ara berjalan ringan menuju rumahnya untuk mandi dan berganti baju.
Sembari menyantap sepotong roti dari kulkasnya, ia beranjak menuju pasar, siap berbelanja kebutuhan sesuai catatan belanja yang diberikan Joey.

***

Ara sedang dalam perjalanan pulang dari pasar ketika menemukan tas belanjaannya robek hingga beberapa barang belanjaannya jatuh berserakan. Gadis itu sempat menggerutu sebelum memunguti beberapa sayuran yang tercecer dipinggir jalan. Dan beruntung ketika seorang pemuda dengan sukarela membantunya memunguti sayuran tersebut.
“Terima kasih,” ucap Ara.
Pemuda sipit berambut blonde itu tersenyum manis. Wajahnya tampan dan terlihat ramah.
“It’s okay. Hati-hati ya. Jangan sampai jatuh lagi,” jawabnya. Ia menatap Ara dengan tatapan lembut. “Oh, kau Ara ‘kan?”
Ara mengernyit heran. “Kau tahu aku?”
Ia mengangguk. “Beberapa waktu yang lalu aku melihatmu berangkat sekolah bersama dengan Vernon,”
Mendengar nama Vernon disebut, Ara reflek mundur beberapa langkah dengan waspada. Entah kenapa ia merasa sensitif ketika ada orang yang mengenal Vernon setelah ia mengetahui jati dirinya. Ia mulai paranoid. Takut bahwa yang ia hadapi adalah makhluk abadi lain.

“Aku baru beberapa hari mengenalnya. Kami sama-sama mengikuti kelas dance,” pemuda itu kembali berucap. Ara kembali menatapnya dengan was-was. Sadar akan tatapan curiga Ara, pemuda itu kembali tersenyum.
“Sampaikan salamku padanya,” dan Ia beranjak.  
“Aku tidak tahu namamu!” teriak Ara.
Pemuda itu menoleh dan kembali tersenyum lembut. “Hoshi,” jawabnya.

***

Ketika Ara sampai di rumah Vernon, ia menyaksikan Dino dan Habin bermain bola di halaman.
“Habin, setelah ini kita akan pulang. Oke?” teriak Ara. Habin tampak cemberut, tapi toh ia mengangguk dengan patuh. “Oke,” jawabnya.

Gadis itu menyapa singkat ke arah Dika, Woody dan Gio yang tengah mengobrol di ruang tengah, lalu bergerak ke dapur. Meletakkan barang-barang belanjaannya di sana.
“Kenapa kau yang belanja?” Vernon muncul dari anak tangga.
“Tadi aku juga berniat belanja ke pasar. Jadi sekalian saja aku membantu Joey,” jawabnya. Yang dibicarakan muncul dari ruang lain, bersama Josh di sisinya.
“Kau sudah pulang?” Joey menyapa. Ara mengangguk dan tersenyum puas. Senyum di bibirnya menghilang ketika Josh menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
“Kenapa?” tanya gadis itu heran.

Josh tak segera menjawab.
“Apa kau bertemu dengan seseorang?” tanyanya. Ara menelengkan kepalanya bingung.
“Seseorang? Aku bertemu banyak orang.” Jawabnya. Tapi sesaat kemudian ia seakan teringat akan sesuatu. “Oh ya, aku bertemu teman Vernon. Namanya ...” ia mencoba mengingat-ingat.
“Temanku?” Vernon menggumam.
Ara mengangguk. “Dia membantuku memungut barang-barang belanjaanku yang terjatuh. Dia bilang dia temanmu di kelas dance. Namanya ... aduh, siapa tadi namanya? Aku agak lupa. Dia tampan, rambutnya blonde, dan matanya sipit.” Ucapnya.

Josh tampak pucat. Ia mematung seketika. Suasana hening. Vernon dan yang lainnya menatapnya bingung.
“Josh?” Dika bersuara. “Kali ini siapa?” raut mukanya was-was. Ara menatap ke arah pemuda-pemuda yang tengah berdiri saling bertatapan satu sama lain itu dengan bingung.
Tampak Josh menelan ludah.
“Salah satu malaikat tertinggi. Hoshi,”

“Hoshi! Nah, itu namanya. Aku bertemu dengannya ketika pulang berbelanja,” jawab Ara spontan.
Vernon mendekat ke arah Ara dengan segera.
“Kau bertemu dengannya? Apa yang dia lakukan padamu? Apa ia menyakitimu?” Ia bertanya cemas.
Ara menggeleng. “Tidak.” jawabnya segera. “Dia malah membantuku. Ada apa? Ada hal penting? Berbahaya? Josh bilang dia ... malaikat?”

Mereka berpandangan dengan was-was. Tak terkecuali Joey yang biasanya nampak tenang.
Dan Ara segera tahu bahwa itu pertanda tidak baik.
“Aku hanya tak mengira bahwa mereka akan mengetahui keberadaan kita secepat ini.” Dika mendesis.
“Jadi sekarang bagaimana?” Woody dan Gio bertanya hampir bersamaan.
Nephilim paling tua itu tak menjawab. “Kita tunggu saja langkah apa yang akan mereka lakukan,” jawabnya kemudian.
“Ara, jika kau bertemu dengannya lagi, menghindarlah,” nada suara Vernon tak lebih seperti sebuah perintah.
Ara menatapnya tak mengerti.
“Kenapa? Bukankah malaikat tidak menyakiti manusia?”
“Dia berbeda.” Josh menyahut. “Dia memang malaikat, bahkan salah satu malaikat tertinggi. Tapi dia teguh dalam  melaksanakan tugas. Menjalankan perintah dengan baik dan menyingkirkan penghalang. Itu prinsipnya.” 

Ara menelan ludah dengan susah. Tanpa mau menambah kekhawatiran Vernon dan saudara-saudaranya, gadis itu mengangguk. “Oke, aku akan menghindarinya.” Jawabnya.

***

Ara dan Habin sudah kembali ke rumah mereka sendiri sore harinya. Awalnya Habin menolak pulang karena masih ingin bermalam di rumah Dino, tapi setelah membujuknya, menjanjikan ini dan itu padanya, akhirnya bocah itu bersedia pulang.
“Berarti lusa aku boleh menginap lagi di rumah Kak Dino? Kakak sudah janji mengijinkanku ‘kan?” Bocah itu tak henti-hentinya mengingatkan Ara soal janjinya.
Ara mengangguk lelah. “Iya, kakak janji. Lusa kau boleh menginap di sana lagi. Asal tidak merepotkan dan tidak nakal.” Ucapnya.
“Aku tidak pernah nakal. Aku juga tidak pernah merepotkan. Kakak bisa bertanya pada kak Dino kalau tidak percaya. Aku anak yang baik,” Habin membela diri.
Ara kembali mengangguk-angguk lelah.
“Iya, iya, tahu. Sekarang segera persiapkan perlengkapan sekolahmu untuk besok dan tidurlah. Jangan bangun kesiangan.”
Habin mengangguk cepat lalu bergerak ke kamarnya.

Ara bersiap mengunci pintu ruang tamu ketika tiba-tiba kepala Vernon menyembul dari sana.
“Oh, kau membuatku kaget,” gerutu Ara.
Vernon tersenyum. “Maaf,” ia meringis. Ia membuka pintu lebar-lebar lalu melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan oleh sang pemilik rumah.
“Ada apa?” tanya Ara.
Vernon menggeleng. “Tidak ada. Hanya ... mengecek keadaanmu saja,” jawabnya.
Ara terkekeh. “Aku baru meninggalkan rumahmu sekitar 15 menit yang lalu. Kau tak perlu cepat-cepat mengecek keadaanku. Aku baik dan ... tidak apa-apa. Tak perlu cemas.” Jawabnya.
Vernon manggut-manggut.
“Boleh aku tidur sini?”
“Heh?” Gadis itu membelalak.
“Aku khawatir padamu. Jadi ...”
“Vernon, takkan terjadi apa-apa denganku. Aku bisa menjaga diriku, oke?” potong Ara.
Vernon menatapnya dengan ragu hingga membuat Ara menghela nafas.
“Pulanglah. Aku aman. Lagipula, bahaya apa yang menimpaku? Tak ada ‘kan? Kau yang harus lebih hati-hati menjaga diri karena malaikat mengetahui keberadaanmu.”
Ia mendorong punggung Vernon dengan lembut dan menyuruhnya pulang.
“Pulanglah. Jangan terlalu mengkhawatirkanku. Kau sendiri harus banyak istirahat. Kau terlihat lelah. Aku akan baik-baik saja, percayalah. Jika ada apa-apa aku akan berteriak dan kau bisa mendatangiku dengan secepat kilat,” ia memastikan.
“Kau yakin?” tanya Vernon lagi. Ara mengangguk.
Dan dengan berat hati, akhirnya Vernon menuruti kemauan gadis tersebut untuk pulang.

Lelaki itu baru saja meninggalkan rumah ketika Ara mendengar pintu diketuk oleh seseorang. Mengira bahwa itu Vernon, Ara berlari kecil dengan kesal.
Namun begitu pintu terbuka olehnya, tampak pemuda tampan berambut blonde dan bermata sipit sudah berada di hadapannya. Pemuda itu tersenyum sinis.

Ara menelan ludah.
Itu Hoshi.

***

“Aku tak menyangka mereka akan mengetahui keberadaan kita secepat ini,” Dika membuka suara setelah beberapa menit keadaan hening. Pria itu duduk seperti biasa di kursi kesayangannya. Woody dan Gio duduk berdampingan di kursi yang berada di sebelahnya. Sementara Joey dan Josh berdiri bersandar kusen berdampingan. Dan Vernon, seperti biasa, ia duduk santai di langkan jendela.

“Apa kita harus berkemas lagi? Bersiap-siap melarikan diri lagi?” tanya Woody tanpa antusias.
“Aku tak mau. Aku lelah.” Sahut Vernon.
“Hei, jika kita tak segera pergi dari sini, itu sama saja dengan mati,” Joey yang sejak tadi diam ikut bersuara.
“Jika memang begitu, aku akan bertarung dengannya sampi titik akhir. Aku, atau mereka yang mati, selesai.” Jawab Vernon lagi.
“Vernon ...,”
“Kita harus pergi, Vernon. Ini pilihan kita satu-satunya. Kita tak tahu berapa banyak musuh yang akan kita hadapi. Satu malaikat tinggi sudah cukup merepotkan. Bagaimana jika dia membawa sepasukan malaikat yang lain?” Dika memotong kalimat Joey. Tatapannya yang bijak lurus ke arah Vernon yang masih duduk santai di lantai jendela, membelakangi saudara-saudaranya.
“Tidak. Jika kalian ingin pergi, pergi saja. Aku lelah berlari dari satu tempat ke tempat lain. Aku ingin di sini. Mati ...” ia terkekeh sinis. “Aku sudah siap untuk itu,”

“Vernon.” Kali ini Dika bangkit. “Ini tidak hanya tentang keselamatanmu. Ini juga tentang keselamatan Ara dan Habin.”
Mendengar nama Ara dan Habin disebut, Vernon menoleh. “Kenapa kau harus menyebut nama mereka? Mereka tak ada hubungan sama sekali dengan keadaan kita,” ucapnya sengit.
“Kau lupa siapa yang mengejar kita kali ini? Dia Hoshi. Tak perlu ku sebutkan karakteristiknya pun kau sudah tahu bahwa ia berbahaya bagi nephilim, bagi makhluk abadi lain, dan bahkan bagi manusia sekalipun. Manusia yang punya hubungan dengan makhluk seperti kita dan ...”
“Cukup,” merasa gerah, lelaki berambung gondrong itu setengah berteriak.
Ia beringsut turun. “Baik, kita pergi. Kapan? Sekarang?” ucapnya frustasi.

Obrolan mereka di malam hari yang sunyi itu terhenti ketika tiba-tiba Dino menyeruak masuk ke ruang tengah dengan tergopoh-gopoh.
“Kak!” Ia berteriak histeris.
“Ada apa?” Dika bangkit dengan waspada. Menyadari pasti ada hal yang tidak beres.
Dino menelan ludah sebelum menatap langsung ke arah Vernon.
“Ara hilang,” desisnya lirih.

Vernon membelalak, begitu pula ke lima pemuda yang lain. Tubuh mereka segera menegang. Terutama Vernon yang langsung terlihat pucat seketika.
“Habin baru saja menelponku sambil sesenggukan. Dia bilang tiba-tiba saja Ara menghilang dari rumah. Dia ---,” ia bahkan belum sempat meneruskan kata-katanya ketika Vernon beranjak.
“Josh, bantu aku melacak keberadaan Ara!” teriaknya. Josh segera mengangguk tanda mengerti.

Di antara mereka ber-tujuh, hanya Josh yang mampu  melacak keberadaan seseorang ataupun makhluk lain. Ia punya semacam ‘penglihatan’ yang membantu mereka untuk mengetahui ada malaikat atau tidak di sekitar mereka.
Sementara Joey, Dika dan Vernon, mereka sama-sama punya telepati yang mampu menjalin komunikasi batin. Biasanya jika Josh menemukan sesuatu hal yang tidak beres, ia akan menyampaikannya pada Joey. Dan secara otomatis, Joey akan menyampaikannya juga pada Dika atau Vernon, walau posisi mereka berada ratusan kilometer.

“Aku tak bisa melakukan ini di sini. Kita harus keluar,” ucap Josh di tengah-tengah konsentrasinya.
“Oke, kita berpencar,” seru Gio.
Dan akhirnya mereka menyebar.
Joey bersama Josh, Woody bersama Gio, dan Vernon langsung menuju rumah Ara untuk melihat keadaan Habin.
Sementara Dika tetap di rumah menemani Dino.

***

Vernon menyeruak memasuki rumah Ara dengan kalap. Berharap ada keajaiban yang mampu mengembalikan Ara di sini. Di rumah ini, dalam keadaan baik-baik saja.
“Kak Vernon, di mana kak Ara?” tanya Habin dengan sesenggukan.
Vernon menatapnya lembut, berusaha bersikap tenang.
“Jangan khawatir Habin. Kakakmu sedang pergi ke rumah temannya. Nanti akan aku jemput. Sekarang ikutlah denganku, kau akan tidur lagi dengan kak Dino. Oke?” ucapnya.
Habin masih belum sempat meredakan isak tangisnya ketika Vernon mengangkat tubuhnya dengan ringan dan menggendongnya.
“Sstt, jangan menangis. kakakmu baik-baik saja. Dia masih pergi ke rumah temannya untuk mengambil buku pelajaran,”
“Tapi tak biasanya ia pergi tanpa berpamitan padaku. Aku jadi takut ia akan pergi meninggalkanku seperti yang dilakukan ayah dan ibuku,” isaknya.
Vernon menelan ludah. Hatinya mencelos. Tidak! Ara akan baik-baik saja! Teriaknya dalam hati.

“Akan ku antarkan kau ke rumah kak Dino terlebih dulu. Setelah itu aku akan menjemput kakakmu. Oke?” ujarnya dengan suara tercekat lalu bergerak meninggalkan rumah Ara menuju rumahnya sendiri.
Setelah ia mengantarkan Habin ke sana, pemuda itu segera melesat kembali.
Menyisir pelosok kota mencari Ara.

***

-Atap gedung.

Ia mendengar bisikan itu melalui kekuatan pikirannya. Joey berkali-kali mengucapkan kata itu.

-Atap gedung yang mana?

Vernon membalas.

-Entahlah. Josh pikir, yang paling tinggi.

“BANYAK GEDUNG TINGGI DI SINI!” Vernon berteriak frustasi, tanpa mau repot-repot menggunakan kekuatan pikirannya lagi.

Lelah berputar-putar di pelosok kota, ia berusaha memfokuskan pikirannya untuk mencari gedung paling tinggi di kota tersebut.
Dan tepat sebelum ia beranjak, ia mendengar Joey berseru. –Ketemu!

***

Vernon mendekati sosok itu dengan langkah gontai.
Sesosok gadis yang tengah terbaring tak bergerak, tepat di atas pembatas atap gedung. Beberapa inchi saja gadis itu bergerak, bisa dipastikan tubuhnya akan terjun bebas menghantam jalanan di bawah sana yang jaraknya sekitar ratusan meter.
Vernon bergidik ngeri.
Membayangkan Ara menggeliat, lalu tubuh mungilnya meluncur bebas dan remuk menghantam tanah!

Lelaki itu mendekati sosok yang tetap terpejam itu dengan takut-takut. Dan air matanya seketika menitik manakala ia menyadari Ara masih bernafas.
Bukan, ini bukan air mata kesedihan. Ia hanya terlalu terharu ketika menyadari bahwa gadis itu masih hidup. Gadis itu hanya tak sadarkan diri.

Dengan segera Vernon meraih tubuh mungil tersebut, menggendongnya  dan membawanya ke tempat yang aman, lalu mendekapnya erat. Air matanya kembali menitik.
“Terima kasih karena kau masih hidup,” bisiknya parau.
Dan gadis itu tetap saja menutup mata dengan tenang.

Mata coklat Vernon membesar ketika menyadari ada secarik kertas terselip di antara kerah baju Ara.
Lelaki itu meraihnya dan membaca sederet kalimat dengan tak sabar.

-*- Aku hanya mengajaknya jalan-jalan. Dan si puteri tidur tetap tak membuka mata. Ini hanya pemanasan. Kelak, aku tak segan-segan untuk menjatuhkannya dari lantai tertinggi demi untuk menyaksikan tubuhnya remuk menghempas tanah.-*-

Vernon meremas-remas kertas tersebut dengan kesal.
Sesaat kemudian Joey, Josh, Gio dan Woody sampai di tempat mereka.

“Apa dia baik-baik saja?” Gio dan Woody berseru hampir bersamaan seraya berlutut di samping Vernon yang masih mendekap Ara. Gadis itu tetap tertidur dengan nyenyak.
“Dia tak apa-apa. Hanya tak sadarkan diri. Ini ... semacam peringatan buat kita,” jawab Vernon. Lelaki  itu menatap ke arah Josh.
“Hoshi-kah?” ia memastikan. Dan Josh mengangguk.
“Apa ia masih di sekitar sini?”
Josh menggeleng.
“Dia sudah pergi. Sejak beberap waktu yang lalu. Aku tak mampu merasakan keberadaannya sekarang,” jawabnya.

Vernon merasakan rahangnya menegang menahan gejolak amarah.

***

Ara membuka mata dan menyadari ia tak berada di kamarnya. Sempat merasa pening sesaat, ia menatap sekitarnya dan melihat Vernon duduk di sofa yang berada di sisi tempat tidur.
“Kau sudah bangun?” Vernon membuka suara dan tersenyum.
Bola mata Ara mengerjap dan menatap sekelilingnya sekali lagi. Ia ada di kamar Vernon.

“Kenapa aku di sini?” Ia seolah bertanya pada dirinya sendiri. Mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Dan segera ia terlonjak.
“Hoshi! Aku bertemu dengannya!” ia berteriak dan turun dari ranjang dengan segera. Ia terhuyung dan merasa pening seketika. Vernon bangkit dan menopang tubuhnya.
“Dia datang ke rumahku dan setelah itu ...” Ara mengoceh. “Habin?” Ia nyaris berlari ke luar kamar jika saja Vernon tak menarik tangannya dengan lembut.
“Habin baik-baik saja. Ia sedang sarapan pagi dengan Dino.” Ucapnya.
Ara menatap lelaki di hadapannya, mencoba memastikan.
“Apa yang terjadi denganku?”
Vernon menggeleng.
“Tidak ada. Kau hanya tertidur dan aku membawamu kemari karena khawatir padamu,” jawabnya.
“Duduklah dulu. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Mau ku suapi?” Vernon membimbing Ara untuk duduk kembali  ke ranjang. Setelah itu ia mengambil nampan berisi secangkir teh hangat dan semangkuk bubur.

“Minumlah dulu,” Vernon menyodorkan mulut cangkir ke depan bibir Ara. Dan gadis itu menyesapnya pelan. Rasa hangat yang memenuhi kerongkongannya membuat ia merasa sedikit lebih tenang.

“Ara ...” Suara Vernon terdengar berat. “Sekarang kau tahu bahwa situasi kami tidak bagus. Jadi, segera setelah kau selesai sarapan. Pulanglah dengan Habin. Dan ... kami akan pergi.”
Mendengar penuturan lelaki itu, Ara menatapnya dengan tatapan tak percaya.
“Pergi? Kau akan pergi?” Ia mendesis lirih.
Vernon mengangguk. Ia menatap gadis di hadapannya dengan tatapan tak rela.
“Kami akan pergi. Para malaikat sudah mengetahui keberadaan kami di sini. Dan bisa saja kami membahayakan nyawamu dan juga nyawa adikmu. Jadi ...” suaranya tercekat. “Mungkin ini akan menjadi pertemuan kita yang terakhir.”

Kedua bahu Ara lunglai. Merasa belum siap menerima kata-kata Vernon.
“Kemana kau akan pergi?” ia bertanya lirih.
Vernon tak menjawab. Ia menunduk sesaaat, mencengkeram pinggiran nampan, lalu menarik nafas panjang. “Entah. Pokoknya pergi, melarikan diri. Lagi,” jawabnya getir.

Dan Ara merasakan mulutnya hambar.
Untuk suatu alasan yang belum ia ketahui, ia merasa belum siap berpisah dengan para Nephilim ini, dengan Vernon.

***

Ara menuruni tangga dan menemukan Dika beserta yang lain duduk-duduk di ruang tengah. Mereka langsung terdiam ketika melihat kedatangan Ara. Terlihat dengan jelas bahwa mereka baru saja terlibat perbincangan yang serius.
“Kau baik-baik saja?” Gio dan Woody bangkit dan mendekati Ara bersamaan. Gadis itu tersenyum.
“Aku baik-baik saja. Vernon sudah membawakan sarapan yang lezat padaku,” jawabnya seraya melirik ke arah Vernon yang berdiri di sampingnya.
“Habin kemana?” Ia bertanya ketika tak melihat bocah itu bersama mereka.
“Oh, dia sudah pulang duluan. Dino yang mengantarkannya. Dia bilang dia lupa memberi makanan ikan kesayangannya makanya ia buru-buru minta di antarkan ke sana,” jawab Dika.
Ara manggut-manggut.
“Kalau begitu, aku juga akan pulang. Terima kasih karena semalam aku diijinkan tidur di sini lagi.” ucapnya seraya kembali melirik ke arah Vernon dengan tatapan tak menentu.
Dika tersenyum.

Ara baru saja hendak melangkahkan kakinya menuju pintu ketika tiba-tiba saja mereka mendengar sebuah ledakan yang sangat dahsyat dari luar rumah.
Ara merunduk seketika. Dan reflek Vernon berlari ke arahnya lalu mendekap tubuhnya dengan sikap protektif.
Mereka berpandangan silih berganti dengan bingung. Hingga akhirnya mereka sadar bahwa ledakan itu berasal dari samping rumah mereka, dari rumah Ara!

Ara membelalak. “Habin!” Ia berseru.
“Dino!” Dan Dika ikut berteriak.
Serta merta mereka menyeruak keluar dari rumah mereka dan segera berlari menuju rumah Ara.
Dan lutut mereka lemas ketika menyaksikan apa yang terpampang di hadapan mereka.

Api berkobar dan rumah mungil itu luluh lantak tak terbentuk.

“Habiiiiinnnn!” Ara berteriak histeris dan berlari mendekat ke arah rumah yang diliputi api dan asap tebal tersebut. Vernon sigap  menarik tubuhnya dan mendekapnya erat. Gadis itu sempat meronta, namun Vernon tak berhenti untuk terus mendekapnya, berusaha menenangkannya.

“Habin ada di rumah itu, Vernon! DIA ADA DI RUMAH ITU BERSAMA DINO!!” Ia kembali menjerit. Histeris. Air matanya jatuh berderaian.
Ia menarik baju lelaki yang mendekapnya lalu menatapnya dengan tajam. Dan ia melihatnya, Vernon juga menitikkan mata.

Ara menggeleng.
“Tidak ...” desisnya.
“Tidak ...”
Gadis itu ambruk.
Vernon terisak, menatap ke arah rumah yang hancur tersebut. Menatap ke arah puing-puing yang berserakan. Dan bisa jadi, puing-puing itu adalah sebagian kecil dari tubuh Dino dan Habin.

Dika juga terlihat syok. Air matanya menitik. Begitu pula dengan keempat saudaranya yang lain.
Mereka kehilangan Dino.
Dan juga ... Habin.

***

Polisi sudah menyelidiki penyebab meledaknya rumah Ara yang menyebabkan Dino dan Habin tewas. Tubuh kedua bocah itu hancur tak tersisa. Mereka mengatakan bahwa kebakaran dan ledakan hebat itu disebabkan oleh tabung gas.
Namun Ara dan yang lainnya tahu, bukan karena itu penyebabnya.

Hanya ada upacara kematian sederhana di rumah Vernon.
Ara masih tampak syok. Beberapa kali gadis itu tak sadarkan diri.
Semuanya berduka.
Dika mengurung diri di kamar dan terus menerus menangis.
Sementara Woody dan Gio duduk mematung tak berdaya. Josh berusaha menenangkan Joey yang juga tampak syok.
Sementara Vernon tak lelah untuk terus berada di sisi Ara. Memeluk gadis itu dengan lembut, mencoba menenangkannya. Meskipun ia tahu, hatinya juga hancur dengan kematian Habin dan Dino.



***

Ara duduk membisu di kursi kayu yang berada di kamar Vernon.
Lelaki itu menatapnya dengan tatapan pedih. Tak berdaya.

“Vernon ...” Ara membuka suara lirih.
“Hm,” dan lelaki itu hanya menjawab pendek. Suaranya serak.

“Aku tak punya siapa-siapa sekarang,” Ara kembali berujar tanpa menatap lelaki yang duduk tak jauh darinya. Suaranya luruh, tak bernyawa. “Aku tak punya siapa-siapa sekarang,” ia kembali mengulangi kalimatnya.
“Apa kau akan meninggalkanku?” Kali ini ia menoleh dan menatap langsung ke mata coklat Vernon.
Sementara yang ditatap hanya mampu membisu tanpa tahu harus menjawab.

“Jangan pergi ...” dan air mata Ara kembali menitik. “Jika kau pergi, aku tak tahu harus bagaimana lagi.” Bahunya terguncang. “Bisakah kau membawaku, huh? Aku tak peduli kemana kalian pergi. Bisakah kau membawaku, bersamamu?”

Vernon menggigit bibirnya. “Ara ..” suaranya tercekat. “Ini berbahaya. Nyawamu bisa terancam. Dan ...”
“Aku bahkan seperti orang mati sekarang,” perempuan itu terisak. “Jangan pergi, ku mohon. Jika kau harus pergi, bawalah aku bersamamu. Aku tidak bisa di sini sendiri. Tidak akan bisa  ...”

Kedua mata Vernon berkaca-kaca. Perlahan ia bangkit lalu beranjak. Dengan hati hancur ia berlutut di depan gadis yang tampak ringkih tersebut. Tangannya terulur, menyingkirkan untaian-untaian rambut dari wajahnya lalu menyelipkan ke belakang telinga.
“Ini takkan mudah, Ara ...” desisnya. Ia membelai pipi gadis itu dengan lembut. “Ini takkan mudah,” desisnya lagi.
Tapi sejauh apapun ia menolak, hatinya takkan bisa berbohong. Ia takkan bisa jauh dari Ara. Takkan bisa.

Lelaki itu menegakkan punggungnya, mendekatkan wajahnya ke arah Ara, lalu mengecup bibirnya. Lembut dan perlahan. Dan air matanya berjatuhan, tepat ketika ia merasakan Ara membalas ciuman bibirnya.

Dan ciuman itu seolah sebagai jawaban, bahwa ia akan membawa Ara bersamanya. Apapun yang terjadi.



***


Bersambung ....

Kamis, 12 Mei 2016

NEPHILIM #3




Ketika sadarkan diri, Ara menemukan dirinya berada di rumah Vernon dan saudara-saudaranya.
Keadaan ini persis sama seperti yang ia alami ketika ia pertama kali bertemu dengan mereka.
Ia yang duduk lemah di sebuah sofa, sementara pemuda-pemuda itu menatapnya dengan tatapan penuh selidik.

Dika duduk di kursi – yang seolah-olah menjadi kursi kebesarannya – dengan Dino yang berdiri dengan setia di sampingnya. Woody dan Gio duduk di kursi sebelahnya berdampingan. Sementara Joey dan Josh berdiri tak jauh darinya.
Dan Vernon, pemuda itu duduk di langkan jendela tanpa menatap ke arahnya.

“Oh, kau sudah sadar?” Dika menyapa.
Ara pucat, tak mampu menjawab.

Apa yang ia lihat di gang barusan jelaslah sesuatu yang berbeda. Jelas-jelas ia melihat Joey menghabisi seseorang dengan sebilah pedang. Begitu pula dengan apa yang dilakukan Woody dan Vernon. Mereka menembus dada seseorang dengan tangan kosong.
Dan apa yang terjadi dengan para korban? Mereka terbakar dan hangus menjadi abu.
Ini bukan sesuatu hal yang bisa dilakukan oleh manusia biasa.

Sesaat ketika limbung, ia sempat melihat Vernon melesat ke arahnya dan menangkap tubuhnya yang ambruk. Logika saja, pemuda itu berada sekitar 100 meter darinya. Bagaimana mungkin ia bisa berada di sisinya, menangkap tubuhnya, hanya dalam waktu hitungan detik?
Apa dia melesat begitu saja seperti cahaya? Berteleportasi?
Dia jelas-jelas bukan manusia biasa. Atau ... dia memang bukan?

“Siapa kalian?” suara Ara bergetar. Ia tak bisa meramal apa yang akan terjadi dengan dirinya. Bisa saja ini untuk yang terakhir kalinya ia bernafas. Tapi paling tidak, ia tahu sedang berhadapan dengan siapa – atau dengan apa.

Hening, tak ada jawaban.
Perlahan Dika tersenyum.
“Tenanglah, Ara. Kami tak akan menyakitimu. Kau aman di sini, jadi jangan takut,” ucapnya. Nada suaranya tak jauh berbeda dengan biasanya. Tapi tetap saja Ara ketakutan.

Gadi itu mencoba menatap mereka satu persatu secara acak.
“Aku melihatnya. Kalian menghabisi tiga orang laki-laki. Mereka terbakar dan hangus menjadi abu. Jadi ... siapa kalian?” Ia memberanikan diri bertanya.
“Kalian bukan manusia biasa. Aku sering melihat hal ini di film-film. Apa kalian punya kekuatan supranatural? Atau, kalian vampir, drakula, manusia serigala ...?”

“Nephilim.”

Jawaban itu meluncur dari mulut Vernon. Pemuda itu  menatap ke arah Ara, lalu ke arah Dika.
Yang lainnya balik menatap Vernon dengan tatapan protes.
Pemuda bermata coklat itu mendengus.
“Apa? Untuk apa menyembunyikannya? Tak ada untungnya ‘kan? Katakan saja sejujurnya pada dia dan biarkan dia memutuskan apa yang akan ia lakukan,” ia membela diri.

“Nephilim ... apa?” Ara bertanya bingung, kembali menatap mereka secara acak. Kecuali Dika dan Vernon, yang lainnya nampak gusar.
Hening sesaat.

Dan Dika lagi akhirnya yang menjawab. “Kau benar Ara. Kami bukan manusia. Kami makhluk abadi ---,” Ia melirik ke arah saudara-saudaranya yang lain. “Nephilim.”
Ara menelan ludah. Mendengar kata makhluk abadi, nyalinya makin ciut. Itu pasti sejenis vampir atau manusia serigala. Bagaimana ini? Apa mereka berbahaya? Apa mereka akan menghisap darahnya? Apa mereka akan membunuhnya? Ia berteriak panik di dalam hati.

Sesaat ia mendengar Dika terkekeh.
“Kami tidak sama dengan vampir ataupun manusia serigala. Kami tidak menghisap darah, tidak berbahaya. Dan yang jelas, kami tidak akan membunuhmu,” ucapnya.
Ara tercengang.
Lelaki ini membaca pikirannya!

Ketika ia bangkit dari kursinya dan berniat mendekati Ara, seketika tubuh gadis itu mengerut dan meringkuk di sofa. Ia tampak gemetar dan ketakutan. “Tenanglah,  Ara. Jangan takut.” Dika berusaha menenangkannya. “Nephilim adalah keturunan manusia dan malaikat. Kami tidak menyakiti manusia. Kami takkan menyakitimu, percayalah.”
Ara kembali menelan ludah.

“Lalu kenapa kalian bisa ada di sini?”
“Siklus.” Entah kenapa Dika seperti menjadi juru bicara di antara mereka. “Kami makhluk abadi. Kami hidup selama ratusan tahun. Dan hal yang tidak mungkin kalau kami tinggal hanya di satu tempat. Akan kelihatan mencolok kalau tetangga kami menua, sementara kami tidak. Jadi itulah yang kami lakukan, kami berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.”

“Apa itu artinya kalian menyembunyikan identitas kalian?” dan Ara kembali bertanya. Dika mengangguk. “Tidak akan ada makhluk abadi yang koar-koar tentang jati diri mereka. Atau orang akan berbondong-bondong melakukan penelitian pada kami dan menganggap kami alien.” Jawabnya seraya tertawa lirih.
“Jadi kalian hidup seperti manusia pada umumnya?”
“Tentu saja. Toh kami lahir dari manusia juga ‘kan? Bedanya kami abadi, dan manusia tidak. Itu saja,” kali ini Joey yang menjawab.
Ara menggigit bibirnya dengan was-was. Tubuhnya masih terlihat gemetar karena takut.

“Kami tidak jahat, Ara. Percayalah. Selama ini kami baik padamu ‘kan? Jika kami jahat, untuk apa Vernon harus repot-repot menyelamatkanmu ketika kau nyaris mati tertimpa pohon,” ucapan Joey membuat tatapan Ara singgah pada Vernon yang masih duduk santai di langkan jendela.
“Jadi benar ‘kan kau yang menyelamatkanku?” gadis itu berucap spontan.
Vernon hanya mengangkat bahu cuek tanpa membalas kembali tatapan Ara.

“Kami hanya ingin hidup normal dan berdampingan dengan manusia. Itu saja,” Dino menyela.
Manik mata Ara singgah ke arah Dika lagi.
“Jika kalian menyembunyikan identitas kalian, lalu bagaimana denganku? Bukankah secara tidak langsung aku telah mengetahui rahasia kalian? Apa kalian akan membungkamku? Menghabisiku?” ia bertanya dengan suara tercekat.
Dika tertawa.
“Tidak. Untuk apa kami harus menghabisimu? Jika kau memang tahu rahasia, ya tahu saja. Tak masalah buat kami,”
“Kalian tak takut kalau aku akan membocorkan identitas kalian pada orang lain?”
Pertanyaan Ara kembali melahirkan kekehan kecil pada Dika. Pemuda bijak itu menggeleng.
“Tidak. Kami tidak takut. Jika kau memang ingin membocorkan identitas kami, lakukan saja. Toh jika ada yang bertanya, kami akan terus menerus mengatakan bahwa kami manusia. Dan bisa dipastikan, mungkin kaulah yang akan berakhir di Rumah Sakit Jiwa karena dikira mengalami gangguan kejiwaan,”

Ara terdiam. Benar juga.
Jika ia koar-koar pada semua orang bahwa ada sekelompok Nephilim di samping rumahnya, apa dia akan dipercaya? Hah, bisa-bisa semua orang akan menganggapnya gila.

“Sekarang kau sudah tahu siapa kami yang sebenarnya. Kedepannya mungkin akan sedikit aneh. Tapi semoga kau tak keberatan untuk terus bersahabat dengan kami. Dan percayalah, kami tidak jahat.” Tatapan Dika tampak lembut.
Ara meremas-remas tangannya, gusar.
“Dino akan mengantarkanmu pulang. Adikmu pasti sudah khawatir padamu,”

Ingat akan Habin, serta merta Ara bangkit dari kursinya.
“Jadi, kalian akan membiarkanku pergi begitu saja? Kalian benar-benar takkan menyakitiku?”
Dika tersenyum. “Pulanglah,” ucapnya.

Dino melangkah mendekatinya. “Aku akan mengantarkanmu, kak.” Ucapnya ramah, seperti biasanya. “Dan tolong jangan larang aku bermain dengan Habin. Dia adik yang lucu buatku. Aku takkan menyakitinya, aku janji.” Lanjutnya.
Ara kembali menelan ludah, masih sedikit bingung. Namun ia sudah kembali ke akal sehatnya ketika kakinya beranjak, mendekati Vernon lalu berucap, “Terima kasih karena telah menyelamatkan nyawaku.”

***

Mengetahui bahwa sekarang ia bertetangga bahkan bersahabat dengan Nephilim memang agak canggung. Rasanya aneh.
Tapi tingkah pemuda-pemuda itu tak berubah sedikitpun.
Joey masih saja bersikap lembut padanya dan terus menempel pada Josh.
Woody dan Gio masih saja berkelakuan seperti anak TK yang kerap mendebatkan sesuatu tak penting. Sementara Vernon, dia masih saja seperti patung es berjalan!

Namun begitu, sikap protektif dan perhatiannya  juga tak luntur. Ia masih terus mencarikan kursi kosong di bis untuk dirinya. Ia masih berdiri dengan sukarela di sisinya, berjaga agar ia tidak terjatuh. Dan ketika Yuri dan teman-temannya berbuat buruk padanya, ia tak ragu pasang badan untuknya.
Ara bingung, kenapa dia bersikap seperti ini padanya?

“Ara, buatkan kami kue kacang lagi ya. Please,” Gio merangkul pundak Ara dengan tiba-tiba ketika mereka dalam perjalanan ke sekolah.
Ara menatapnya dengan penuh selidik.
“Kau yakin masih makan kue kacang? Apa kau mengunyahnya? Apa makanan itu masuk ke perutmu? Apa kau juga buang kotoran?” ia nyerocos. Pemuda jangkung itu tertawa.
“Kau pikir makanan yang kami makan larinya kemana?”
Ara bergidik. “Kau ‘kan bukan --- manusia,” ia menyebut kata ‘manusia’ dengan setengah berbisik.
Mingyu terkekeh lirih. “Kami seperti manusia. Kami makan, minum, buang kotoran, dan berdarah ketika tergores. Bedanya adalah, manusia menua, kami tidak. Kami abadi ,” Mingyu balas berbisik.

“Ah, pokoknya bikinkan kami kue kacang, oke?” Woody ikut nimbrung. Ia ikut merangkul pundak Ara hingga membuat Gio meradang.
“Pundaknya kecil, tak muat untuk empat tangan. Singkirkan tanganmu!” lelaki itu protes.
“Kau sudah merangkulnya dari tadi. Aku juga ingin merangkulnya. Ara temanku juga ‘kan?” Woody membalas.
Bibir Gio berdecih. “Kenapa kau selalu mengikuti apa yang kulakukan pada Ara?”
“Dan kenapa kau protes? Dia teman kita bersama ‘kan?”

Ara memutar bola matanya kesal. “Singkirkan tangan kalian,” keluhnya. Berusaha lepas dari dua pemuda yang menempel padanya.
Bukannya enyah, kedua pemuda tampan itu malah menggamit kedua tangan Ara, dari sisi kanan dan kiri, lalu mengangkat tubuhnya bersama-sama dengan entengnya. Gadis itu sempat menjerit.
Kelakuan mereka kontan saja membuat Vernon yang overprotectif berteriak heboh.
Bak seorang ibu yang tak terima anak bayinya di gendong oleh sembarang orang, ia mencak-mencak seketika.

“Hei! Turunkan dia!” teriaknya seraya menghadang langkah Gio dan Woody lalu menatap mereka dengan kesal. “Jangan bermain-main dengannya. Tangannya kecil. Bagaimana kalau kalian melukainya?” ujarnya was-was. Gio dan Woody hanya menyeringai lalu menurunkan tubuh Ara pelan-pelan.
“Kami hanya main-main, Vernon. Jangan terlalu cemas begitu,” ucapnya.
Vernon mendelik.
“Ara manusia biasa. Tubuhnya rentan. Tulang-tulangnya ringkih. Bagaimana kalau kalian mematahkan tangannya? Bagaimana kalau kalian mematahkan tulang rusuknya?” ia mendesis pelan.
Ganti Ara yang mendelik kesal.
“Vernon, please deh. I’m okay. Aku manusia, tapi kami tidak serentan itu. Kau pikir kami boneka yang hanya karena sekali sentuh, tulang-tulang kami langsung patah? Well, kalsiumku cukup,  dan walau tulang rusukku pernah cedera, tapi aku baik-baik saja. Jadi, jangan berlebihan. Oke?” protesnya.
Ia hanya tak mengerti kenapa Vernon begitu perhatian padanya. Bahkan memang terkadang terkesan ... berlebihan.

“Nanti sore aku akan membuatkan kue untuk kalian,” ucapnya seraya beranjak, mendahului ketiga pemuda tersebut.
Gio dan Woody nyaris mengulangi perbuatannya, mengangkat tubuh Ara, jika saja Vernon tidak segera memelototinya.

Sementara Josh dan Joey hanya menatap adegan itu sambil terkikik geli.
“Ku pikir mereka bertiga menyukai Ara,” ujar Joey.
“Ku pikir juga begitu. Lagi pula wajar saja, Ara gadis yang manis dan menyenangkan. Akan sulit bagi mereka untuk tidak menyukainya,” jawab Josh.
Mendengar jawaban itu, Joey menyipitkan matanya dan menatap Josh dengan sorot peringatan. Josh tergelak.
“Bagiku, kau tetap yang terbaik.” Jawabnya buru-buru.

***

Ara baru saja usai membuat kue kacang dan membersihkan dapur ketika tiba-tiba Vernon muncul di depan pintu dapurnya. Gadis itu nyaris menjerit kaget.
“Astaga, apa Nephilim tak tahu caranya mengetuk pintu?” jeritnya.
Vernon menggaruk kepalanya dengan canggung.
“Aku mengetuk pintu beberapa kali, tapi kau tak dengar.” Jawabnya.
Ara menarik nafas lega.
“Apa kau ingin mengambil kue kacang. Sudah matang. Atau kau mau kubuatkan minum dulu?” ia bertanya santai.
Vernon menggeleng.
“Aku ke sini untuk menjemputmu,”
“Menjemputku?”
Vernon mengangguk.
“Kenapa?” tanya Ara langsung.

“Habin menolak diantarkan pulang oleh Dino. Dia bilang dia ingin tidur di sana bersamanya. Lagipula besok hari libur ‘kan? Jadi Dika menyuruhku ke sini untuk mengajakmu tidur di sana sekalian. Tapi itupun kalau kau mau. Kami hanya berpikir mungkin kau akan kesepian di rumah sendirian. Jadi, kenapa tidak tidur di sana saja?” ucapnya.
Ara ternganga.
“Habin menolak pulang?!” ia nyaris berteriak. Dan Vernon hanya mengangguk lembut.
“Dan kalian menyuruhku tidur di sana? Di rumahmu?”
Vernon kembali mengangguk.
“Apa kalian sinting? Kalian bukan manusia. Bagaimana jika ... bagaimana jika ...”
“Sudah kami bilang ‘kan? Kami takkan menyakitimu.” jawab Vernon lagi.
“Lagipula, Habin senang sekali berada di sana. Kau juga paham ‘kan kalau anak itu kesepian? Berada di rumah kami, ia serasa punya banyak kakak laki-laki yang siap mangajaknya bermain dan bersenang-senang,” lanjutnya.
Ara terdiam.
Vernon benar. Habin bocah yang kesepian. Tinggal bersama dengan banyak orang yang memperhatikannya, tentu pengalaman tersendiri baginya.
Ia ingin membiarkan ia tidur di sana. Tapi, bagaiman jika Habin disakiti oleh makhluk-makhluk ini? Bagaimana jika ...

“Yang kau sebut ‘Makhluk ini’ adalah Nephilim. Dan kami tidak akan menyakiti Habin. Dia adik kecil kami. Tak mungkin kami melukainya,” Vernon memotong kesal.
Ara mendelik. “Apa semua Nephilim punya kemampuan untuk membaca pikiran?”
“Tidak juga. Aku, Dika dan Joey bisa. Yang lainnya belum,”

Ara terdiam sesaat.
“Kalau kau tak bersedia juga tak apa-apa. Tapi Habin takkan mau pulang. Jadi ...”
“Oke, aku ikut. Aku akan tidur di rumahmu.” Potong Ara cepat.

***

Ketika Ara sampai di rumah Vernon, Habin sedang bermain games dengan Dino di ruang tengah. Ia baru saja selesai makan malam. Bocah berusia 7 tahun itu tampak begitu senang dan gembira. Sudah lama Ara tidak menemukan ekspresi seperti itu di wajahnya. Dan entah mengapa, Ara merasa terharu.
Ia tahu Habin kesepian. Dan sekarang, ia seperti punya sebuah keluarga yang lengkap.

“Beberapa kamar kosong belum bisa ditempati. Jadi malam ini, kau bisa tidur di kamarku. Aku akan tidur di kamar Woody dan Gio.” Ucap Vernon. Ara mengangguk canggung.
Mendengar namanya di sebut, Woody dan Gio yang asyik ikut bermain games bangkit.
“Ara saja yang tidur bersama kami! Jangan kau!” Mereka protes hampir bersamaan.
Mendengar itu, Vernon melotot. “HEI!!” bentaknya.
Ara menatap mereka dengan perasaan tak enak.
“Begini saja, biar aku tidur bersama Dino dan Habin saja.” ucapnya. Menurutnya itu pilihan yang paling masuk akal. Toh mereka berdua masih anak-anak.
“Tidak!” Di luar dugaan, Vernon, Gio dan Woody berteriak nyaris bersamaan. Ara melongo.
Apa-apaan ini?

“Ara tidur di kamarku, aku akan tidur di kamar Dika. Titik.” Vernon berucap tegas seraya beranjak. Dika yang mendengar perdebatan mereka hanya tersenyum seraya menggeleng-geleng pelan.

Vernon baru saja sampai di anak tangga paling atas ketika tiba-tiba pintu terbuka dan terhempas dengan tiba-tiba. Seolah-olah sebuah angin besar mendorongnya begitu saja.
Merasa ada yang tidak beres, DK bangkit dari kursinya.
“Dino, ajak Habin ke kamar!” perintahnya.
Tanpa banyak tanya, Dino bangkit, lalu membujuk Habin yang masih asyik memegang stick games untuk masuk ke kamarnya. “Kita akan melanjutkan permainan ini di kamar, oke?” ajaknya. Habin sedikit bingung, tapi ia mengiyakan saja ajakan lelaki yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri itu.

“Ara, ikuti Dino!” Kali ini Dika berteriak pada Ara.
Belum sempat Ara mencerna apa yang terjadi, tatapannya terpaku pada pintu yang terbuka lebar.
Dua orang pemuda jangkung berwajah dingin melenggang dengan santai memasuki ruang tamu.
Dan seketika, salah satu mereka, yang bersorot mata tajam dan berambut panjang, menatap lurus ke arah dirinya.
“Manusia?” pemuda itu menggumam sinis tanpa mengalihkan pandangannya dari Ara.

Dan tiba-tiba saja ia melesat ke arah dirinya.

Ara tersentak, terbatuk dan nyaris tak bisa bernafas ketika merasakan jemari pria itu di lehernya. Mencengkeramnya.
“Ada manusia di sini?” Ia kembali berbisik sinis di telinganya.
“Singkirkan tanganmu darinya!” Vernon berteriak, menepis tangan lelaki  itu di leher Ara, lalu mendaratkan sebuah pukulan hebat padanya hingga sosok itu terhempas ke arah tembok.
Rekannya yang berdiri tak jauh darinya hanya menyeringai kejam. Merasa tak perlu memberi pertolongan.
Sementara Gio, Woody, Josh dan juga Joey juga sudah bersiap memberikan perlawanan.

“Jika kau berani menyentuh perempuan ini, walau sehelai rambut sekalipun, akan  ku musnahkan seluruh kaummu!” Vernon berteriak lantang. Ia menarik tubuh Ara agar berdiri tepat dibalik tubuhnya.
Sosok tamu itu tersenyum dan bangkit, tanpa rasa takut.

“Saudara-saudara, bisakah kita duduk dengan tenang dan berdiskusi dengan baik? Aku tak suka ada keributan di rumahku!” Dika bersuara.
Ia menatap kedua tamunya dengan tatapan waspada.
“Jun dan Hans. Apa yang membuat kalian jauh-jauh datang kemari dan mencoba mencari masalah dengan kami?” ia kembali bertanya.

Tamu yang bernama Jun dan Hans itu bergerak dan duduk di kursi tanpa dipersilahkan.
“Pertanggung jawaban,” Hans menjawab datar. Seraya menyilangkan kakinya dengan angkuh.
“Kita sudah sepakat untuk tidak saling mengganggu. Kenapa kau menghabisi tiga rekanku?” ia menatap langsung ke arah Vernon, Joey dan Woody.
Ara memilih bersembunyi di balik tubuh Vernon dengan wajah pucat.

“Mereka yang ingin membunuh kami terlebih dahulu. Kami hanya membela diri,” Gio menjawab.
Jun dan Hans terkekeh. “Kau pikir kami akan percaya dengan jawaban kalian? Kaum vampir tidak punya alasan untuk membunuh Nephilim. Kita sama-sama makhluk abadi, tapi beda jalur. Kita tidak saling bersinggungan satu sama lain,” jawab Jun angkuh.
“Kaummu memang tidak punya alasan untuk memburu kami. Tapi mereka punya. Malaikat-malaikat itu menyewa rekanmu untuk membunuh kami.” Vernon menjawab tegas.

Jun kembali tertawa.
“Untuk apa mereka harus repot-repot menyewa Vampir untuk memburu dan membunuh kalian? Toh mereka punya sepasukan malaikat yang siap membasmi kalian! Jangan tolol!” teriaknya.
“Mereka memang dapat menghabisi kami. Tapi mereka tidak cukup kuat untuk melacak keberadaan kami. Itulah kenapa mereka memanfaatkan kaummu. Tentunya dengan iming-iming tertentu. Dan aku yakin, hanya vampir labil yang terbujuk dengan iming-iming tersebut,” Dika angkat bicara.

Wajah Jun dan Hans makin dingin, tak bersahabat.
“Kami memang membunuh rekanmu. Tapi kami melakukannya hanya untuk membela diri. Kau boleh percaya, boleh juga tidak. Tak berpengaruh pada kami.” Vernon kembali berujar.
“Seperti yang sudah kau bilang, kaum kita tidak saling bersinggungan. Tapi kami tak segan-segan untuk memberikan perlawanan. Dan satu lagi,” suaranya bernada mengancam.
“Makhluk fana di sini adalah larangan bagi kalian. Jika kalian menyentuhnya, sedikit saja, berarti kalian mengibarkan bendera perang pada kami. Camkan itu!”

Kedua mata Ara mengerjap. Makhluk fana? Apakah yang dimaksud adalah ... dirinya?

Jun dan Hans terkekeh lagi.
“Well, sepertinya ini akan semakin menarik. Tapi kami tak bisa berjanji untuk tidak mendekatinya,” ia menatap lurus ke arah Ara. “Karena jujur saja, darahnya terlihat menggiurkan.” Ujar Jun.
Rahang Vernon menegang.
Lelaki itu nyaris saja mendaratkan pukulan di wajah vampir tersebut jika saja Joey tidak mencegahnya.

“Well, maaf telah mengganggu malam kalian. Semoga suatu saat nanti, kita bertemu lagi.” desis Hans. Dan kedua sosok itu melenggang keluar dari ruang tamu, lalu melesat begitu saja meninggalkan mereka. Pintu pun menutup dengan tiba-tiba.

Vernon berbalik dan menatap Ara yang nampak pucat. Ia memeriksa leher perempuan tersebut dan nampak ruam kemerahan di sana. “Kau tak apa-apa?” ia bertanya cemas.
Ara menelan ludah. Tak mampu menjawab. Wajahnya pucat pasi seperti mayat.
“Ajak di ke kamar. Ia terlihat syok,” Dika menyarankan.
Tanpa banyak bicara, Vernon mengangkat tubuh gadis tersebut lalu membawanya ke kamar.

***

Vernon menyodorkan segelas air putih ke arah Ara yang terduduk lemas di pinggir ranjang.
“Minumlah. Maaf karena kau harus mengalami peristiwa seperti ini. Kami tak bermaksud melibatkanmu. Kau tak apa-apa ‘kan?”

Ara meraih gelas dari tangan Vernon lalu meminum isinya pelan. Vernon mendampinginya dengan sabar hingga perempuan itu tampak lebih tenang.
“Mereka tadi ... Vampir?”
Vernon mengangguk.
Ara ternganga. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang ia alami.
Ia baru saja bertetangga dengan sekelompok Nephilim. Dan sekarang, Vampir nyaris merobek kerongkongannya. Kemana kehidupannya yang selama ini tenang dan damai? Ia merutuk dalam hati.

“Istirahatlah,” Vernon bangkit. “Aku akan tidur di kamar Dika. Jangan khawatir. Kami akan terus menjagamu. Mereka takkan datang lagi.” ia beranjak.
“Vernon ...” panggilan itu mengurungkan langkahnya. Ia berbalik dan tatapannya beradu dengan mata bening Ara.

“Aku takut.” Gadis itu seperti meratap. “Tapi aku lebih takut jika tak mengetahui apa yang sedang ku hadapi saat ini,” Ia terlihat putus asa.
“Kita teman ‘kan?”
Pertanyaan itu tak mampu dijawab oleh pemuda di hadapannya.
“Jika kau menganggapku teman, maka ceritakanlah apa yang tidak ku ketahui. Aku tak bisa menghadapi keterkejutan setiap hari. Beberapa waktu yang lalu aku dibuat syok ketika menyadari bahwa tetanggaku, teman-teman baruku adalah makhluk abadi bernama Nephilim. Dan hari, ini aku nyaris terbunuh oleh Vampir. Besok apa lagi? Kenapa malaikat mencarimu? Kenapa kalian harus diburu?” gadis itu tak tahan untuk tidak bertanya.

“Ku mohon Vernon. Secara tidak langsung kau sudah melibatkanku dalam duniamu. Dan aku ingin  tahu apa yang tidak ku ketahui,” pintanya.
Vernon mematung.
Pemuda itu menarik nafas panjang lalu menyeret kakinya dan duduk di sofa yang berada tak jauh dari tempat tidurnya.

Ia menegakkan punggungnya di bantalan tempat duduk tersebut seolah ada beban berat di sana. Ia terdiam sesaat seperti sedang mengatur kata-kata.
“Nephilim pindah dari satu tempat ke tempat lain bukan karena siklus. Bukan karena kami hobi travelling. Tapi kami melarikan diri. Kami adalah kaum yang sudah ditakdirkan untuk diburu, dikejar-kejar, seumur hidup kami.”
“Oleh siapa?”
“Malaikat.”

Kening Ara mengernyit.
“Malaikat? Bukankah Nephilim adalah keturunan malaikat dan manusia? Kenapa mereka harus memburu kalian?”
“Aib.” Jawaban Vernon terdengar berat. Seakan ia sendiri tak kuasa untuk mengucapkannya.
“Nephilim terlahir dari kesalahan malaikat yang menjalin cinta terlarang dengan manusia. Sesuatu hal yang seharusnya tidak boleh terjadi. Itulah kenapa mereka menganggap kami sebagi aib. Dan satu-satunya cara untuk menghilangkan aib tersebut, kami harus di habisi. Di musnahkan. Kaum nephilim bahkan tidak bisa diterima di surga ataupun neraka.” Suara pemuda itu seakan tercekat.  

“Kami menghabiskan waktu ratusan tahun kami dengan pindah dari satu tempat ke tempat lain demi menghindari kejaran mereka. Untungnya kami masih mempunyai kekuatan seperti makhluk abadi lainnya karena kami keturunan mereka. Sehingga kami bisa melakukan pertahanan diri jika ada dari mereka yang menyerang kami. Terkadang kami terlibat pertempuran, terkadang kami terdesak, terkadang ada yang mati,”

“Bukankah makhluk abadi tidak bisa mati?”
“Bisa, oleh sesama makhluk abadi lainnya. Dan kami benar-benar akan mati, musnah. Maksudku, kami tak punya jiwa yang akan pergi ke tempat lain. Selesai, begitu saja.” Jawab Vernon lagi.

Ara mendengar penuturan pria itu dengan trenyuh.
“Berapa tahun umurmu?” Ara memberanikan diri untuk bertanya lagi.
Vernon mengangkat bahu. “Entahlah. Mungkin ratusan tahun,” jawabnya.
“Dika yang paling tua di antara kami. Dia pulalah yang menemukan kami pertama kali. Dia menemukanku ketika aku terluka parah dan nyaris musnah. Lalu kami bertemu Joey dan Josh, kemudian si kembar Woody dan Gio, barulah kami bertemu Dino. Dino Nephilim baru. Itulah kenapa Dika memilih di rumah saja untuk menjaganya karena anak itu belum bisa menjaga dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk menimpanya,” lanjutnya.

“Lalu apa yang terjadi dengan orang tua kalian? Maksudku --- yang malaikat?”
Vernon kembali mengangkat bahu.
“Entahlah. Setahuku mereka menjadi makhluk ‘terbuang’, ada yang berakhir di neraka, ada juga yang berakhir menjadi iblis. Kami tak tahu, dan kami tak ingin tahu,” jawabnya lagi.

“Ada berapa banyak nephilim di dunia ini?”
Lagi-lagi pertanyaan itu dijawab Vernon dengan mengangkat bahu.
“Entah. Bisa jadi banyak. Bisa jadi para malaikat yang bertugas mengejar kami sudah menghabisinya.” Ucapnya lagi. Terdengar perih.

Ara mendengar penuturan Vernon dengan perasaan trenyuh, iba.
Ia membayangkan Vernon berkelana ratusan tahun dari satu tempat ke tempat lain, berjuang mempertahankan diri, sendirian, kesepian.  Tanpa tahu orang tua mereka. Tanpa tahu rasanya punya keluarga yang lengkap. Betapa mereka seolah menjadi makhluk terkutuk yang tidak diterima surga ataupun neraka.

Ara teringat dengan Gio dan Woody yang kangen dengan kue kacang buatan ibu mereka. Ah, itu pasti sudah ratusan yang lalu.
Ia juga teringat dengan Dino yang begitu bahagia bisa bertemu dan berteman dengan Habin.
Ia ingat bagaimana DK berusaha melindungi saudara-saudaranya.
Ia ingat bagaimana Vernon begitu over protectif pada dirinya?

Tanpa sadar air mata Ara menitik.

Oh, Vernon yang kasihan.
Mereka makhluk malang yang kasihan, kesepian, penuh perjuangan.
Apa mereka ingat wajah orang tua mereka? Apa mereka punya saudara kandung? Apa mereka pernah merasakan dekapan sayang seorang ayah? Seorang ibu? Keluarga?
Pasti tidak ‘kan?

Ara terisak.
Betapa ia ikut terluka mengetahui fakta tentang makhluk abadi di hadapannya.

“Kau tak perlu kasihan pada kami, Ara. Tak perlu,” desis Vernon lirih.
Air mata Ara berderaian.
“Maaf, aku hanya ... aku ...” Ia sesenggukan. Sibuk menghapus air matanya yang terus saja mengalir tanpa mampu ia bendung.

Vernon bangkit dan mendekati Ara dengan langkah berat. Pemuda itu duduk di sampingnya, mengulurkan tangannya lalu memeluk gadis itu dengan lembut.
“Kami baik-baik saja.” bisiknya. Ada kristal-kristal bening di sudut matanya. Bukti bahwa mereka, ia dan saudara-saudaranya takkan baik-baik saja.

Tidak.

***

Bersambung ...